Monday, June 1, 2015

Mencicipi 'Salad Stress' di Roemah Keboen Bandung



Ini dia 'salad stress' di Roemah Keboen.


Merayakan pernikahan kami beberapa hari lalu, saya sengaja mencari tempat makan malam yang asik untuk kami bertiga. Secara random menyusuri jalan, akhirnya saya parkirkan mobil di halaman Roemah Keboen, Jalan Laks. RE Martadinata, Bandung.

Beberapa tahun silam, saya pun pernah mengajak isteri dan anak saya makan di sini. Suasananya sangat luxury, romantis karena tersedia musik hidup. Membuat kami ingin mengulanginya.

Malam ini saya agak terkejut saat masuk. Tak ada suara musik. Bangku yang kosong. Belum lagi terlihat ruangan di sebelah yang berantakan. Tadinya kami hampir tak jadi makan di sini. Untunglah ada satu keluarga yang menjadi tamu di dalamnya.

Kolan ikan koi dan akses moge menghibur kami.


Kami memilih salah satu deret tempat duduk, dekat tangga. Dua waiter duduk sambil ngobrol dekat kami dengan santai. Mungkin karena sepi pengunjung.

Kami pun mengorder masakan. Pesanan minuman yang sudah diorder  harus diulang karena tidak tersedia. Salad yang saya inginkan harus diganti salad lainnya. Hal ini membuat saya dan isteri saya berpikir lain tentang resto ini.

Menu Pilihan Kami

Roemah Keboen memiliki menu variatif, dari makanan Indonesia, orienteal sampai yang western. Silakan pilih tergantung selera.

Dulu ketika makan di sini saya pernah makan steak yang lezat. Namun karena saya sedang berusaha meredam laju berat badan, saya pilih salad, yakni Salad Desperado. Lucu juga namanya kalau tahu bahasa gaul. Desperado itu artinya depresi alias stress. Jadi  kesannya salad ini bikin stress atau yang bikinnya stress.

Salad Desperado ini merupakan salad khas mexico. Kalau bahannya ya sama saja seperti kebanyakan salad, hanya kita akan menemukan dendeng kering sapi nan renyah. Ya, sepertinya orang Mexico suka yang crispy-crispy seperti kita. Lain yang membedakan adalah dressing kejunya. Enak. Ditambah lagi renyahnya onion ring yang saya suka. Dan ternyata bisa bikin stress hilang memang.

Isteri saya memesan menu  nasi ijo royo-royo. Nasi jenis ini memang semoat booming, terutama versi nasi ijo bakar bersisi ikan peda. Tapi di Roemah Keboen dibuat lebih sophisticated penampilannya. Dijamin teman duduk di sebelah bakal ingin mencicipinya. Karena itulah yang saya lakukan. Kalau saja saya tak ingat perut, saya mungkin akan memesannya juga.

Nasi ijo royo-royo ala Roemah Keboen


Nasi ijo royo-royo dilengkapi potongan timun dan tomat segar. Nasinya seperti nasi goreng tapi lebih lembut. Yang menjadi pertanyaan adalah warna hijaunya itu. Soalnya secanggih-canggihnya teknologi pangan, saya belum pernah dengar ada beras warna hijau. Jadi kemungkinan besar warnanya memakai pewarna makanan.

Putra saya, Akhtar, memilih spaghetti Bolognaise kesukaannya. Tapi lagi-lagi tak ada. Akhirnya mengganti dengan makroni keju. Sayangnya dia gagal menghabiskan pesanannya. Ketika saya ikut cicipi, kemungkinan karena rasa gurih keju yang begitu dominan, sehingga aroma cita rasa makroninya malah luntur.

too cheessy


Setelah beres, kami membayar dengan harga sekitar rp200-an ribu.  Isteri saya sempat bertanya mengapa restorannya sepi. Kata kasirnya, Roemah keboen biasanya ramai di malam Minggu. Sedangkan kami datang malam Senin. Hmm, sebenarnya kalau memang recommended, malam apapun ramai.

Sedangkan ruangan berantakan di sebelahnya, kasir bilang itu sedang ada renovasi pangkas rambut. Wuah, di malam hari yang remang-remang suasananya saja terlihat mengganggu. Apalagi siang hari ya. Untunglah interior Roemah Keboen diselamatkan oleh kolam ikan koi di tengahnya serta akses motor gede.

Kami kemudian pulang ke rumah, dengan diskusi ringan, mengapa  kesan kunjungan ke Roemah Keboen jadi berubah tidak seperti kunjungan kami sebelumnya dulu.





 Foto-foto Benny Rhamdani