Friday, May 15, 2015

Tiga Mie Yamin Paling Nikmat di Bandung






Teman-teman saya dari Jakarta yang belum pernah ke Bandung kerap bingung jika saya mengajak mereka makan mie yamin. Kebanyakan mengira itu sama saja dengan mie ayam. Meskipun sama-sama dibubuhi ayam, tapi keduanya berbeda sama sekali.

Perbedaan pertama adalah jenis mie yang dipakai. Kedua adalah ayam yang dipakai  di mie yamin jauh lebih halus bentuknya. Pastinya, rasanya juga berbeda. Paling menonjol pembedanya  adalah mie yamin memakai kecap.

Mie yamin ada yang rasanya manis dengan kecap manis, ada juga yang asin dengan kecap asin. Secara terpisah, kita juga menambahkan dengan bakso kuah, pangsit, ceker ayam, babat  dan lain-lain sesuai selera.

Saya paling gemar makan yamin, ketimbang olahan mie lainnya. Banyak tempat mie yamin di Bandung yang saya datangi, dan menurut saya juaranya ada di tiga lokasi ini.

Linggarjati


Linggarjati berdiri sejak 1950. Lumayan jadul. Jadi jangan bayangkan sebuah kedai mie modern. Interiornya jadul. Mulai dari meja, kursi, sampai kipas angin. Seperti terperangkap di tahun 1970-an. Menu mie yang disajikan pun jadul. Bagi yang bosan dengan olahan mie modern, wajib mencoba mie jadul ini.

Dulu di sebelahnya adalah bioskop Dian Thetatre yang banyak memutar film India. Jadi tampat makan mie ini terus terpatri di memori saya karena dulu saya sering nonton di sana.  Sekadar catatan, jika ke sini membawa mobil, siap-siap harus parkir agak jauh karena tempat parkir di depannya adalah sisi jalan. Paling cukup 4 mobil.  Biar aman, parkir saja di lantai dasar alun-alun Bandung.

Favorit saya di sini adalah yamin baso. Sebenarnya saya suka ditambah babat. Tapi karena saya harus menahan diri makan jeroan, cukup ditambah baso saja yamin-nya.  Jika tidak kuat porsi besar, boleh pesan porsi setengah lho. Untuk yang suka yamin manis, bisa  pesan yamin manis. Kalau mau yang agak asin, juga tinggal pesan sesuai kesukaan.Untuk penutup saya suka es campur klasik. Kadang saya pesan juga susu murni.

Rasa mie ayam di sini sangat klasik. Dari dulu saya makan di tahun 1990-an hingga kini tak berubah rasanya. Untuk yang punya jadwal piknik ke sekitar alun-alun Bandung, saya sarankan untuk mampir ke jl. Balonggede no.1, Bandung.

Akung

Kalau lokasi mie satu ini sudah terkenal ke mana-mana. Tapi umumnya orang sekadar mencicipi baso atau mie baso. Cobalah jika ke sini menjajal paket Yamin Manis Bakso Pangsit Siomay Ceker.  Olahan mie yaminnya terasa begitu manis dan gurih merata, kemudian suwiran ayamnya yang terasa lezat. Belum lagi kuah bakso dengan aroma yang bikin kita nggak mau mikir untuk menunda menyantapnya.

Untuk yang tidak terbiasa porsi besar, bisa membeli porsi separuh. Atau kurangi saja  tambahan lainnya. Misalnya, cukup mie yamin dan kuah baso atau dengan kuah ceker saja. Saya sarankan untuk memakai ceker karena sebenarnya inilah keistimewaan hidangan di Akung.

Mie Bakso Akung berada di Jalan Lodaya No. 123 ini terbilang ramai di akhir pekan. Kadang tutup lebih cepat karena stok sudah habis. Usahakan datang di hari biasa. Juga jangan sesekali mencoba datang saat liburan lebaran. Mie Akung sudah bisa dipastikan tidak buka saat lebaran. Bahkan tutupnya melebihi lburan Pegawai Negeri Sipil.




Ibu Atih


Bukan karena lokasinya di Jalan Cipamokolan dekat rumah saya, sehingga saya memilih mie yamin ini. Namun memang yamin baso di Mie Ibu Atih Tasik ini menurut saya lezat. Terutama mie-nya. Selain lezat juga aman tanpa formalin. Kita bisa melihat langsung mie yang digunakan dibuat lebih dulu di tempat makan.

Yamin baso adalah favorit saya. Porsinya tidak terlalu banyak, baik bakso maupun yaminnya. Saya juga suka kuah basonya yang lezat.

Untuk yang ingin mampir ke tempat ini harus sabar karena parkirnya hanya cukup dua mobil.  Bisa parkir di SPBU di depannya  sementara.

Kalau belum kenyang, kita bisa memesan roti bakar, karena rasanya juga lezat menurut lidah saya.



Selamat menikmati J



Foto-foto: Benny Rhamdani