Sunday, June 14, 2015

Mencicipi Roti Legendaris di Gempol Bandung







Seperti biasa, usai jogging hari Minggu saya mencari pelampiasan rasa lapar. Kali ini saya memutuskan untuk berburu roti yang sangat legendaris di kota Bandung, yakni Roti Gempol. Sudah lama saya ingin ke sana, tapi belum kesampaian.

Dari tempat jogging di kawasan GOR Saparua di Jalan Ambon, saya langsung menginjak gas menuju jalan Riau, kemudian masuk ke jalan Banda, memutar ke Bahureksa, lalu belok lagi ke Jalan Tirtayasa hingga akhirnya menemukan Jalan Gempol.

Ini bukan kali pertama saya ke kawasan Gempol. Tapi biasanya saya mampir ke daerah perkampungan tersebut untuk menyantap kupat tahu Gempol yang beken juga. Letak Roti Gempol masih terus dari kedai kupat tahu.

Untuk yang belum pernah ke kawasan ini, sebaiknya jangan terkecoh mencari roti yang berdiri sejak 1958 ini. Pasalnya, di bagian depan juga ada toko roti. Bila kita bertanya ke tukang parkir, kadang diarahkan ke sana.

Satu lagi, karena akses jalan ke Roti Gempol sempit untuk dilalui mobil, ada baiknya parkir di sekitar Jalan Tirtayasa, lalu jalan kaki sekitar 75 meter. Anggap saja pemansan sambil membakar kalori yang nanti akan diisi ulang. Karena kurang nyaman diakses mobil, biasanya yang datang ke kedai Roti Gempol adalah para biker.

Seperti halnya pagi saat saya datang. Sejumlah biker sedang menikmati roti bakar hingga ke pingggir jalan. Di dalamnya yang yang tak seberapa luas sudah disesaki muda-mudi sehabis jogging. Untunglah saya masih mendapat tempat duduk.

Saat tiba di kedai, kita akan diminta menuliskan orderan. Kebanyakan yang mampir memesan roti bakar. Selainya beranekarasa. Saya paling suka yang campur aduk manis. Karena sensasi mengejutkan saat menggigit roti bakar campur-campur adalah kenikmatan tersendiri.

Untuk jenis rotinya juga bisa memilih, antara roti gandum dan roti biasa. Tentu saja yang gandum 
lebih premium. Bagi yang suka asin, bisa juga memesan dengan campuran telur atau keju. Suka-suka saja. Selain roti bakar juga tersedia penganan roti isi lainnya.

Untuk minuman, tersedia beraneka pilihan. Tapi saya paling suka minum dengan teh. Bagi beberapa orang, makan roti bakar paling asyik dengan kopi susu. Ya, silakan saja.

Rasanya tak sabar menunggu roti bakar pesanan datang. Apalagi aroma pembakaran langsung tercium karena berada di dekat tempat duduk. Dan benar saja, begitu sepotong roti masuk ke lidah saya … voila! Menggetarkan rongga mulut saya sehingga tak sabar memasukkan potongan roti bakar berikutnya.

Oh iya, Sebaiknya datang ke Roti Gempol datang bersama-sama, karena hitungan harganya jadi lebih murah. Saya yang datang berempat saja hanya mengabiskan tak sampai rp50.000 untukroti bakar dan teh hangat. Lagipula, lebih seru sarapan roti bakar rame-rame.

Saat saya makan, tak sedikit pelanggan yang membawa pulang ke rumah roti bakarnya. Buat saya sih, makan di kedainya, apalagi selagi rotinya hangat dan tehnya juga hangat. Mantap pisan, euy.
Kalau yang takut kangen dengan Roti Gempol, di sini juga dijual selai yang biasa mereka pakai.


Sebenarnya yang saya suka datang ke kawasan Gempol adalah keunikan tata lingkungannya. Gempol seperti sebuah perkampungan kecil di kawasan elit dengan rumah-rumah besar dan penuh pepohonan. Sementara di Gempol  sesak dan rumah-rumah kecil yang langsung menuju jalanan. Hebatnya, di sinilah berdiri kuliner Bandung yang sangat terkenal dan legendaries, yakni Roti Gempol dan Kupat tahu Gempol.


Foto-foto: Benny Rhamdani