Thursday, May 28, 2015

Serunya Nyebur di Pantai Sanur


Saya sengaja bangun pagi dan langsung menuju ke pantai  setelah shalat subuh. Suasana sepi karena saya yakin banyak penghuni resort dan hotel yang masih terlelap. Buat saya, sayang sekali menyia-nyiakan pemandanganindah pagi di Pantasi Sanur Bali.

Berjalan di atas pasir sepanjang pesisir pantai sambil menunggu matahari tersenyum merupakan seni tersendiri. Udara segar membersihkan paru-paru yang disesaki polusi udara kota.

Sebenarnya,  pantai ini  dikenal lebih dulu  dibandingkan Kuta. Keasrian, ketenangan dan panorama matahari terbit menjadi incaran turis yang mendambakan ketenangan. Umumnya wisatawan yang datang ke pantai ini untuk mencari alternatif pantai lain setelah Kuta yang dipenuhi hiruk-pikuk para wisatawan mancanegara dan domestik.

Beberapa teman yang menyukai pantai Kuta malah sempat bilang ke saya,” Pantai Sanur itu cocok buat yang sudah pensiun.” Well, meskipun saya bukan pensiunan, tapi saya menikmatinya.

Panjang pantai ini sekitar  tiga kilometer dengan garis pantai menghadap ke timur. Pantai Sanur terkenal dengan pasirnya yang berwarna putih bersih dan lembut. Sanur juga terkenal dengan desa-desa yang masih tercium aroma tradisionalnya, ada juga pasar tradisional, dan pasar seni yang menjual aneka pernak-pernik khas Bali.

Karena ombak pantai ini sangat tenang, maka pantai ini tidak cocok untuk olahraga surfing. Tapi pantai ini menyediakan permainan pantai di Bali yang lain, seperti seawalker Bali, scuba diving dan snorkeling. Buat seorang pemula dalam olah raga menyelam, pantai ini sangat cocok untuk, karena arus laut sangat tenang.


Seperti yang saya lihat di perjalanan menuju tempat saya menginap di Mercure Resort, pantai ini memiliki banyak hotel, bungalow dan  penginapan.  Beberapa hotel di sini kabarnya sudah dibangun sejak tahun 1940. Oh iya, Jarak tempuh dari airport Ngurah Rai 16 kilometer , dan waktu yang saya tempuh  kurang dari setengah jam karena arus lalu lintas sedang lancar.

Sejak tahun 2005 lalu, digelar  Sanur Village Festival setiap tahun, dalam rangka mengenalkan keanekaragaman pariwisata Sanur kepada para turis lokal maupun mancanegara. Festival  lainnya adalah International Kite Festival yang diadakan setiap bulan Juli.

Tak terasa sambil menapaki pasir pantai, fajar pun hadir menyemburat kemerahan. Saya melihat sejumlah perempuan mengais pasir dengan semacam garu kayu. Mereka membersihkan  pasir pantai dari kotoran, menutup kotoran anjing jalanan, dengan penuh semangat.



Saya juga melihat seorang nelayan yang mengambil jukung, mendorong sendiri ke luat, kemudian bersapa dengan seorang teman yang justru baru selesai melaut. Betapa menyenangkannya melihat keramahan mereka.


Tak lama matahari mulai muncul sedikit demi sedikit. Sangat indah. Lalu, beberapa turis anak-anak dan dewasa terlihat berlarian ke pantai, mengambil foto buru-buru karena takut kehilangan momen. Setelah matahari mulai tampak jelas, mereka langsung nyebur ke air laut bersama-sama. Begitu asiknya.

Pantai Sanur memang  sangat cocok untuk liburan anak-anak karena dapat berenang di arus laut yang tenang dan juga tidak dalam. Selain itu anak-anak anda dapat melakukan permainan bola di pasir putih.

Sejarah Pantai Sanur



Sejarah pantai Sanur, pantai ini mulai diperkenalkan pada tahun 1937 oleh seniman asal negara Belgia, yang bernama A.J. Le Mayeur, seniman ini memiliki istri orang Bali yang bernama Ni Polok. Cara pengenalan seniman asal negara Belgia ke mancanegara dengan membuat lukisan tentang pantai ini dan memamerkan ke mancanegara. Karena hal ini, pantai di Sanur, mulai dikenal ke mancanegara.

Keindahan panorama alamnya membuat Pantai Sanur terkenal bahkan sejak jaman dahulu. Dalam sejarah Bali kuno, Pantai Sanur telah dikenal sebagai pantai yang indah, hal itu nampak dalam Prasasti Raja Kasari Warmadewa, seorang raja yang berkeraton di Singhadwala pada tahun 917 M. Sekarang, prasasti tersebut terdapat di daerah Blanjong, bagian selatan Pantai Sanur.

Pada masa kolonial Belanda, Pantai Sanur terkenal sebagai lokasi pendaratan bala tentara Belanda ketika akan menyerang Kerajaan Badung yang dianggap membangkang pada pemerintah kolonial. Perang yang terjadi pada tanggal 18 November 1906 itu kemudian dikenal sebagai Puputan Badung, yaitu semangat perang sampai mati yang dipraktekkan oleh Raja Badung dan pengikut-pengikutnya.

Ternyata eh ternyata … sewaktu saya ke pantai sore harinya … voila! Pemandangan di sore hari juga tak kalah menarik. Surutnya air laut memperjelas pandangan mata pada gugusan Pulau Serangan dan bukit batu karang yang menjorok ke laut di sebelah selatan Pantai Sanur. Sayapun akhirnya tak tahan untuk nyebur di Pantai Sanur. Asik ternyata.




Jadi, nggak benar kalau ada yang bilang Pantai Sanur kalah menarik dengan Pantai Kuta. Setiap pantai memiliki keunikan dan ceritanya sendiri-sendiri.

^_^

Foto-foto: Benny Rhamdani