Sunday, May 24, 2015

Misteri Arca Bule di Museum Semarajaya Klungkung




Pagi itu saya diantar sahabat saya Made Parwita Yasa, warga Klungkung, Bali, menyambangi Taman Gili Kerta Gosa dan Museum Semarajaya yang merupakan obyek wisata andalan kabupaten Klungkung. Selain terpana melihat lukisan tradisional Bali bergaya Kamasan di langit-langit, saya juga kaget melihat arca bule di dalam museum.

Saya masuk ke Taman Gili Kerta Gosa atau yang lebih terkenal dengan nama Kerta Gosa saja melalui gerbang kecil  di seberang Pasar Klungkung. Taman yang dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung yaitu Ida I Dewa Agung Jambe ini langsung terlihat begitu saya masuk. Tampak anggun dan asri.




Kerta Gosa adalah sebuah bangunan terbuka (bale) yang secara resmi merupakan bagian dari kompleks Puri Semarapura.  Lokasinya kisaran 40 km ke arah timur dari Kota Denpasar,  dan sangat mudah ditemukan, karena terletak di tengah Kota Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung.

Malam sebelumnya saya pernah masuk ke Kompleks Keraton Semarapura.  Rupanya Kerta Gosa adalah bagian dari keraton.  Namun  lepas Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908 di mana raja terakhir Kerajaan Klungkung Raja Ida I Dewa Agung Putra Jambe dan pengikutnya gugur, bangunan inti Keraton Semarapura dihancurkan dan dijadikan pemukiman penduduk, menyisakan Kerta Gosa, Bale Kambang dengan Taman Gili, dan Gapura Keraton.

Kejadian puputan sendiri diabadikan dalam Monumen Puputan Klungkung yang terletak di seberang Kerta Gosa.

Terdapat dua bangunan di Kerta Gosa , yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Keduanya punya  ciri arsitektur tradisional Bali yang sangat kental. Keunikan dari kedua bangunan ini adalah di langit-langitnya yang dihiasi lukisan tradisional Bali gaya Kamasan. Semula lukisan ini terbuat dari kain dan parba.

Lukisan wayang kamsan di langit-langit bale Kertagosa.
Dulu, fungsi Bale Kerta Gosa adalah sebagai tempat pengadilan tradisional yang dipimpin oleh raja sebagai hakim tertinggi. Fungsi ini sangat terkait dengan kisah yang ditampilkan pada lukisan di langit-langit bangunan, yaitu kisah Tantri dari kitab Swargarokanaparwa, serta kisah Bima Swarga yan bertema hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan manusia).

Dapat dikatakan bahwa lukisan di langit-langit bangunan Kerta Gosa memuat nilai-nilai pendidikan kerohanian berupa hukum sebab-akibat dari perbuatan manusia. Ketika kerajaan Klungkung ditaklukan oleh Belanda, Kerta Gosa masih digunakan sebagai balai sidang pengadilan.

Saya masih bisa melihat  kursi dan meja dari kayu berukir yang digunakan untuk pengadilan adat tradisional di masa lalu.

Setelah puas melihat Bale Kerta Gosa, saya berjalan menuju Bale Kambang yang terletak di tengah-tengah kolam teratai yang disebut Taman Gili. Secara sekilas saya lihat Bale Kambang seperti mengambang di atas permukaan air.

Fungsi bale ini adalah  sebagai tempat ritual keagamaan Manusa Yadnya (upacara kehidupan) bagi putra-putri raja, misalnya upacara mepandes (upacara potong gigi) bagi putra-putri raja yang memasuki usia akil balik.

Lukisan-lukisan yang terdapat di langit-langit Bale Kambang mengambil tema dari kisah Ramayana dan Sutasoma. Di sepanjang dinding jembatan menuju Bale Kambang terdapat patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh dari kisah pada lukisan di langit-langit.

 Arca Bule


Museum Semarajaya, Klungkung, Bali.


Dari berbagai ulasan tentang  Taman Gili Kerta Gosa, jarang sekali bahwa di lokasi yang sama juga terdapat sebuah museum daerah. Namanya Museum Semarajaya.

Bli Made mengatakan,  Museum Semarajaya dibangun pada Gedung Bekas Sekolah MULO (Sekolah Menengah Jaman Belanda) dan bekas SMPN I Klungkung yang terletak dalam komplek Kertha Gosa dan Pemedal Agung (pintu bekas kerajaan Klungkung), tepatnya di Jalan Untung Surapati, Klungkung. Nah, Bli Made yang mengatar saya ini adalah lulusan sekolah tersebut.


Di dalam museum yang diresmikan pada 28 April 1992 ini  dipamerkan barang-barang dari jaman prasejarah sampai benda-benda yang dipergunakan selama perang puputan Klungkung. Dalam Museum ini dapat dilihat barang-barang yang dipergunakan sebagai perlengkapan upacara adat oleh raja-raja Klungkung serta foto-foto dokumentasi keturunan raja-raja di Klungkung.

Arca yang beda dengan yang pernah saya lihat.

Satu yang membuat saya merasa takjub adalah terdapat koleksi arca yang tidak lazim, yakni menyerupai orang eropa. Patungnya berhidung mancung dan memakai topi tinggi. Sayangnya saya tidak mendapatkan informasi  yang lengkap dari sahabat saya ihwal keberadaan arca tersebut. Namun kemungkinan besar arca tersebut dibuat ketika masa terjadinya puputan.

Sesampainya di rumah dan mencoba browsing untuk mencari tahu ihwal arca bule itu, saya tidak berhasil mendapatkan info apapun. Jadi buat saya, arca itu masih misterius.

Foto-foto: Benny Rhamdani