Monday, August 24, 2015

Anak-anak, Nasionalisme, dan Perayaan Kemerdekaan RI


Peringatan kemerdekaan HUT Kemerdekaan RI tahun ini menjadi momen yang paling ditunggu untuk anak saya. Tahun lalu, menjelang tanggal 17 Agustus, anak saya jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit. Padahal dia sudah lama menantikan acara lomba untuk anak-anak di komplek kami.

Saya jadi berpikir, apakah yang membuat anak saya yang berusia 10 tahun itu selalu semangat setiap menyambut Kemerdekaan RI? Apakah karena acara kompetisi untuk anaknya, keriuhannya, atau memang dia sedang berproses tumbuh semangat nasionalismenya?

Seorang teman saya pernah mengatakan tidak begitu percaya bahwa lomba-lomba untuk anak di peringatan hari kemerdekaan bisa menumbuhkan semangat nasionalisme. Di Korea Selatan, pemerintahnya tidak pernah menggerakkan rakyatnya untuk menyemarakkan hari kemerdekaan Korea selatan yang selisih dua hari dengan negara kita.

Kemerdekaan Korsel hanya dirayakan dengan upacara bendera. Tak ada umbul-umbul maupun semarak lomba. Tak ada hiasan gapura pula. Tapi, siapa yang bisa menyangsikan bahwa bangsa Korea Selatan tumbuh, maju dengan semangat nasionalisme yang tinggi.

Memahami Psikologis Anak

Tepat hari pelaksanaan lomba perayaan hari Kemerdekaan RI di komplek rumah kami, anak saya sudah tak sabar untuk pergi ke luar rumah. Dia langsung mendaftar untuk beberapa lomba sekaligus, seperti lomba makan kerupuk, gigit koin, tangkap belut hingga sepeda hias.

Dari semua yang diikutinya, tak ada satu pun yang dimenangkannya. Kecewa? Sama sekali tidak tampak di raut wajahnya. Dia tetap merasa senang karena bisa bermain bersama teman-teman di komplek yang jarang sekali bisa ditemuinya. Hampir semua anak di komplek disibukkan dengan kegiatan sekolah dan les di bimbingan belajar.



Dapatkah lomba-lomba ini menumbuhkan semangat nasionalisme kepada anak-anak?  Berdasarkan pendapat  Psikolog Anak, Ine Indriani MPsi, menanamkan nilai cinta Tanah Air bisa dimulai sejak dini. Bahkan sejak usia balita sekalipun. Cinta tanah air bisa ditumbuhkan sejak kecil melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai usia, ucapnya seperti dikutip Republika on Line, Minggu (16/8)

Momen perayaan hari kemerdekaan RI, dengan beragam acara  seperti lomba, panggung hiburan, tasyakuran dan acara lainnya, merupakan kesempatan  untuk menanamkan rasa cinta Tanah Air.

“Misalnya dengan mengajak anak ikut lomba 17 agustusan. Selain itu bisa juga dorong anak agar mau mengisi acara 17-an atau pasang bendera merah putih di rumah. Perayaan hari nasional lainnya juga bisa menjadi momen untuk menanamkan rasa cinta Tanah Air,” saran Ine.

Saya pun mengamati lebih seksama anak saya dan teman-temannya selama perayaan Kemeredekaan RI.  Memang sulit menakar apakah kemudian semangat cinta tanah air itu sudah tumbuh atau tidak. Tapi dengan melihat mereka mau berpartisipasi di acara lomba yang seberapa hadiahnya itu, saya menyadari semangat nasionalisme itu sedang berproses.



Anak saya misalnya, dia langsung protes ketika melihat ada tetangga di dekat rumah yang tak memasang bendera. Dia juga bersemangat meminta untuk diajak ke tempat-tempat bersejarah dan berhubungan dengan kemerdekaan Indonesia, seperti monument perjuangan dan museum.

Terus Berproses

Saya pun akhirnya menyadari, perayaan Kemerdekaan RI ini hanya satu dari banyak hal yang bisa dijadikan momen untuk meningkatkan semangat nasionalisme, serta jiwa patriotisme kepada anak saya.

Seperti dikutip Berita Satu, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, seorang psikolog anak dan remaja dari RaQQi Consulting,  menumbuhkan rasa nasionalisme bisa dilakukan berbagai kegiatan. Misal, mengajak anak untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dengan baik dan benar, membeli produk buatan Indonesia, traveling di dalam negeri hingga membacakan buku cerita perjuangan pahlawan.

Mungkin, itu sebabnya di Korea selatan tidak pernah merayakan hari kemerdekaannya, lantaran mereka punya banyak cara lain sehingga bangsanya punya semangat nasionalisme tinggi. Salah satunya yang tidak ada di Indonesia adalah program wajib militer.



Saya sendiri sejak lama berprinsip akan menumbuhkan semangat nasionalisme kepada anak sejak dini. Karena pada era yang semakin mengglobal ini, ancaman lunturnya semangat mencintai tanah air semakin besar. JIka tidak lagi mencintai negeri ini, sentah apa yang akan diberikan kepeda negerinya.
Beberapa hal yang saya lakukan di dalam menumbuhkan semangat nasionalisme kepada anak tanpa henti adalah sebagai berikut;

Mengenalkan sejarah negeri ini kepada anak.  Sangat mudah untuk memicu minat  anak mengenal sejarah negeri ini. Saya biasanya mengajak ke museum baik di kota sendiri maupun saat ke luar kota. Dengan melihat koleksi benda bersejarah, cerita, diorama, foto, dan lainnya, anak akan sangat tertarik belajar sejarah kemerdekaan.

Memberi contoh menjadi warga yang baik kepada anak. Ini juga merupakan salah satu cara menumbuhkan rasa nasionalisme kepada anak. Misalnya, menjaga kebersihan lingkungan, tertib lalu lintas.  Contoh lain yang juga mudah diparaktikkan adalah bangga emnggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta mencintai produk dalam negeri, terutama yang khas seperti batik.

Mengajak anak terlibat dalam kegiatan yang bersifat nasionalisme. Misalnya saja peringatan kemerdekaan RI, mengenakan baju adat setiap Rabu sesuai aturan pemerintah kota, pentas panggung hiburan rakyat, dan lain sebaginya.


Menurut saya, tugas menanamkan rasa nasionalisme kepada anak selayaknya memang orangtua terlibat. Jangan sampai seperti sebuah keluarga yang saya kenal. Orangtuanya di Indonesia, anak-anaknya tersebar berbeda warga negara. Tentu saja anak-anaknya itu bekerja dan berkarya untuk negara mereka. Bahkan, kalau perang pun mereka tidak akan membela negara orangtuanya.