Tuesday, May 19, 2015

Pengusaha Turbin Ini Juga Sukses Mengangkat Bandrek dan Bajigur


Bajigur dan bandrek kemasan instan pun diliriknya. (foto: dokpri)


Sosoknya bersahaja dan kental dengan dialek Sunda saat bicara. Saya terlebih dahulu mengenalnya sebagai sosok pengusaha turbin yang produknya sudah mencapai mancanegara. Belakangan saya kemudian tahu bahwa pria ini juga pengusaha bandrek kemasan. Yang satu banyak melibatkan tenaga pria, satunya lagi malah didominasi pekerja wanita.

Saat pertama bertemu langsung dengan mantan dosen ini di pabriknya di kawasan Cihanjuang, Cimahi, Jawa Barat, saya nyaris tak menyangka pria kelahiran Sumedang 2 Oktober 1958 ini adalah pengusaha turbin yang terkenal di banyak negara dan memiliki banyak prestasi. Begitu sederhananya. Bahkan ketika saya bertemu kedua kali karena mengundangnya ke kantor untuk berbagi cerita, tampilannya tetap sederahana, walaupun kendaraannya tidak sederhana.

Sebab itulah saya merasa santai ketika berbincang dengan peraih penghargaan ASEAN Hydro Award 2004 ini. Dan yang menarik, sukses di bisnis turbin air tak menghalangi niatnya untuk terjun ke bisnis bubuk minuman dalam kemasan, dengan mengangkat jenis minuman Jawa Barat yang terkenal, yakni bandrek dan bajigur.

Eddy Permadi menceritakan ihwal titik balik menuju suksesnya justru dari kegagalannya dalam usaha pupuk tablet. “Waktu itu kebijakan pemerintah kurang menguntungkan produk saya dengan mengelompokkan ke dalam pupuk industri, sehingga harganya jadi mahal,” ungkap peraih Kalapataru tahun 2005 ini.

 Kegagalan usahanya pada 1995 itu mendorongnya menjajal bisnis sesuai latar belakangnya sebagai lulusan Jurusan Mesin PMS ITB dan universitas di Stutgart, Jerman, yakni bisnis turbin.

Eddy Permadi, dari Turbin ke Bajigur. (dokpri)
Ia teringat tanah tercinta ini  yang memiliki sumber air berlimpah.  Proyek pertamanya perbaikan turbin asal Jerman untuk perkebunan teh di Bandung berkapasitas 200 ribu watt.  Kemudian, Eddy mendapat order pemasangan turbin di Sulawesi.  Selanjutnya, setiap tahun ia mendapat 4-5 proyek turbin. Kala itu karyawannya mencapai 20-30 orang. Adapun lokasi workshop-nya di Cihanjuang awalnya hanya seluas 800 m2, kini mencapai 1.200 m2.

Keberhasilan Eddy di bisnis turbin boleh dibilang karena karyanya  tak sulit dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat. Ia juga mampu membuat turbin yang kecil ataupun besar, yang menghasilkan daya listik sekitar 100 watt hingga 200 ribu watt (200 kw). Turbin itu pun dapat dipasang di daerah dengan ketinggian air yang rendah (2 meter), hingga untuk air terjun.

Sukses di bisnis turbin, Eddy  mulai memikirkan bisnis lainnya.Pada tahun  2005 ia merintis bisnis minuman kemasan instan bandrek. “Awalnya banyak orang menyangsikan kemampuan saya soal ekonomi rakyat karena pendidikan saya. Dari situ saya buat alat pengolahan pascapanen seperti pengering, pemotong hingga gerinda,” ia menuturkan.

Merasa sayang peralatan produksinya tak difungsikan, ia pun mengembangkan ide menjual kopi yang sudah ditambah gula dalam kemasan. Namun belakangan ide ini ia urungkan karena tak sesuai dengan konsep bisnisnya, yaitu kalau ingin mulai berwirausaha jangan mulai dari wilayah yang sudah banyak digarap orang lain. Dan, tiba-tiba ia terbersit untuk membuat bandrek pakai kopi. Ia meyakini kombinasi minuman itu tak ada di pasaran.

Eddy memberdayakan  tenaga kerja empat orang. Itu pun dari orang dalam sendiri. Selanjutnya, mereka belajar tentang perizinan, kemasan dan distribusi produk ke warung. Dalam setahun pertama, respons pasar terhadap bandrek yang bermerek Hanjuang itu sangat jelek.

Pada tahun kedua Eddy melakukan evaluasi.  Dia mencoba mengubah jalur dari produk warungan menjadi eksklusif dengan cara masuk ke toko oleh-oleh dan factory outlet.  Desain kemasan pun diubah lebih dinamis. Warna pun dibuat bervariasi dan lebih terang. Bisnisnya pun meningkat.Dia juga mendapatkan informasi, banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengeluh tidak kuat minum kopi. Lalu akhirnya Eddy membuat jenis produk baru yaitu bandrek tanpa kopi dengan kemasan baru.

Karyawan pun bertambah dari empat orang. Setelah melihat permintaan yang meningkat, di tahun kedua Eddy merilis item baru seperti Bajigur Hanjuang. Di tahun ketiga, perusahaan mulai membuat sekoteng dan minuman energi atau bandrek khusus dewasa yaitu Bandrek Spesial. Dalam produk ini ada kandungan ginseng dan buah pinang. Lalu muncul selanjutnya Teh Bandrek, Coklat Bandrek, Beras Cikur.

Selain melibatkan tenaga kerja dari lingkungan pabriknya, Eddy juga  menjalin kerja sama dengan perajin gula aren di kawasan Gunung Halimun. Mengenai kiat keberhasilannya, Eddy mengatakan,
”Yang penting berani berbeda.”