Monday, May 11, 2015

Mencicipi Kelezatan Sambel Leunca Warnas Bu Imas




Rumah makan dengan sambal terkenal di Bandung terbilang banyak jumlahnya. Salah satunya adalah sambal leunca di Warung Nasi Bu Imas.  Tapi hati-hati ya buat cowok, jangan kebanyakan makan sambel leunca.

Siang itu saya menyusuri Jalan Oto Iskandar Dinata Bandung. Kawasan yang begitu akrab dengan masa kecil saya karena dulu saya sempat sekolah di SMPN 3, di Jalan Dewi sartika. Tiba-tiba saya ingin makan di warnas Bu Imas. Beloklah saya ke Jalan Balonggede.

Sejak pertigaan dekat komplek Assalam, deretan warung nasi dengan nama Bu Imas terpampang. Mungkin inilah warung nasi terpanjang yang ada di Bandung. Tapi saya memilih masuk ke warung nasi yang saya tahu secara historis adalah aslinya. Tepat dibelokan ke Jalan Pungkur.

Setelah parkir saya masuk ke warung nasi yang tampak bersahaja. Tapi jauh lebih bagus dari yang saya ingat dulu, ketika saya sering makan di sini. Ya, sekitar awal 1990-an ketika termional bis dari Jakarta masih di Kebon Kelapa, saya kerap makan di sini. Karena posisinya dekat dengan tempat ngetem angkot ke arah Dago.



Dulu, bisa sampai Bandung lebih dari pukul 10 malam, keadaan sudah teramat sepi. Dan angkot-angkot ini baru mau berangkat kalo penumpang penuh. Tentu tak sebntar. Ketimbang nangkring di dalam angkot, mendingan ngisi perut dulu di warung nasi.

Yang tidak berubah di warnas Bu Imas adalah cara penyajian hidangannya. Semua lauk pauk di deretkan di meja panjang. Kita tinggal comot setelah mendapat sepiring nasi. Bagi yang menginginkan lauk dalam keadaan hangat, silakan minta digoerng ulang.

Ada satu menu yang saya suka di warnas Bu Imas, yakni sambel leunca. Dulu, rasanya hanya makan dengan sambel leunca dan tempe pun sudah lahap. Hahaha, itu karena dulu masih mahasiswa. Sekarang, pakai lauk pauk dong.

Dan favorit saya adalah ayam bakar. Karena ayam bakar Bu Imas juga terkenal karena gurih dan manisnya bercampur menjadi satu rasa yang khas. Belum lagi aroma pembakaran yang bikin air liur menetes.

Satu kekhasan yang menjadikan kekhasan warung nasi Bu Imas sebagai rumah makan Sunda, tentu saja tersedianya aneka lalaban. Dulu saya paling suka kol. Tapi karena sekarang tidak cocok dengan lambung, saya biasanya memilih daun-daunan seperti selada air.




Makan dengan sambel lunca warnas Bu Imas dijamin akan bikin lupa segalanya. Selain pedasnya, juga rasanya yang membuat mulut kita benar-benar terbakar kelezatan.

Sekadar informasi tambahan, leunca atau Solanum Nigrum L telah digunakan sebagai obat-obatan sejak 2.000 tahun lalu. Di Meksiko kerap digunakan sebagai obat pusing. Di Tiongkok dipakai untuk mengobati radang ginjal dan kandung kencing, juga antidiare.  beberapa studi ilmiah menunjukkan, leunca memiliki aktivitas anti ulserogenik yang berhubungan dengan lambung, sistem saraf pusat, dan sebagai agen anti neoplastik serta memiliki peran sitoprotektif melawan kerusakan sel ginjal. Khasiat lain dari terong kecil yang sering dilalap ini adalah sebagai zat anti rematik.

Ssst, ini mungkin yang perlu diketahui oleh kaum Adam. Tanaman keluarga Solanaceae mengandung senyawa yang dapat meningkatkan aliran darah ke penis, sehingga dapat meningkatkan ereksi. Senyawa yang dikandung hampir semua jenis terong-terongan dapat meningkatkan sirkulasi darah. Namun di sisi lain, beberapa hasil penelitian menunjukkan efek negatif tanaman leunca yang dapat menurunkan jumlah sperma, sehingga mengganggu kesuburan.
Hmm, apapun yang kebanyakan memang nggak baik kok.

(foto: Benny Rhamdani)