Sunday, August 9, 2015

Garuda Indonesia Mengantarku ke Destinasi Impian Bernama Papua



 
Sudah lama saya menyimpan destinasi impian ke provinsi paling timur di Indonesia ini. Tepatnya, sejak saya melakukan perjalanan literasi ke sejumlah provinsi di Indonesia. Itu sebabnya ketika mendapatkan undangan untuk datang ke Papua, benar-benar merasa impian saya menjadi nyata.

Mata sudah mengantuk saat mau ke pesawat.
Hal paling menyenangkan lainnya adalah saya berangkat bersama dengan para sastrawan yang akan melakukan kegiatan kampanye literasi Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Mulai dari Taufik Ismail, Jamal D Rachman, Arizal Nur, hingga Iman Soleh.

Kami berangkat dengan penerbangan Garuda Indonesia GA-656 Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Sentani pukul 23.20 – 06.45 pada tanggal 2 Juni 2015. Sejujurnya saya bukanlah penggemar penerbangan malam karena kalau susah tidur, tapi karena efisiensi waktu tidak ada piihan lain.

Check in dengan Garuda Indonesia bukan perkara sulit dan harus mengantre panjang karena jumlah boothnya banyak. Di sanalah saya ditanya tentang Garuda Miles saya. Saya bilang sudah mendaftar tapi kartunya belum dikirim. Petugas check in membolehkan saya menyebutkan nomor saja. Ya, mudah-mudahan saja dengan penerbangan ini point saya bertambah dan kasta member saya berubah dari blue.


Saat masuk ke pesawat, mata saya sudah tidak tahan menahan kantuk. Begitu awak kabin dengan ramah menunjukkan seat saya, segera saya menyimpan tas bawaan, kemudian saya duduk dan tidur lelap.

Hampir tiba
Ketakutan saya dengan penerbangan malam, apalagi lebih dari tiga jam, disebabkan saya pernah naik maskapai penerbangan lain ke India. Pesawatnya kerap berguncang, membuat saya cemas dan terus terjaga. Tapi dengan Garuda Indonesia ini saya terbangun karena jatah makan saya dibagikan oleh flight attendant. Setelah makan dan minum, saya pun menyambung tidur. Kenyamanan kelas dunia yang saya rasakan ini seperti ketika saya terbang malam juga dengan 5 Stars Airlines lain yang saya tumpangi ketika dua kali ke Eropa dua tahun silam. Artinya Garuda memang layak disebut maskapai penerbangan kelas bintang lima.


Saya benar-benar terbangun ketika satu jam mendekati tujuan awak pesawat mengumumkan kondisi cuaca yang kurang baik. Saya lihat ke luar jendela memang berawan. Tapi entah mengapa saya merasa santai. Saya putar film di LCD yang terpasang di depan saya sambil sesekali melihat ke luar jendela pesawat.

Papua nan Cantik

Bukit Polimak dan Pantai Kupang nan cantik

Pagi hari akhirnya pesawat Garuda yang saya tumpangi berhenti di Bandara Sentani. Saya merasa tidak ingin cepat-cepat mendarat lantaran sebelumnya tadi saya melihat pemandangan menakjubkan dari jendela pesawat. Ya, pemandangan Danau Sentani dengan hamparan pulau-pulau kecil nan cantik.

Perjalanan harus dilanjutkan. Saya bersama rombongan kemudian check out, dan melanjutkan perjalanan darat menuju ke Jayapura. Acara utama saya dan rombongan adalah keesokan harinya. Jadi hari pertama saya sampai saya gunakan benar-benar untuk menimati keindahan alam Jayapura dan sekitarnya.


Saya merasa beruntung karena ditempatkan di hotel di kawasan Pantai Kupang. Jadi saya dapat menikmati kecantikan Pantai Kupang dan Bukit Polimak kapan pun. Tidak puas dengan di sekitar hotel saya pun pergi ke   Teluk Youtefa untuk melihat dari dekat pemandangan yang dulu pernah saya lihat ketika TVRI menutup siarannya setiap malam.

Sayang waktu tak cukup mengeksplore Teluk Youtefa

Taman Teluk Youtefa memiliki  luas 1.675 hektar. Secara Geografis kawasan Taman Wisata Teluk Youtefa terletak antara 02°31´ 00¨ – 02°42´ 00¨ lintang selatan, serta 142°37´ 00¨ – 142°48´ 00¨.  Sisi utara dibatasi oleh Tanjung Pie, timur dibatasi oleh pantai timur Teluk Youtefa, perbukitan Gunung Mer dan gunung Tiahnuh dan sebagian ruas jalan Entrop-Abepura.  Sisi selatan berbatasan dengan sebagian ruas jalan raya Abepura-Nafri, barat berbatasan dengan perbukitan gunung Sesekokyamokah.

Menimati kecantikan Teluk Youtefa
Teluk Youtefa termasuk daerah dataran rendah yang datar sampai bergelombang dengan kisaran ketinggian 0 – 73 meter di atas permukaan laut. Saya dapat melihat  hutan mangrove dan daerah perbukitan, terdapat pula hutan sagu di sela-selanya. Dua aliran kali yang bermuara pada Taman Wisata Alam Teluk Youtefa yaitu Kali Acai dan Kali Entrop dengan lebar sekitar 20 meter.

Yang menakjubkan, saya dapat  melihat bukit perbatasan dengan Papua New Guinea dari sisi jalan Teluk Youtefa.

Semula saya ingin naik ke Bukit Polimak, namun seorang teman melarangnya karena di beberapa kawasan di  Jayapura kalau sedang tanggal muda kerap jadi tempat minum-minum alkohol sampai mabuk. Akhirnya saya putuskan untuk keliling kota Jayapura yang sangat maju, jauh dari bayangan saya.

Keesokan paginya, usai shalat Subuh, saya sengaja keluar hotel menyusuri Pantai Kupang, lalu berburu matahari terbit. Betapa bersyukurnya saya ketika akhirnya dapat melihat matahari terbit dari timur di provinsi paling timur di Indonesia ini. Buru-buru saya mengabadikannya dengan kamera.

Menyalakan Literasi di Papua

Antusias literasi remaja Papua.

Siang pun beranjak. Saya mengikuti rombongan ke aula Universitas Cendrawasih di Abepura untuk melakukan kampanye literasi SBSB. Tadinya saya mengira pesertanya hanya beberapa ratus siswa SMA dan SMK, ternyata lebih dari 1000 siswa. Hal ini membuat saya semangat untuk berbagi tentang literasi kepada mereka.

Tari Yospan yang enerjik.
Acara dibuka dengan beberapa tarian dari para siswa SMA dan SMK. Saya paling berkesan dengan pertunjukan Tari Yospan. Tari yang merupakan kepanjangan dari yosim pancar ini adalah tarian pergaulan yang sering dibawakan muda-mudi sebagai bentuk persahabatan. Tarian ini adalah penggabungan dua tarian dari rakyat Papua, yakni tari yosim dan tari pancar.

Mereka juga membawakan tari modern hip-hop dan K-pop seperti layaknya remaja kota metropolitan.

Setelah dibuka resmi oleh pejabat setempat, giliran sastrawan beraksi membacakan puisi bergantian kendati sound system kurang optimal. Para siswa sebagian besar tekun menyimak. Dan sepertinya mereka benar-benar dinyalakan keingintahuan tentang literasi.

Taufik Ismail membacakan puisinya.



Para siswa antusias bertanya.

Hal tersebut dapat dilihat pada saat mereka dipersilakan bertanya kepada para sastrawan. Semua berebut bertanya hingga harus dibuat antrean. Begitu pula sesusai acara, mereka berebut minta selfie bareng bersama para sastrawan. Sungguh, hal-hal seperti inilah yang membuat saya selalu meggebu-gebu untuk melakukan perjalanan literasi di Indonesia. Melihat semangat literasi di mata para remaja.

Kembali dengan Garuda

Boarding pass untuk kembali.

Selalu ada waktu untuk kembali betapapun saya jatuh cinta kepada Papua. Rasanya berat hati meninggalkan tanah ini. Apalagi saya mendapatkan banyak teman baru di sini. Entah itu perantau maupun penduduk asli. Mereka semua ramah dan terbuka.

Itu sebabnya ketika dalam perjalanan menuju ke Bandara Sentani kami mendapat kabar tidak dapat melewati jalan yang sama dengan saat datang, agak kaget juga. Ada apa? Ternyata di sekitar Universitas Cendrawasih di Abepura ada demo menuntut kemerdekaan Papua.

Kawasan perbukitan entrop dengan langit biru.
Oh, ternyata masih ada juga keinginan untuk berpisah dari Indonesia, pikir saya.

Akhirnya, pengantar kami memutuskan untuk mengambil jalan memutar lewat kawasan Entrop. Dan ternyata ini adalah berkah buat saya. Karena jalan yang kami lewati adalah perbukitan hijau yang sangat indah. Bahkan kami sempat turun dari mobil untuk berfoto-foto di perbukitan.

Berharap bisa menginjak
Gugusan pulau di Danau Sentani
Perjalanan kami aman-aman saja hingga ke Bandara Sentani. Kami kembali check in ke counter garuda. Tak ada keruwetan di sana, semua berjalan lancar. Saat  masuk ke pesawat, saya merasa hati saya tertinggal di Papua. Benar-benar perjalanan literasi kali ini adalah memorable experiences.

Ketika dari jendela pesawat melihat gugusan pulau di Danau Sentani, saya bergumam dalam hati, “Aku akan kembali ke sini untuk liburan yang lebih lama bersama keluargaku. Aamin.”

Biar nggak terlalu mahal, harus cari juga promo menarik dari Garuda Indonesia kali ya.


Akhirnya tiba juga kartunya Garuda Miles saya.