Monday, May 25, 2015

Asal-Usul Air Minum Keran

Air minum publik di New Delhi. (Foto: Benny Rhamdani)


Saat di Bologna, Italia, saya sempat merasakan air minum publik di bawah Neptunus Fountain. Rasanya segar walau sedikit repot untuk meminumnya karena tak biasa. Ketika di New Delhi, saya melihat sejumlah keran air minum di beberapa area publik walaupun agak menyedihkan kondisinya.

Fountain drinking di Bologna Italia.
(Foto: Benny Rhamdani)
Air minum keran, khususnya untuk publik, di Indonesia jumlahnya belum telalu massal. Di Bandung misalnya, baru hadir tahun lalu di   di Taman Balai Kota, Jalan Wastukancana, Bandung, Jawa Barat. Berbeda dengan di negara-negara  Eropa dan Amerika Serikat yang giat membangun fasilitas air minum untuk masyarakat ini. Bisa jadi karena sejarahnya berasal dari Eropa.


Air minum keran dalam bahasa Inggris kerap disebut fountain drinking. Mengandung kata air mancur, karena di masa kejayaan Romawi, air mancur dijadikan sumber air bagi warganya. Mereka biasa mengambil air dengan ember di air mancur untuk kebutuhan sehari-hari.

Air mancur yang bisa diminum baru benar-benar dibuat pada April 1859 di London, Inggris, untuk mencegah penyebaran kolera karena air yang kotor. Pembangunan air mancur untuk diminum itu dibangun dengan dana dari para pengusaha yang peduli dengan kesehatan warga miskin.

Hingga tahun 1879, sekitar 800 air mancur untuk diminum berdiri hanya di London saja. Bahkan, belakangan air mancur juga dipakai untuk kepentingan minum sapi, kuda dan anjing.


Susasana pembukaan fountain drinking pertama.
(foto: Huffingtonpost)
Hanya beberapa bulan setelah diresmikan di London, air mancur untuk diminum juga didirikan di New York, Amerika serikat, tepatnya pada Juli 1859.

Pada abad 19 kampanye air minum public ini makin gencari dilakukan. Alasannya, selain menyediakan air minum yang bersih bagi warga kota, juga mencegah warga minum alkohol sepanjang hari.

Pada pergantian abad 20, ide untuk menyediakan cangkir logam permanen  agar warga bisa minum dengan baik pun muncul. Tapi tak lama kemudian dikritik karena khawatir malah menyebarkan penyakit. Pada tahun 1907 mulai muncul cangkir plastik untuk digunakan di air mancur untuk minum warga tersebut.

Sekitar tahun 1920, Amerika Serikat mulai memperkenalkan versi air minum keran. Jadi air keluar secara vertikal, sehingga memudahkan orang untuk meminumnya. Pengembangan air minum keras pun semakin berkembang seiring kemajuan teknologi.

 Keran air siap minum di Taman Balai Kota Bandung.
 (foto: Benny Rhamdani)
Pada tahun 1980 pernah terjadi penelitian tentang kualitas air air minum kelas sekolah-sekolah di AS. Hasilnya mengejutkan. Sejumlah contoh ditemukan fakta kandungan air yang tak baik bagi kesehatan. Sejalan dengan itu air minum plastik pun mulai masuk ke pasaran. Bahkan terjadi lonjakan besar-besaran mengonsumsi air minum dalam kemasan botol plastik. Ada sejumlah alasan untuk itu: Orang-orang berpikir air minum kemasan rasanya lebih baik, dan mereka tidak suka menghirup dari keran miring atau air mancur.


Kenyataan ini membuat banyak organisasi pecinta lingkungan balik melakukan kampanye untuk minum dari keran air minum. Mereka berpendapat konsumsi air kemasan adalah pemborosan. Beberapa instalasi air minum publik pun diperbaharui agar jauh lebih menarik dan strategis. Bahkan ada sebuah aplikasi yang membantu orang menemukan lokasi keran air minum untuk publik.


Di Indonesia, saya jamin masalah keran air minum bakal lebih pelik lagi. Selain masyarakatnya yang kadung tergantung dengan air minum kemasan botol plastik, hanya sedikit peran pemerintah yang mau mendorong diperbanyaknya keran-keran air minum. Apalagi yang mau membangun instlasi semenarik mungkin seperti di luar negeri.

^_^