Monday, June 15, 2015

Mencicipi Pedasnya Nasi Balap Puyung






Ketika di perjalanan dari Bandara Lombok Praya ke hotel di Mataram, perut saya sudah sangat keroncongan. Teman saya, Subhan, tiba-tiba mengirim pesan agar saya minta kepada supir diantar ke warung nasi balap puyung.

Membaca namanya yang unik, saya langsung menyampaikan pesan itu ke supir yang menjemput saya di bandara. Si supir langsung mengiyakan dan menancap gas menuju tempat makan itu. Seperti apakah? Saya sendiri hanya membayangkan, mungkin semacam rumah makan Ampera begitu kalau di Bandung.


Tahu-tahu mobil berhenti di sisi jalan tepat di depan deretan toko dan rumah makan. Tertulis papan nama di depan salah satu kedai makanan Nasi Balap Puyung Inaq Esun. Kami pun segera turun menemui penjaga resto, memesan makanan yang yang saya inginkan.


Saya pun selfie sebentar dan mengirim foto ke Subhan. Responnya di luar dugaan. "Itu tempatnya bukan yang asli. Soalnya yang asli masuk ke perkampungan," tulisnya.

Ya sudah. Toh makanannya sama saja. yang punya dan merknya pun sama. Mungkin ini memang sudah rejeki kami dan penjaga kedai ini. Apalagi perut sudah lapar.

Saya masih malas browsing kuliner satu ini. Ditunggu saja kejutannya. Dan ... voila!

Sepiring nasi di atas daun pisang tiba di hadapan saya. Nasinya sudah dicampur dengan ayam suwir bumbu pedas nan kering, udang kering dan kacang kedelai. Rasanya? Jujur saja saya kurang begitu suka dengan lauk nasi yang keras, jadi makan nasi rames ala Suku sasak ini benar-benar tantangan buat saya. Ya, suwir ayamnya, juga kacang kedelainya. Jadi makannya harus pelan-pelan takut gigi saya yang sudah rapuh pada rontok.

Tantangan kedua adalah pedasnya yang tiada tara. Bahkan disiram teh botol pun tetap menyengat. Cara menetralisir pedas di mulut adalah dengan makan kerupuk. Kebutulan ada kerupuk disediakan di kedai ini.

Di dekat saya terlihat warga lokal menetralkan rasa pedas nasi balap puyung dengan makan es campur. Mungkin saya harus mencobanya lain kali. Untuk kai ini cukup dulu. Khawatir juga sehabis makan yang pedas disiram yang dingin-dingin, perut malah nantinya melilit.

Harga nasi balap puyung itu relatif murahlah. Masih di bawah harga nasi padang.Buat yang suka masakan pedas, hukumnya wajib mencicipi kalau ke Lombok. Hah! Namanya saja sudah Lombok, pasti masakannya sepedas lombok.

Oh iya, soal namanya yang unik, konon dulu namanya Nasi Balap saja. Karena dijual di pelabuhan atau terminal, sehingga dijual terburu-buru seperti balapan. Tapi ada juga yang bilang dulunya memang ada penjual nasi tinggal di Desa Puyung. Dia memiliki keturunan yang pembalap. Maka lahirlah nama Nasi Balap Puyung Inaq Esun. Apapun itu, sebaiknya memang segera dipatenkan saja. Jangan sampai nanti tiba-tiba nasi ini diklaim juga sama negara tetangga ... hehehe

foto-foto: Benny Rhamdani