Saturday, June 13, 2015

Pengalaman Menginap di Swiss Bell Hotel Jayapura




Berpergian dengan instansi pemerintah, kerap seperti kencan buta. Kadang jadwalnya diubah semau mereka, kadang pula hotelnya baru diketahui detik-detik saat tiba di airport. Begitu pula yang saya alami ketika mengikuti perjalanan dinas ke Jayapura, Papua. Saya sampai mndarat di Bandara Sentani, tidak tahu menahu akan menginap di hotel yang mana. Alhasil, saya kerap tidak berani merencanakan apa-apa di kota tujuan nanti. Khawatir jika ternyata tempat yang rencananya akan dkunjungi jauh dari tempat yang dihayalkan.

Tepat setelah beberapa menit keluar bandara Sentani, saya baru tahu akan menginap di Swiss Bell Hotel. Letaknya tidak ada gambaran, karena saya belum sempat browsing seluruh hotel di Jayapura. Saya pun tidak berani muluk-muluk membayangkan hotelnya. Dan ternyata ...voila! Hotel itu terletak  di pinggir Pantai Kupang Dok 2, Jayapura. Konon nama Kupang berasal dari singkatan bangKU PAnjaNG yang banyak terlihat di sekitar sisi pantai.




Begitu sampai, saya yang sudah keroncongan karena perjalanan panjang dari Bandung (3 jam Bandung-Jakarta, 4 jam Jakarta-Jayapura, dan 45 Menit Sentani-Jayapura) langsung happy ketika diminta mengisi perut dulu di restorannya. Tambah happy lagi lagi ketika tahu restorannya memiliki halaman dimana tamu bisa duduk di luar sambil memandang pantai.

Dari sini saya bisa melihat pulau-pulau kecil nan indah, pelabuhan Jayapura, hingga bukit Polimak dengan tulisan Jayapura City. Rasanya pengen nyebur saja ke laut di depan saya karena hari saat saya sampai lumayan menyengat.

Setelah mengganjal perut, saya masuk ke kamar hotel, berharap jendela kamar akan menghadap ke laut juga. Tapi ... hmmm, saya harus menelan mimpi saya. Jendela menghadap ke arah jalanan nan ramai. Kurang berasa sedang menginap di sebuah kota bernama Jayapura.

Fasilitas di dalam hotel tidak ada yang lebih maupun kurang dibandingkan dengan hotel sekelasnya di Pulau Jawa sekalipun. Apalagi ini hotel yang memiliki group, pastinya memiliki standart segalanya. Termasuk pelayanannya. Cuman, mungkin karena kota Jayapura sedang senang padam listrik, beberapa kali saya kegerahan karena AC mati disebabkan listrik PLN padam.

Lokasinya sendiri menurut saya strategis. Saat pagi hari kita bisa hunting matahari terbit di pantai depan kantor Gubernur. Mau ke mall juga tak seberapa jauh karena ada Jayapura Mall. Tersedia pula beberapa kios penjual sovenir, jika tak sempat sengaja mencari barang-barang khas setempat.

Malam hari, kawasan Dok 2 ini sangat ramai dengan beraneka ragam kuliner dan hiburan malam, seperti karaoke.

Naik angkot pun cukup mudah. Ada pangkalan angkot putih yang siap mengantar kita ke pusat keramaian di 'kota', yakni Jalan Ahmad Yani. Warga setempat biasa memangggil angkot dengan 'taksi'.

Karena ini perjalanan dinas, jadwal padat, saya tidak sempat memeriksa fasilitas lain di hotel. Tapi saya bisa bilang puas tinggal di sini, walaupun sebenarnya agak jauh dari lokasi acara saya, yakni di sebuah SMK negeri di Abepura.

Saya bersama sastrawan Jamal D Rahman di halaman restoran.



Foto-foto: Benny Rhamdani