Wednesday, July 29, 2015

Serunya Mudik Sambil Hibah Buku Cerita




Mudik menjadi agenda rutin bagi saya sejak berkeluarga di hari libur lebaran. Tujuan kami adalah Desa Cijulang, Cihaurbeuti, Ciamis, Jawa Barat. Waktu tempuh normal dari kota Bandung sekitar tiga jam. Namun saat mudik bisa lebih dari tujuh jam. Bahkan tahun ini memegang rekor hingga 12 jam saat arus balik.

Acara di kampung halaman keluarga mertua saya itu setiap tahun nyaris sama. Mulai dari ziarah ke makam, berkunjung ke kerabat yang dituakan, memancing ikan di balong belakang rumah, hingga berburu kuliner. Bagi anggota keluarga baru akan terasa seru, tapi bagi saya kadang acara mudik di kampung halaman yang berulang nyaris sama ini terasa kurang variasi.

Jauh-jauh hari sebelum waktu mudik tiba, saya memikirkan rencana kegiatan yang positif dan bisa membuat mudik ke kampung halaman ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tiba-tiba saja, ketika saya sedang merapikan rak buku terbersit ide untuk melakukan hibah buku di saat mudik.

Saya pun segera menyiapkan sejumlah buku dari rak lemari. Buku-buku itu bukan buku bekas, tapi buku pemberian yang tidak sempat saya baca. Kebanyakan buku-buku cerita untuk anak dan remaja. 

Saya berangkat mudik hari ketiga lebaran bersama kerabat. Semula saya berencana akan mulai acara hibah buku di sepanjang jalur mudik, terutama saat istirahat di rest area. Namun karena melakukan perjalanan malam, saya kesulitan menemukan orang yang akan saya berikan buku. Akhirnya saya tunda hibah bukunya.

Pada lebaran hari keempat, setelah melakukan ritual rutin ke makam dan beranjangsana ke kerabat, sampailah saya bersama kerabat lainnya untuk berburu acara kuliner. Kali ini kami pergi mencari bakso di kawasan Jalan Veteran, Tasikmalaya.

Suasana di jalan Veteran cukup ramai, dan saya melihat sejumlah anak dan remaja di trotoarnya. Saya pun mulai mengeluarkan buku-buku cerita yang dibawa, lalu membagikan kepada anak dan remaja di sana. Saya tidak sendirian. Kepoanakan-keponakan saya, Alika dan Rafli, ikut membantu saya dalam aksi hibah buku cerita.

"Bantunya gimana?" tanya Alika bingung.
"Kasih aja. Bilang ini buku cerita gratis untuk dibaca," saran saya.
Tak lama kemudian Alika pun beraksi. Dan hibah buku cerita dilakukannya dengan baik. tak ada yang menolak dikasih buk cerita gratis, kan?

Saya senang keponakan-keponakan saya ini ikut membantu. saya ingin mereka juga belajar berbagi sejak dini. Saya ingin mereka juga ikut senang melihat rekasi orang yang tidak mereka kenal kaget diberi buku cerita.

Tidak hanya di pinggir jalan, di kedai bakso pun saya terus melancarkan aksi hibah buku itu. Ekspresi anak satu dan lainnya belainan. Ada yang senang, ada yang kaget. saya paling bahagia ketika melihat anak yang tersenyum kemudian setelah tahu mereka mendapat buku cerita gratis.

Karena buku cerita masih cukup tersedia, saya melanjutkan hibah buku cerita di masjid yang saya singgahi untuk shalat ashar di Ciamis. Agar tidak mencurigakan (Kebaynag ada orang dewasa asing tahu-tahu ngasih buku ke anak-anak), biasanya saya dekati orangtuanya dulu, kemudian saya jelaskan maksud dan tujuan saya berhibah buku cerita. Kemudian orangtua mereka memberitahu kepada anak-anak mereka.

Saya menggelar buku-buku itu di depan anak-anak, lalu membiarkan mereka memilih sendiri buku yang mereka sukai. Dari sini pula saya bisa menarik kesimpulan buku-buku dengan jenis gambar seperti apa yang akan disukai anak-anak.

Syukurlah ketika balik ke Bandung hanya tersisa dua buku cerita lagi. Mungkin karena kavernya kurang menarik. Senang rasanya bisa berbagi di saat mudik. dan ini membuat acara mudik lebaran tahun ini lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

InsyaAlah, tahun depan saya bisa membawa lebih banyak buku cerita lagi. Biar lebih banyak lagi anak-anak yang mendapatkan buku cerita. Biar lebih banyak lagi anak-anak yang tersenyum. Biar mudik lebaran saya jadi lebih baik. 

^_^

Foto-foto:Benny Rhamdani