Sunday, May 3, 2015

Begini Caranya Menjual Foto Traveling

Pasir Berbisik karya Barry Kusuma.



Paling enak memang hobi yang dibayar. Misalnya, hobi motret panorama sambil jalan-jalan. Tapi bagaimana ya cara menjual foto-foto hasil traveling? Untunglah saya  bisa mendapat tips langsung dari Barry Kusuma, seorang travel photographer papan atas di Indonesia, ketika datang ke acara Mister Aladin.

Yang dimaksud travel photography tak sebatas foto landscape alam dan makanan, melainkan  juga mencakup  budaya dan arsitektur yang menjadi satu kesatuan foto sehingga bisa bercerita tentang daerah tersebut.

Menurut Barry, dengan perkembangan teknologi serta hadirnya jenis kamera mirrorless, siapapun bisa jadi seorang travel photographer. Bahkan dengan manfaatkan social media, bisa dengan mudah menjual karya mereka. “Limabelas tahun lalu, seorang travel photographer menjual karyanya dengan membuat buku dan postcard,” jelas pria jebolan Universitas Trisaksi jurusan Ekonomi Pembangunan ini.

Barry Kusuma berbagi ilmu travel photography. (foto: Benny)
Meskipun mudah, bukan berarti gampang menjadi travel photographer. “Membutuhkan proses yang panjang, sama seperti bisnis lainnya. Awalnya, saya perlu modal sendiri untuk melakukan traveling,” kata Barry yang baru merasa stabil setelah melewati sepuluh tahun melewati proses.

Untuk yang baru berminat, Barry menyarankan untuk melengkapi kamera dengan lensa 7mm dan tele  100-300mm. “Perbanyak traveling untuk memperbanyak foto. Juallah foto jika minimal sudah mengunjungi 12 provinsi,” imbuhnya.

Mengapa minimal 12 provinsi? Karena biasanya pembeli menggunakan untuk kalender dan di kalender ada 12 bulan, jelas Barry.

Promosikan Karya Dulu

Hari gini, dengan kecanggihan Internet, menjual karya foto tak harus melalui agen. Seorang travel photographer bisa melakukan berbagai cara lewat internet.

“Buatlah  website pribadi untuk memuat karya yang dihasilkan,” pesan mantan redaktur majalah Tamasya ini.

Tentu ada tips khusus untuk memajang karya foto. Usahakan untuk meresize foto menjadi 700pixel. Simpan dalam photoshop  hingga kualitas 70%. Resize pula menjadi 72dpi dari ukuran 300dpi. Dan yang paling penting adalah memberi watermark. Mengapa watermark ini penting sekali?

“Agar konten yang kita pasang tidak mudah dicuri orang,” jelas Barry.

Barry juga menyarankan seorang travel photographer aktif di social media karena merupakan media promosi paling murah dan efektif. Khusus untuk di Twitter,  Barry memberi tips untuk promosi.

Social media paling efektif dan murah untuk promosi.


“Saat ngetwit jangan lupa mention account terkenal agar bertambah follower,” katanya. Barry juga menyarankan untuk menggunakan hastag tertentu yang dikenal pengguna social media.

Dan yang tak kalah keren dari Barry adalah, dia juga membuat blog untuk menuliskan catatan perjalanannya. Inilah yang mungkin sulit dilakukan fotografer. Maklum, terbiasa dengan hal-hal visual, giliran mengasah kemampuan menulis terabaikan.

Barry juga menyarankan agar travel photographer menyusun buku karena bisa mendorong nilai jual karyanya. Dan tentu saja yang paling tak boleh ditinggalkan adalah mengikuti lomba-lomba foto untuk mengasah keterampilan memotret.

Menjual Foto

Apakah dengan mempromosikan begitu kita bisa menjual  stok foto? Ya, tentu saja. Tapi jika ingin memasarakan lebih luas ke seluruh dunia, ada cara yang paling ampuh, yakni melalui agen stok foto professional.

Ada dua jenis agen stok foto, yakni macrostock dan microstock.  Contoh macrostock adalah Corbys, Getty Images, dan Alamy.

Sedangkan microstock contohnya adalah  Shutterstock, Fotolia, dan Istockphoto. Umumnya microstock menjual foto sangat murah dari 1 USD hingga 10 USD per foto.

“Jika ingin serius menjadi fotografer, hindari microstock karena rawan pembajakan,” Barry Mengingatkan.

Barry sendiri merupakan salah satu kontributor Getty Image dari Indonesia.  Hasilnya pun sudah bisa ia nikmati. Saat ini foto Barry sudah mencapai 3.200 foto yang kebanyakan tentang Indonesia.  Untuk setiap foto yang ‘terjual’, ia akan mendapat royalti.  Satu foto  berharga 150 sampai ribuan dolar. Royaltinya antara 30 sampai 40 persen per foto.

Hasilnya? Hanya dari Getty Images, setahun penjualan Barry  bisa membeli mobil.


Tentu saja penghasilannya bertambah dari  acara-acara workshop  di mana Barry kerap diminta sebagai pemateri. Termasuk di acara Kongkow Bareng Food & Travel Blogger di Kota Tua, Jakarta, 23 April lalu,   Saya merasa acara ini sangat bermanfaat untuk travel blogger seperti saya. Selama ini saya memanfaatkan alias menjual foto satu paket sama tulisan untuk surat kabar dan majalah nasional saja.

Selain informasi tentang travel photopraphy, acara ini juga memperkenalkan situs online booking travel baru yang berkantor pusat di Jakarta, MisterAladin.com. Situs ini menjual beragam pilihan hotel domestik dan internasional. Mister Aladin juga menyediakan berbagai travel deals yang amat menarik, mulai dari aktivitas tur, pemesanan tiket masuk, restoran, spa, hingga sewa mobil dengan diskon hingga 90%.

Buat travel photographer yang nggak mau ribet urus tiket dan segala macamnya karena keterbatasan waktu, cocok banget.

^_^