Wednesday, August 26, 2015

Ke Bandung, Jangan Lupa Mampir ke Museum Sri Baduga



Banyak teman saya yang kerap ke Bandung mengaku tak tahu menahu soal Museum Sri Baduga. Padahal hampir semua obyek wisata sudah dikunjungi mereka bersama keluarganya masing-masing. Mungkin karena letaknya di Jalan BKR 185, Tegallega, yang jauh dari outlet baju dan tempat kuliner.

Saya sendiri baru datang ke Museum sri Baduga belum lama ini untuk kedua kalinya. Kali pertama lebih dari 20 tahun silam saat masih kuliah. Kedatangan saya juga karena mengantar anak saya, Akhtar, wisata edukasi dari sekolahnya.







Lumayan terkejut juga ketika masuk ke dalam museum yang dikelola oleh pemerintah provinsi Jawa Barat ini. Sangat jauh lebih baik ektimbang yang saya kunjungi pertama kali. Dari depan saya sudah melihat sentuhan modern museum yang diresmikan pada 1974 ini.

Nama museum ini sendiri diambil dari nama seorang raja Padjadjaran seperti yang ditulis di batu tulis Bogor.  Memang sedikit asing bagi kebanyakan nama tersebut karena kerajaan Padjadjaran sendiri nyaris tak ada bekasnya yang bisa dilihat.

Museum yang  terbuka untuk  umum  ini memiliki koleksi dari jenis koleksi Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramik, Seni Rupa dan Teknologi. Setidaknya 5.367 buah koleksi tercatat di sini. Yang paling banyak adalah koleksi rumpun Etnografika yang berhubungan dengan benda-benda budaya daerah. Jumlah koleksi tersebut tidak terbatas pada bentuk realia (asli), tapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, foto, dan maket. Benda-benda koleksi tersebut selain dipamerkan dalam pameran tetap, juga didokumentasikan dengan sistem komputerisasi dan disimpan di gudang penyimpanan koleksi.





Museum Negeri Sri Baduga yang berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api, dirintis sejak berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern; adapun bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang perkantoran.

Penyajian koleksi membuat saya terkesan karena ditata dengan baik agar pengunjung dapat memperoleh gambaran tentang perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa barat, corak dan ragamnya, serta fase-fase perkembangan serta perubahannya.

Di lantai satu saya bisa melihat perkembangan awal dari sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Dalam tata pameran ini digambarkan sejarah alam yang melatarbelakangi sejarah Jawa Barat, antara lain dengan menampilkan benda-benda peninggalan buatan tangan dari masa Prasejarah hingga jaman Hindu-Buddha.

Di lantai kedua meliputi materi pameran budaya tradisional berupa pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian hidup, perdagangan, dan transportasi; pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah perjuangan bangsa,dan lambang-lambang daerah kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Adapun lantai tiga, memamerkan koleksi etnografi berupa ragam bentuk dan fungsi wadah, kesenian, dan keramik asing.



Di museum ini juga ada ‘bioskop’ untuk menyaksikan sekilas tentang sejarah Jawa Barat yang berhubungan dengan koleksi di museum.

Anak-anak pasti akan suka melihat koleksi di dalam museum ini. Apalagi jika anak-anak kita tertarik dengan hal-hal bersejarah.


Bagi yang hendak berkunjung, Museum Sri Baduga dibuka pada hari Senin s/d Jum'at pukul 08.00 s/d 15.00 WIB, Sabtu dan Minggu pukul 08.00 s/d 14.00 WIB, hari libur nasional lainnya tutup.