Thursday, May 28, 2015

Tukang Becak Naik Haji

Bahkan jika memang sudah kehendakNYA, tukang becak pun naik haji.
(foto: Danang Dhave)

Nama pria itu sebut saja Mang Yayat. Siang malam dia mencari rejeki dengan mengayuh becak di jalanan kota Bandung. Mang Yayat tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya.

Mang Yayat rajin beribadah. Beberapa saat sebelum adzan berkumandang, dia selalu masuk ke masjid terdekat, mengambil wudlu dan shalat berjamaah. Tidak terkecuali di hari Jumat.

Beberapa hari terakhir Mang Yayat merasa terketuk setiap kali ada khatib di mimbar cerita tentang ibadah haji. Dadanya berdegup, membayangkan dirinya berada tanah haram. Hanya ibadah hajilah yang diasakannya berat sebagai umat islam.

Satu hari seusai shalat Jumat, Mang Yayat bertanya kepada ustad yang mengisi khotbah siang itu.

"Assalammualaikum, Ustad. Saya mau tanya, apakah saya mungkin bisa naik haji?" tanya Mang Yayat.

"Waalaikumsalam.Tentu saja. Mamang masih sehat dan kuat," jawab sang Ustad.

"Tapi saya hanya tukang becak," kata Mang Yayat.

"Siapapun itu, jika Allah menghendaki, pasti akan berkunjung ke Masjidil Haram," kata Ustad itu meyakinkan. "Banyaklah berdoa dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya agar keinginan kita dimudahkan Allah."


Ustad Muchtar Kholid Saat memaparkan kisahnya. (foto: Benny)
Mang Yayat pun berusaha mencerna kalimat sang Ustad. Kebaikan apa yang bisa diperbuatnya? Akhirnya, setelah ebebrapa hari kemudian, dia memilih satu cara untuk menebar kebaikan. Tukang becak ini menggratiskan penumpangnya setiap hari Jumat. Mang Yayat sengaja memilih hari Jumat karena dia pernah mendengar pahala hari Jumat itu sangat besar.

Selama berbulan-bulan Mang yayat melakukan Jumat Gratis itu. Sampai suatu hari, dia dipanggil seorang pria di depan Hotel Horison. 

"Tolong antar saya ke Rumah Sakit Muhammadiyah," kata pria itu.

Mang Yayat pun mengantarkannya. Jarak ke tujuan yang diminta tak seberapa jauh.


Penumpang pun turun ketika becak sampai tujuan. Dia menyerahkan selembar uang Rp.50.000,-

"Maaf, Pak, tidak usah," tolak Mang Yayat.


Penumpang itu heran. "Kenapa nggak mau menerima?"

"Ini hari Jumat. Saya menggratiskan penumpang setiap hari Jumat," kata Mang Yayat.

Hati pria itu tergetar tapi masih keheranan. Dia masih memaksa Mang Yayat untuk menerima uang darinya.

Akhirnya Mang Yayat menceritakan niat menggratiskan penumpang agar doanya berangkat haji dikabulkan oleh Allah Swt.

Penumpang itu makin tersentuh, lalu dia berkata,"Mang, tunggu dulu di sini ya. Saya mau mau ketemu seseorang di dalam. Nanti saya akan bicara lama dengan Mamang. Insya Allah, saya akan mengajak Mamang naik haji."

Kali ini giliran Mang Yayat yang terkesima. Dia tidak percaya. tapi ternyata pria itu mebuktikan janjinya. Dan di tanah suci Mekkah, Mang yayat menceritakan kisahnya kepada Ustad Muchtar Kholid yang tak lain ustad yang telah membesarkan hatinya setelah Jumatan dulu.

Kisah inspiratif ini saya dengar kemarin di acara pengajian kantor. Sungguh membuat saya tergerak untuk meniru Mang Yayat, berbuat kebaikan yang ikhlas terus menerus.