Saturday, May 9, 2015

Amankah Anak-Anak Bermain di atas Rumput Sintetis?

Alun-alun Bandung dengan rumput sintetis. (foto: Benny)
Alun-alun kota Bandung telah diubah wajahnya menjadi lebih hijau oleh Walikota Ridwan Kamil. Banyak anak-anak senang bermain, berlarian atau sekadar duduk-duduk di atas rumput sintetis yang menyelimuti alun-alun. Saya jadi bertanya-tanya, amankah rumput sintetis itu untuk kesehatan anak-anak?

Lapangan rumput sintetis saat ini di bandung, bahkan di Indonesia, sudah bukan barang baru lagi. Beberapa lapangan futsal menghamparkan rumput sintetis ini menggantikan rumput hijau yang kian ditinggalkannya. Sekolah dan taman bermain pun kini banyak menggunakan rfumput sintetis. Alasan klasik, rumput asli lebih sulit perawatannya.

Belum ada penelitian khusus tentang pengaruh rumput sintetis untuk kesehatan, terutama untuk anak-anak yang biasanya rentan terhadap berbagai penyakit. Namun Amy Griffin, seorang pelatih sepakbola di Amerika Serikat mulai mempertanyakan pengaruh rumput sintetis itu ketika pada tahun 2009, dia mendapatkan seorang kipernya didiagnosa kanker.

Amy mengaku sudah menjadi pelatih selama 27 tahun. Selama limabelas tahun pertama, dia tidak pernah menemukan siswanya kena masalah, karena masih memakai rumput alami untuk berlatih sepakbola.  Terakhir dia mendata dan menemukan 38 siswa pemain sepakbola di Amerika Serikat yang didiagnosa kanker.  Umumnya menderita kanker darah seperti limfoma dan leukemia.

Amy sempat mengkhawatirkan bahan pembuat rumput sintetis dari serat sintetis dan lapisan ban – yang bias jadi mengandung berisi benzena, karbon hitam dan timah. Namun demikian, seluruh penlitian ilmiah menyebutkan bahan dasar rumput sintetis aman bagi keshatan.

Pada tahun 2013 dalam jurnal ilmiah Chemospheres,  yang menganalisa mulsa karet dan karet tikar, menyimpulkan bahwa, "Penggunaan ban karet daur ulang, terutama yang menargetkan area bermain dan fasilitas lainnya untuk anak-anak, harus menjadi perhatian."

Sebuah studi 2006 di  Norwegia  tentang menghirup, menelan dan kulit terpapar ruput sintetis di dalam ruangan mengidentifikasi, bahwa  menghirup senyawa dari rumput sintetis tidak akan menyebabkan "efek berbahaya akut" untuk kesehatan, tetapi itu "tidak mungkin ... untuk melakukan penilaian risiko kesehatan yang lengkap." Para peneliti juga menyimpulkan bahwa paparan oral untuk rumput sintetis tidak akan menyebabkan ancaman risiko kesehatan.

 Pada tahun 2013, seperti dikutip nbcnews.com,  studi lain berusaha untuk mengukur konsumsi, inhalasi dan paparan kulit risiko bagi pengguna, menetapkan bahwa risiko yang ada adalah  kecil. Tapi peneliti mengidentifikasi memimpin di rumput diuji, termasuk "konsentrasi besar" timbal dan kromium dalam satu sampel. "Sebagai bahan rumput degradasi dari pelapukan memimpin bisa dirilis, berpotensi mengekspos anak-anak," kata laporan itu.

Menurut Dr Joel Forman, profesor pediatri dan kedokteran pencegahan di New York Mt. Sinai Hospital, dalam semua studi ini, kesenjangan data membuat sulit untuk menarik kesimpulan perusahaan.

"Tak satu pun dari studi bersifat  jangka panjang. Mereka jarang melibatkan anak-anak yang sangat muda dan mereka hanya mencari konsentrasi bahan kimia dan membandingkannya dengan standar yang dianggap dapat diterima," kata Dr Forman. "Itu tidak benar-benar memperhitungkan efek subklinis, efek jangka panjang, perkembangan otak dan anak-anak."

Nah, bingung kan? Karena ternyata masih juga ada yang meragukan. Bahkan banyak kini keluarga di Amerika Serikat yang menganjurkan ank-anaknya bermain di lapangan alami. Bukan di rumput sintetis.

Saya sendiri terhadap anak saya belum benar-benar membiarkannya bermain lama-lama di lapangan rumput sintetis di alun-alun Bandung. Sekadar berjalan dan berfoto saja. Tapi, jauh di dalam lubuk hati saya, amat menginginkan lapangan rumput di alun-alun ini dibuat dari rumput alami, bukan sintetis.