Tuesday, April 14, 2015

Mengintip New Delhi World Book Fair 2015






Pembukaan New Delhi World Book Fair 2015. (foto: Benny)


Kantor menugaskan saya ke New Delhi, India, untuk mengikuti pameran buku yang diberi nama New Delhi World Book Fair (NDWBF) 2015. Seperti di banyak bidang, India memang layak dijadikan tempat belajar dan bercermin, termasuk soal buku. Bayangkan, ketika pecinta buku Indonesia gegap gempita karena menjadi guest of honour di Frankfurt Book Fair tahun ini, India sudah dua kali jadi tamu kehormatan di sana pada tahun 1986 dan 2006.

Pagi pertama di New Delhi, saya bangun terlampau dini. Selain karena tak bisa tidur saking senangnya bisa berada di India,  saya juga lupa mengatur waktu di arloji  jadi lebih awal 1,5 jam. Saya pun mencoba mengintip ke luar. Dan Brrrr … udara menjelang akhir musim dingin membuat saya kembali ke dalam wisma. Kurang lebih seperti udara dingin di Pangalengan atau Lembang, Jawa Barat.

Alhamdulillah, senang bisa diundang
di acara perbukuan bergengsi seperti ini. (foto: Benny)


Saya pun bersiap karena pagi ini ada jadwal mengunjungi pembukaan NDWBF. Asyiknya, pihak KBRI menyediakan menu sarapan nasi uduk ala Indonesia. Mengapa? Ternyata staf kedutaan menyadari bahwa tidak semua tamunya berselera dengan masakan India. Malah ada rumor, tamu-tamu dari Indonesia baru diberikan masakan India di hari terakhir. Biar kalau sakit perut sudah kembali ke Indonesia.

Gajah di  Jalan Raya

Saat keluar komplek KBRI saya melihat tata kota yang apik di kawasan Chanakyapuri. Kendati pohon-pohon rindang bertebaran, tapi saya tidak benar-benar melihat hijau seperti di Indonesia. Apakah tingkat polusi di New Delhi tinggi? Ternyata bukan itu. Menurut keterangan, letak New Delhi  yang dekat gurun menyebabkan debu gurun kerap terbawa bersama angin ke sekitar New Delhi.

Tak jauh dari gerbang KBRI kami melewati beberapa kantor kedutaan negara lainnya. Kedutaan Thailand terlihat lebih mentereng. Lalu mobil KBRI melewati pusat pemerintahan dan perkantoran militer. Semua tertata rapi. Di jalanan kami juga sempat melihat tupai, monyet dan anjing berkeliaran di jalan. Bahkan burung gagak dan elang berseliweran bebas di langit New Delhi lengkap dengan teriakannya.

Agak mengejutkan adalah ketika dekat stasiun metro, saya melihat gajah berjalan di tengah jalan raya. Walaupun saya pernah melihat hal seperti ini di film-film berbahasa Hindi, tetap saja takjub. Entah bagaimana jika ada gajah melenggang  di tengah Jalan Sudirman Jakarta.


Perjalanan menuju ke pamera buku. (foto: Benny)

Semakin menjauh dari KBRI, saya mulai melihat potret kehidupan masyarakat Delhi seperti yang sering dipajang di media cetak maupun internet, ketidakteraturan.  Sebanarnya hal-hal seperti itu juga ada di Indonesia. Cuman kuman di seberang lautan kerap lebih terlihat. Dan jauh di hati yang terdalam, saya juga ingin turun dari mobil, memotret lebih dekat masyarakat India di New Delhi. Tapi tidak memungkinkan.

Oh iya, satu kekhasan yang mungkin sudah diketahui banyak orang, jalanan di India selalu berisik oleh klakson. Begitu pula di New Delhi. Kabarnya, justru orang lebih suka diberi klakson sebagai penghormatan. Maklum, cara mengemudi di New Delhi bagi saya terbilang mengerikan. Lebih parah dari supir kopaja di Jakarta.


Shod Yatri

Dua pelajar India cuek selfie saat pembukaan.
(foto: Benny)
Akhirnya saya dan rombongan sampai di kawasan Pragati Maidan, area pameran semacam yang ada di Kemayoran Jakarta.  Bergegas kami ke lokasi pembukaan yang sesungguhnya tempat terbuka namun ditutupi parasut.  Matahari pagi musim dingin menghangat tamu-tamu dari jajaran kedutaan besar, pemerintah, masyarakat buku, serta pelajar dan mahasiswa yang jumlahnya ratusan.


Menteri  Sumber Daya Manusia Ms. Smriti Zubin Irani memberikan pidatonya tentang keberadaan NDWBF yang sudah 40 tahun berlangsung. “Itu atinya sudah melahirkan banyak penulis baru yang sebisa mungkin menulis banyak hal dengan baik,” katanya.

Menteri Irani juga menjelaskan rencananya meluncurkan program Shod Yatri dengan melibatkan anak-anak muda, penulis dan sejarahwan untuk melakukan perjalanan. “Mereka kemudian akan menulis hasil perjalanan, dan pemerintah akan menerbitkan bukunya,” kata Menteri Irani.

Penulis senior India Shri Narendra Kohli pada kesempatan berpidato mengatakan hal yang menarik menurut saya.  “Saya tidak cemas dengan orang-orang yang tidak bisa membaca karena Tuhan tidak menciptakan semua orang  bisa membaca. Saya lebih cemas dengan orang yang suka membaca tapi tidak bisa mengakses buku,” katanya. Karenanya Kohli berharap semua stasiun metro di Delhi terdapat kios buku.


Pada kesempatan acara pembukaan juga secara resmi diumumkan negara Republik Korea Selatan sebagai Focus Country dan Singapura sebagai Guest of Honour. Saya berharap suatu hari nanti Indonesia bisa menjadi salah satunya .

Berkarakter

Stand Indonesia, disukai pengunjung pameran. (Foto: Benny)

Usai acara pembukaan saya menuju ke stand Indonesia. Asal tahu saja, pada akhir pameran, stand Indonesia berhasil mendapat juara 3 terbaik kategori display khusus peserta negara asing. Bravo ya buat timnya Prof. Iwan  Pranoto dari Atase Pendidikan KBRI India.

Saya juga menjelajah semua stand di pameran yang jelas lebih luas dari pameran buku di Jakarta, sekalipun bersakala nasional. India berani mengklaim pameran bukunya merupakan yang terbesar di Asia. Ya iyalah jelas saja. Jumlah penerbit di India saja menurut informasi yang saya dapat ada 18.000 penerbit. Dan bukunya yang terbit lebih dari 100.000 judul per tahun.

Kebersihan dijaga sepanjang hall pameran.
(foto: Benny)

India juga memiliki pangsa pasar nomor tiga buku berbahasa Inggris di dunia. Itu sebabnya saya bisa menemukan dengan mudah novel-novel berbahasa Inggris dari penulis kelas dunia di pameran ini. Dan yang membuat saya langsung meneteskan liur adalah beberapa novel tebal dijual dengan harga sekitar Rp.5.000-an. Kalau tidak ingat kapasitas bagasi mungkin saya sudah memborong banyak.

Buku-buku baru pun di India terbilang murah. Hal tersebut disebabkan dengan oplah pertama mereka yang relatif besar, di atas 10.000 eksemplar. Bandingkan dengan di Indonesia yang standar cetak pertama 3.000 eksemplar.  Besarnya oplah cetak pertama bisa disebabkan banyak hal, diantaranya adalah jumlah penduduk India yang lebih dari 1,2 milyar jiwa dan minat baca yang tinggi.


Diskusi ilustrasi buku anak, juga menarik. (Foto: Benny)

Buku-buku anak India juga terlihat lebih variatif dengan adanya penerbit Amerik dan Eropa yang membuka cabang di India. Beberapa teman pernah mengatakan, kualitas ilustrasi buku anak di India jauh di bawah ilustrasi buku anak Indonesia. Kalau menurut saya, itu lebih disebabkan dengan selera visual di India. Walaupun terlihat agak kasar gaya ilustrasinya, tapi sebenarnya ilustrasi buku-buku anak India lebih berkarakter. Sehingga dengan mudah dikenali, buku anak-anak tersebut dari India.


Lapak buku di pinggir jalan diminati. (foto:Benny)
Asosiasi perbukuan di India juga tidak hanya satu seperti di Indonesia. Ada asosiasi khusus buku pendidikan, buku anak-anak, hingga buku akademik. Alhasil pengaturan kebijakan perbukuan dan kinerjanya lebih maksimal. Di Indonesia semua jenis buku bercampur di IKAPI. Ketika pengurus lebih dominan dari penerbit buku pelajaran, maka yang diurus ya hanya buku pelajaran. Terjadilah conflict of interest.

Secara garis besar saya menyukai kunjungan ke NDWBF 2015. Apalagi sepanjang hall tampak bersih, lebih bersih dari tempat pameran buku di Jakarta yang orang-orangnya kerap menilai orang India jorok.  Pengunjung juga padat. Bahkan di hari pertama yang belum dibuka untuk umum, dipenuhi undangan pelajar dari berbagai sekolah.

Kios-kios toko buku dekat kampus juga ramai.
(foto: Benny)
Selain buku cetak, industri buku digital di India pun mulai menggeliat. Apalagi dengan kehadiran negara Korea Selatan yang memiliki brand gadget paling laris di India, gempita buku digital semakin didukung pelaku industry.


Selain di pameran buku, saya juga sempat diajak ke tempat-tempat penjualan buku. Baik di mall maupun dekat universitas. Buku-buku yang dijual sangat menarik perhatian dengan harga yang murah. Saya jadi ingat ketika di Indonesia beberapa tahun lalu belum ada gadget, orang berjalan maupun nongkrong membawa majalah atau buku, bukan gadget. Di India, walaupun banyak yang menenteng gadget, yang menenteng buku pun masih ada.

^_^