Wednesday, May 6, 2015

Dua Kuliner Juara Sehabis Jogging di Bandung



Minggu pagi sehabis jogging, tantangan terberat adalah mencari kuliner yang paling nendang. Begitulah yang saya rasakan sebagai warga Bandung. Berbagai tempat yang direkomendasikan di Internet kadang kurang pas di mulut saya.

Setelah berkelana ala pendekar kuliner, saya menyimpulkan ada dua jenis kuliner yang bertebaran, kuliner dengan bahan dasar beras dan non-beras. Yang berbahan dasar besar, orang Bandung suka menyantap lontong kari, bubur ayam, nasi kuning dan kupat tahu. Yang non beras banyak pilihan. Tapi ini dua kuliner yang mewakili beras dan non-beras.

Kupat Tahu Gempol




Kupat Tahu Gempol. (foto:Benny)
Keterlaluan kalau belum pernah mencicipi kupat tahu Gempol yang sohor ini. Dan memang saya sangat telat bertandang ke sana. Masa setelah lebih dari sepuluh tahun di Bandung baru ke sana bulan lalu. Padahal sudah berdiri sejak 1975.

Pernah sih melihat gerainya di beberapa tempat makan, tapi kurang asyik kalau nggak makan di tempat aslinya. Tapi tak palah, ketimbang yang seumur-umur di Bandung belum pernh mencicipinya.

Letak Kupat Tahu Gempol  tak jauh dari Gadung Sate. Lurus ke arah jalan Trunojoyo, lalu di persimpangan belok ke kiri, lalu jalan lurus sambil lihat sisi kiri. Tak sampai 100 meter akan bertemu Jalan Gempol, dan beloklah. Di pertigaan jalan nanti akan bertemu langsung Kupat Tahu Gempol.

Jalan di depannya agak sempit. Makannya paling aman kalau pakai kendaraan LGCG seperti Agya. Apalagi kalau parkir mepet-mepet di pinggir jalan. Kalau mau santai sih bisa aja parkir agak jauh sebelum belok Jalan Gempol.


Harus sabar antre. (foto: Benny)

Kupat tahu adalah makanan sarapan khas masyarakat Jawa Barat, dan bisa ditemukan di berbagai pelosok. Yang sohor biasanya jenis kupat tahu pdalarang dan Singaparna. Tapi kupat tahu Gempol ini juga sohor, malah sampai ke negeri jiran.

Biasanya yang beli memang bermobil. Harganya juga di atas rata-rata kupat tahu lainnya. Wajar aja sih, penampilannya beda. Pertama kupat (ketupat)nya pas, tidak terlalu padat tapi juga tidak terlalu lembut. Tahunya, jelas kualitas nomor satu karena diambil dari Cibuntu langsung yang memang ngetop. Kerupuknya juga beda dengan kupat tahu lainnya. Dan yang paling juara adalah kuahnya.

Porsi kupat tahu di sini juga terbilang pas, tidak terlalu bikin kekenyangan untuk ukuran saya. Tapi kalau kurang, silakan nambah.

Kupat Tahu Gempol buka sejak pukul enam pagi. Dan biasanya sudah ramai sejak buka. Terutama akhir pekan. Walaupun harus antre, nggak menyesal kok, karena terbayar dengan kelezatannya. Oh iya, karena tempat makannya terbatas, kebanyakan menyantap di mobil, ada juga yang lebih suka membungkusnya dan makan di rumah.


Cakwe Lie Tjay Tat


Kalo yang nggak mau sarapan berbahan dasar beras seperti kupat tahu, nasi kuning, bubur ayam dan lontong kari, ini ada pilihan yang oke. Namanya Cakwe Lie Tjay Tat. Biasanya saya mampir setelah jogging di GOR KONI Jalan Padjadjaran Bandung.

Letaknya persis berada di deretan kuliner belakang GOR.  Yang berjualan dan pembeli  mayoritas keturunan Tionghoa. Dari semua jajanan kuliner,  yang bikin saya  kepincut untuk mencicipi adalah Cakwe Lie Tjay Tat karena kedainya tampak penuh. Saya juga langsung meneteskan air liur ketika melihat pengunjung yang asyik menikmati cakwe.

Selain cakwe, ada beberapa menu pilihan seperti bubur ayam, kwetiaw, bakmi, dan hidangan khas chinese food. Cakwe Lie Tjay tat sangat terkenal di Bandung karena sudah berdiri sejak 1934 di Pasar Baru, Bandung. Tentunya yang mengelola saat ini keturunannya.


Adonan cakwe sebelum digoreng. (fOto: Benny)

Rasa cakwe begitu gurih saat digigit dan menyentuh lidah. Paling sedap adalah ketika dicocolkan ke sausnya yang kental. Pokoknya juara deh rasanya. Dibandingkan beberapa cakwe yang beredar di Bandung, saya suka yang ini. Apalagi jika baru diangkat dari penggorengan.

Sambil menunggu pesanan, kita bisa juga melihat kelihaian koki mengadon cakwe dan memasaknya lho.

Pakai Agya Biar Simple


Hal yang paling bikin ribeut cari makanan di Bandung sebenarnya adalah masalah parkir. Biasanya, tempat makan yang beken susah parkirnya. Mulai dari jalannya yang sempit sampai lahan parkir terbatas. Termasuk di kedua tempat di atas.

Mau nggak mau pilihan yang paling pas adalah mobil dengan dimensi kecil seperti Agya. Panjang Agya hanya 3,6 meter tidak terlalu membutuhkan panjang lahan parkir. Lebar pun hanya 1,6 meter, sehingga kalo melipir di sisi jalan nggak khawatir kesabet mobil lain yang melintas.

Dengan kabin yang relatif luas, bisa juga kalau dipakai buat makan bareng dua kuliner di atas. Terutama kalo kursi di tempat makan sudah penuh. Tentu saja bisa sambil mendengar lagu dari fitur audio-nya yang canggih. Asyik ga tuh?