Sunday, April 12, 2015

Abidin Traveler ke New Delhi (1)






Yeh duniya ek dulhan, dulhan ke mathe kee bindiya
Yeh mera india, i love my india

-- Pardes

Saya sering menyebut diri saya abidin traveler. Karena kebanyakan traveling yang saya lakukan memang atas biaya dinas alias abidin. Salah satu traveling yang juga juga abidin adalah ketika harus ke New Delhi, India.

Jujur saja, ini adalah tugas dari kantor yang membuat saya susah  tidur saking senangnya. Ke India? Semua yang kenal saya, tahu betul bahwa saya penggemar habis hindi movies alias bollywood. Walaupun dinas kali ini bukan Mumbai (markas besar Bollywood), tapi ke Delhi, tetap saja Indiahe.

Tadinya saya ingin extend. Biar saya merasakan juga traveling non abidin. Sekaligus menjelajah ke bagian tanah lain Hindustan yang saya impikan, seperti Simla, Kashmir ataupun Ladakh. Cuman, ya saya mesti menunda impian itu.  Karena ... ah sudahlah.

Kunjungan ke Delhi kali ini atas undangan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) India. Jadi segala itinerary dan urusan-urusan lainnya saya tidak terlalu bisa mengatur. Namanya juga dinas. Jadi yang saya lakukan hanyalah mengurus visa.


Visa India



Nah, ini mungkin bisa buat catatan bagi siapapun yang mau ke India. Ada beberapa cara untuk mendapatkan visa. Cara pertama adalah regular seperti biasa. Isi formulir, serahkan semua berkas yang diminta, jadwal wawancara dan beres.

Seorang teman yang berangkat dalam waktu dekatan ada yang menggunakan cara ini. Mengurus langsung. Tapi dia sempat bolak-balik karena kelengkapan. Terutama ukuran foto yang persegi itu. Cara ini memang membutuhkan waktu tapi paling murah karena bayar sesuai tarif yang ditentukan.

Cara lain melalui biro perjalanan. Memang enak sih. Ke sana datang tinggal finger print. Semua sudah diurus, dan tahu beres. Bahkan dibuatkan itinerary oleh mereka. Cuman yang ini saya anggap mahal. Bahkan lebih mahal ketimbang saya mengurus visa di Kedutaan Italia dan Jerman. Ini cocok buat yang pergi mepet dan tinggal jauh dari Jakarta seingga tidak harus bolak-balik.

Cara lain adalah Visa kedatangan.  Kita bisa isi formulir dan kelengkapan secara on-line. Cuman masuknya usahakan jangan di bandara-bandara kecil di India. Paling aman masuk dari New Delhi. Bisa ribet seperti kasus teman saya yang masuk lewat Hyderabad. Karena di imigrasinya nanti harus urusan lagi. Belum lagi kalo antrean panjang. Untuk biaya, antara harga mengurus sendiri dan lewat travel biro. Jadi ya, lewat travel biro masih paling mahal sih.

Terserah pilih sendiri ya. Kalo saya sih, karena di luar kota dan susah bolak-balik karena makan waktu, ya lewat travel biro. Walaupun muahhhaaaal! Tapi di kedutaan India pun nggak harus ngantri panjang sebelum diambil sidik jari dan nggak ditanya-tanya lagi, apakah di sana mau ketemu Salman Khan dan Varun Dhawan nggak?

Yang keren, saya tuh kan cuman minta visa buat lima hari eh dikasihnya dua bulan. Hebat nggak tuh? Kayaknya baru kali ini saya dikasih visa sampai selama itu. Sayangnya … nggak bisa dipakai selama itu.

Pesawat Kagak Nyambung … aaargggh!



Sekali lagi ini penting banget buat yang mau perjalanan ke luar negeri, dan semuanya diurus orang lain. Pastikan bahwa tiket pesawat kita kalo yang pakai transit segala adalah tiket connected alias terbung alias terbang nyambung.

Nah, kejadian ini sudah saya khawatirkan ketika check in di Bandara Soeta. Si petugas langsung bilang bahwa tiket saya nggak connected. What? Saya minta diuruskan buat connected bisa nggak. Jawabnya nggak bisa.

Akhirnya, yang terjadi seperti yang saya bayangkan. Begitu sampai Kuala Lumpur International Airport, saya harus check out dulu, abis bagasi, lalu check in lagi. Alhasil, kena dua kali over bagasi. Dan semua yang pernah ke KLIA pasti tahu kan di sana tuh nggak ada eskalator datar biar nggak capek-capek jalan sambil gerek bagasi.

Yang bikin nggak astik adalah, semua proses check in – out itu butuh waktu lama. Jadi saya nggak sempat cari ganjal perut. Masa sih makan tongsis? Jadi, sisa waktu yang ada dipakai buat mengendurkan urat betis.

Untunglah di penerbangan ke New Delhi ada film-film Bollywood yang saya belum nonton. Salah satunya adalah film Raam Lela yang dimainkan Deepika Padukone. Maka saya pun tak begitu merasakan lama perjalanan lima jam di udara menuju Hindustan dari Kuala Lumpur.

Narsis pertama di India, di Bandara New Delhi. (fptp: Benny)


Begitu tiba di New Delhi Indira Gandhi International Airport, saya masih percaya dan nggak percaya bisa menginjak tanah India. Mimpikah?  Saya mimpi ke India sejak kecil. Bahkan saya merasa orang India yang terperangkap di tubuh orang Indonesia. Jadi ini seperti perjalanan menuju kampung halaman.

Terima kasih, ya Allah. Terima kasih alam semesta.