Thursday, June 11, 2015

Berburu Sarapan di Pasar Karang Lelede Lombok




Seperi  biasa saat mampir di sebuah kota, saya selalu berusaha keluar hotel lepas shalat subuh, mencari pasar tradisional terdekat. Kali ini saya mampir di Pasar Karang Lelede, Jalan Ismail Marzuki, Mataram, Lombok.  Dari hotel saya menginap di Lombok Royal hanya sekitar 100 meter.

Tujuan saya ke pasar tradisional biasanya adalah hunting foto, karena biasanya di pasar tradisional akan banyak ditemukan banyak keunikan. Selain itu, mencari alternatif sarapan pagi, lantaran cukup bosan dengan menu sarapan hotel.

Saat saya datang, banyak pedagang yang baru membuka lapaknya. Hanya pedagang di sisi jalan yang sudah siap.  Saya tidak masuk ke bangunan utama yang bertingkat, tapi ke sisi kirinya yang seperti sebuah gang ke perkampungan.

Jenis-jenis yang dagangan yang terlihat beraneka rupa, mulai dari sayuran, buah-buahan kembang untuk canang,  kain, hingga jajanan pasar.  Mata saya akhirnya terpaku di salah satu kios. Seorang pria sedang mengipas bungkusan daun pisang yang dibakar, sedangkan wanita di dekatnya berbenah.

Nama pria itu Wayan Tirta. Dia mengaku sudah 20 tahun berjualan di Pasar Karang lelede.  Dagangan utamanya adalah pepes ikan dan otak-otak.  Harga pepes ikan Rp1000, dan otak-otak Rp2000 per tiga bungkus.

Saya memutuskan untuk membeli dan mencicipinya. Pepes ikan yang saya pikir ikan tawar ternyata isinya ikan laut. Jiya, saya malah kesenangan. Rasanya lezat karena masih baru diangkat dari pembakaran. Hangat-hangat gimana gitu. Belum lagi aroma arang yang menempel.

Menurut Pak Wayan, orang bisa memakan pepes begitu saja, tapi ada juga yang pakai nasi. Begitu juga dengan otak-otak. “Tapi saya tidak menjual nasinya,” kata Pak Wayan tersenyum.

Lantaran tampak sedang sibuk, saya mengurungkan diri bertanya lebih banyak.


Saya akhirnya memutuskan mencari makanan ringan lainnya. Di kios makanan ringan saya agak bingung memutuskan penganan yang akan dibeli, lantaran tidak terlalu khas. Hampir sama seperti di Jawa. Biar tak bingung saya melanjutkan keliling ke bangunan utama. Di sini lebih banyak dagangan sembako dan daging. Tapi belum buka semua.

Berada di pasar ini, saya seperti masuk ke pasar tradisional di Bali. Tampak pura kecil di depannya, juga aroma dupa dari beberapa kios.  

Memang Pasar Karang Lelede terletak di Cakranegara yang merupakan ‘perkampungan Bali’ di Lombok. Bahkan, di saat hari besar Agama Hindu, pasar ini tutup.



Semakin siang, pasar ini semakin ramai. Delman-delman khas Lombok pun berjajar di depan pasar, tanda pembeli sudah mulai berdatangan. Setelah puas mengambil foto, saya meninggalkan pasar dengan aroma pepes ikan dan otak-otak  yang masih menempel di lidah. Rasanya, pagi ini saya akan sarapan di hotel saja.

Foto-foto: Benny Rhamdani