Monday, August 24, 2015

Rahasia Sukses Empat Pengusaha Ini Dibongkar di Bandung Entrepreneurs Day 2015



Siapa yang tak tahu tayangan sitkom Preman Pensiun dan Bajaj Bajuri? Di balik sukses tayangan teve tersebut ada tangan dingin seorang pria bernama Aris Nugraha. Di acara Bandung Entrepreneus Day (BED) 2015, Sabtu (22/8), Aris Nugraha sengaja membongkar rahasia suksesnya. Tiga entrepreneur lainnya yang juga buka-bukaan adalah Yana Hawi Arifin (Keripik Karuhun), Akhmad Yani (Urband café), dan Sheena Krisnawati (EO HjabFest).

Saya datang ke acara BED 2015 karena tergiur dengan para pengisi acara yang ditampilkan pada poster iklan acara tersebut. Alhamdulillah, saya mendapat keuntungan sebagai blogger dari penyelenggara, yakni Bigpro Solusi Utama, beruapa tiket masuk gratis. Walaupun sebenarnya tiket masuk BED 2015 sendiri menurut saya terbilang murah yakni Rp200.000.

Dan ternyata apa yang saya harapkan itu terjadi juga, yakni mengetahui rahasia sukses mereka yang boleh dibilang sukses menekuni usaha mereka.

Aris Nugraha, Belajar Otodidak


Aris Nugraha hanya tamatan SMA. Meskipun demikian, dia selalu bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha. Mimpi itu tertanam karena sebagai penjual koran dan majalah kedaluarsa, Aris senang membaca berita tentang para pengusaha sukses.

Setelah cukup lama mengikuti dunia pertelevisian, pada tahun 2000 Aris mulai belajar secara otodidak secara khusus tayangan TV situasi komedi (sitcom). “ Saya lihat belum ada yang di Indonesia yang menekuni tema situasi komedi,” ucap pria asal Garut ini.

Setelah merasa mampu, Aris pun mulai memerhatikan situasi etnik Betawi di sekitarnya, lalu membuat contoh tayangan Bajaj Bajuri. “Saya tawarkan ke TransTV dan diterima,” katanya.

Berkat usaha dan keyakinannya yang kuat, tayangan sitkom itu kemudian booming pada tahun 2003. Nama Aris Nugraha pun amat diperhitungkan di pertelevisian Indonesia. “Saat itu kunci sukses saya adalah saya hanya ingin membuat sesuatu yang orang lain tidak bikin,” kata pria yang akhirnya sering disebut Mbahnya Sitkom.

 Tak mau berhenti jadi penulis skenario saja, Aris kemudian membuat sebuah perusahaan penulisan skenario dengan menghimpun anyak penulis. Namanya ANP. “Perusahaan ini menyediakan jasa penulisan skenario khusus komedi. Kami mengharamkan tema drama,” kata Aris yang kemudian menunjuk ayahnya menjadi komisaris di perusahaan itu.

Pada awalnya Aris mengajak 50 penulis untuk bergabung dengan ANP. “Saya yang mengajarkan mereka menulis komedi secara gratis,” katanya. 

Aris biasanya akan mengeluarkan penulis di ANP setelah tiga tahun bersama. “saya ingin mereka berkarya dan menjadi pesaing saya,” jelasnya penulis skenario dan sutradara Preman pensiun ini.

Secara garis besar, Aris memiliki rumusan sukses: membaca, bermimpi, action, sukses dan kemudian berbagi.

 Akhmad Yani, Jangan Lupa Berdoa

Pengusaha café dengan brand Urband Café ini mengungkapkan tiga kunci keberhasilannya, yakni bermimpi, berpikir dan bertindak. Pria ini mengawali karirnya sebagai seorang karyawan di perusahaan Jepang. Namun akhirnya memutuskan keluar dan memutuskan untuk berwirausaha.

Saat bermimpi, Kang Yani –sapaannya—juga mengingatkan agar tidak lupa berdoa. Karena bermimpi dan berdoa ini akan memperkuat diri menerima kenyataan. Dia member tips, agar ketika mulai berusaha juga memikirkan rasionalitas.

Menurutnya, jika memang baru mampu menjadi penjual sayur, ya coba nikmati saja dulu berjualan sayur.

“Tapi yang lebih penting lagi, jangan terlalu lama pada proses berpikir. Nanti nggak jadi-jadi usahanya,” tekan Kang yani.

Sheena Krisnawati, Keliru Tapi Beruntung

Semula Sheena Krisnawati terbiasa  menggelar acara pameran yang berhubungan dengan pemerintahan. Namun pada taun 2011, Sheena mulai mengenakan jilbab dan berkeinginan menggelar pameran untuk hijabers. Baru pada tahun 2012 Sheena berhasil mewujudkannya.

“Tapi itu pun terjadi kecelakaan sebenarnya. Tanggal di kontrak dengan pemilik gedung berbeda dengan tanggal yang saya rilis,” katanya. Tapi rupanya dia malah mendapat berkah, karena justru saat hari pertama HijabFest dibuka, bersamaan dengan adanya ujian SNPTN ITB di Gedung Sabuga yang dipakainya.

“Paling sulit bikin pameran itu kan mengundan pengunjung. Tapi saya waktu itu malah kebanjiran pengunjung hingga puluhan ribu,” tutur Sheena.

Tidak hanya sekali Sheena merasa beruntung. Pernah dia menggelar acara KickFest di Jogja yang tak satu pun EO mau mengambilnya. Tapi ternyata dengan mengundang Shaggy Dog, pamerannya malah harus menahan pengunjung yang membludak.

Hal sama juga terjadi ketika Sheena menggelar Bandung Air Show. Hanya sedikit orang yang mau berpartisipasi di acaranya itu. Tapi ternyata pada hari pertama saja, dia sudah kebanjiran pengunjung. “Sampai saya berdoa agar hujan besar biar pengunjung berkurang,” jelasnya.

Catatan yang penting dari bisnis EO ini ternyata adalah berani mengambil risiko dan tema yang unik untuk menggelar pameran.

Yana Hawi Arifin, dari Kripik ke Bengkel

Pengusaha keripik singkong pedas ini memulai bisnisnya karena melihat di kampungnya di Sukabumi banyak penjual keripikik singkong. Dia pun mengajak keponakannya bisnis keripikik singkong. Awalnya hanya berhasil menjual di bawah 100 bngkus di Car Free Day Dago, Bandung. Tapi kini sudah stabil.

“Saya mengawalinya dengan mimpi ingin punya penghasilan dua juta rupiah per hjari. Sejarang itu sudah tercapai,” kata Kang yana, panggilannya.

Tak ingin menandalkan satu bisnis, Kang Yana akhirnya merambah ke bisnis property dengan membuka beberapa komplek perumahan di Bandung dan Sukabumi. Tak sampai di sana saja, dia pun mulai membuka bengkel yang rencananya hingga 100 cabang.

“Sekarang saya punya mimpi ingin punya penghasilan 200 juta sehari,” katanyas ambil tersenyum.

Kekuatan mimpi ternyata menjadi salah satu rahasianya.


Saya bangga sekali bisa hadir di acara ini. Apalagi banyak kaum muda yang datang. "Kami senang karena merasa terhormat menyambut para pebisnis masa depan Indonesia di acara ini," ungkap CEO Bigpro Bayu Herdiawan yang akan menyelenggarakan acara serupa beberapa bulan lagi.