Monday, May 25, 2015

Menginap di Grand Mercure Hotel Jakarta






Kali ini saya ingin bercerita pengalaman menginap empat malam di Grand Mercure Hotel Jakarta. Tepatnya di kawasan Jalan Hayam Wuruk,  di seberang Gajah Mada Plaza. Kebayangkan seperti apa ramai dan panasnya area ini, kan?

Saat menuju hotel ini dari Bandung, saya sempat salah alamat menuju Mercure Hotel lainnya yang terletak di jalan yang sama. Mengapa saya pikir di tempat yang salah itu, karena hotel itu terletak dekat hotel Novotel yang saya tempati sebelumnya dan kebtulan satu group.

Beruntung kali ini saya mendapat room untuk sendirian. Bukan apa-apa sih, saya punya beberapa pekerjaan kantor yang harus saya urus, di luar workshop yang saya sambangi. Perlu sedikit ketenangan di malam hari, dan istirahat cukup agar paginya bisa fresh.

Saya suka interior kamar yang modern, tapi kurang suka dengan pemandangan ke luar jendelanya. Eh, ketika senja dan fajar, ternyata lumayan indah juga pemandangannya. Indah buat difoto pemandangan langitnya.

Sementara itu kamar mandinya seperti kebanyakan room hotel  kelompok Mercure, bersekat kaca yang tembus pandang dari tempat tidur. Kalau ada orang jelas harus ditutup tirainya. Sebenarnya untuk kualitas air, saya kurang begitu suka. Karena kadang tercium aroma yang kurang saya suka. Entah aroma apa.

Seperti kebanyakan hotel modern juga, kartu kunci ke kamar juga berfungsi sebagai akses lift. Jadi agak repot juga kalau ada tamu yang ingin mampir ke kamar. Harus dijemput  di lobi. Tapi untunglah tamunya nggak ada selain teman-teman workshop yang berbeda lantai.

Hal yang saya suka di hotel ini adalah liftnya yang memiliki pembatas cermin yang refleksinya bikin keren kalau selfie. Hahaha, dasar narsis.

Di kamar, koneksi wifi nggak bisa dibilang baik. Saya harus mencari titik tertentu untuk mendapat koneksi via wifi hotel. Tapi memang begitu sih di kebanyakan hotel Jakarta.

Hal paling saya suka adalah restonya yang makanannya lumayan variatif, terutama saat sarapan. Saya paling suka minum jamu yang kebetulan disediakan bersama mbok ayu. Fit rasanya setiap pagi minum seduham jamu tradisional kunyit.

Sedangkan untuk makan malam dan makan siang, kalau bosan saya bisa jalan ke luar hotel karena begitu banyak tempat makan di sekitar hotel. Mau kelas kaki lima sampai restorang tersedia. Mau masakan Eropa sampai oriental ada. Yang penting punya uang.

Maklum deh, kawasannhya memang area bisnis dan niaga. Jadi selalu ramai. Berbeda dengan saat saya menginap di Mercure di Sanur, Bali. Keluar kamar langsung ketemu alam nan asri dan udara segar. Tapi agak jauh untuk beli ini-itu.


Asiknya, kalau mau jalan-jalan ada halte busway di depan hotel. Saya sempat kabur sejenak ke Mangga Dua untuk beli oleh-oleh buat isteri tercinta.


Secara garis besar, kalau untuk tinggal 1-2 hari sih saya merasa betah tinggal di sini. Srvicenya sesuai dengan harga dan standar kelasnya. Tapi kalau sampai lebih, dengan view yang agak membosankan, mungkin sebaiknya ganti kamar atau pindah hotel. Apalagi saya cenderung tidak betah tinggal di hotel yang sekitarnya tidak memiliki tempat bersantai dengan udara segar.