Tuesday, August 18, 2015

Unsur Mistis Dalam Seni Reak Jawa Barat



Salah satu jenis seni pertunjukkan   di Jawa Barat yang kerap hadir, terutama di ruang terbuka, adalah reak.  Sini rakyat ini bisa ditemukan di sekitar Ujung Berung-Bandung, Cileunyi-Bandung, dan Sumedang, Subang, Karawang, dan sekitarnya. 

Kesenian ini diselenggarakan oleh masyarakat pada perhelatan  nunatan atau khitan. Kerap pula ditampilkan pada  acara-acara  panen atau  17 Agustus-an. Reak pun dihadirkan pada acara pernikahan, ulang tahun, peringatan akil baligh dan lainnya.

Kesenian ini berupa iring-iringan dengan seperangkat atau sekumpulan istrument etnik sunda, seperti suling, kendang, kentungan, calung.  Terlibat juga di dalamnya sinden (penyanyi), kuda lumping (kuda yang sudah dilatih untuk pertunjukkan), sisingaan (patung singa beserta penari), dan penari bertopeng.


Penggunaan kata “reak” sebagai nama bagi kesenian ini memang banyak penjelasannya.Sebagian mengatakan bahwa “reak” berasal dari kata “reog”, mirip dengan nama bagi kesenian dari Jawa Timur, terutama “Reog Ponorogo”. Reak maupun Reog, menurut sebagian pandangan berasal dari kata Arab “riyyuq” yang artinya “bagus atau sempurna di akhir” atau khusnul khatimah. Sebagian lagi menyatakan bahwa reak berasal dari kata “leak”, yakni salah satu symbol kekuatan jahat dalam tradisi Hindu-Bali, yang menyimbolkan Batara Kala atau ogoh-ogoh.  

Tapi untu pelaku seni  reak ini, asal-usul nama dan konteks penggunaannya tidaklah menjadi persoalan. Yang penting bagi mereka, reak adalah fakta budaya yang menyangkut media hiburan dan media ekspresi kultural mereka. Dalam komposisi iring-iringan ini, “reak” ditampilkan sebagai topeng  yang dikenakan para penari. 

Kuda lumping memiliki makna “pengendalian kekuatan”. Kuda merepresentasikan kekuatan, mampu dijinakkan dan dikendalikan oleh manusia, serta mampu dilatih untuk melakukan atraksi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kegagahan mampu dijinakkan melalui pendidikan; dan apabila kekuatan itu telah mampu dikendalikan, maka ia akan mampu menunjukkan keindahan dan keluwesan.

Di wilayah Sunda tidak ada binatang berupa singa. Dapat dipastikan bahwa “singa” merupakan “pemodelan” import. Sebagian menyebutkan bahwa “singa” muncul sebagai bentuk pengaruh dari tradisi Cina. Singa dianggap sebagai binatang kuat dan disebut sebagai “raja hutan”. Makna simbolik dari “sisingaan” adalah hampir sama dengan makna bagi kuda lumping, yakni pengendalian kekuatan yang mewujud menjadi keindahan dan keluwesan. 


Mistis



Seperti yang saksikan sendiri, iring-iringan reak biasanya diarak berkeliling dari kampung ke kampung, menelusuri jalan raya. Sebelum iring-iringan dilaksanakan, sang pemimpin reak  atau pawang biasanya melakukan ritual khusus, yang terdiri dari “mujasmedi” sambil membacakan mantera-matera, dan membakar kemenyan . Tujuannya adalah upaya untuk meminta keselamatan selama proses reak berlangsung.

Setelah ritual awal selesai, dimulailah membunyikan instrumen-instrumen atau tabuh-tabuhan, dengan nada-nada “ritmis” pembukaan. Pengantin sunat  didudukkan di atas punggung kuda lumping dan atau sisingaan. Sedangkan, reak [penari bertopeng] ikut bersama mengikuti keduanya, sambil menarikan tarian-tarian. Beberapa penari menyebutkan bahwa tarian-tarian mereka merupakan gerak otomatis atau natural (alami), tergantung pada bawaan “ruh” para leluhur yang merasuki badan dan jiwa mereka. 

Suara instrumen yang berirama mistis dan nyanyian para sinden sangat nyaring dan dominan terdengar hingga jarak yang cukup jauh. Sinden, yang umumnya terdiri dari dua atau tiga orang, melantunkan beberapa nyanyian sunda, secara bergantian, terutama nyanyian yang biasa dilantunkan dalam tari jaipongan. Tetapi, nyanyian mereka juga diselingi dengan beberapa nyanyian kontemporer, seperti dangdut. Dengan tarian khas kuda lumping dan atau sisingaan, semua iringan mengitari dan mengikuti ke mana keduanya diarahkan.

Pada tempat-tempat yang agak luas, kuda lumping dan sisingaan melakukan atraksi tertentu. Sesekali terdapat orang yang kerasukan , yang diklaim kerasukan ruh” atau istilah mereka “jadi” [jadi reak, yakni melebur antara dirinya dengan jiwa atau ruh reak sendiri. Mereka umumnya dalam keadaan tidak sadar  disebabkan oleh suara mistis dari bunyi-bunyian instrumen dan penghayatan terhadap tari-tari  tertentu yang dimainkan. 



Di sinilah, sebagian menganggap bahwa “reak” merupakan simbol dari kejahatan, tetapi “kasurupan” atau melebur antara dirinya dengan ruh jahat, dianggap sebagai puncak “ritual”,  puncak penyatuan diri, dan puncak ekspresi budaya mereka. Dengan demikian, “jadi” bagi mereka adalah keagungan dan kehebatan. 

Sebagian menyebutkan  kesenian ini berasal dari peninggalan kerajaan Pajajaran. Sedangkan pendapat lainnya menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa kerajaan Sumedang Larang, yang mendapat pengaruh dari kerajaan Pajang dan Mataram. Sebagian lagi menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa penjajahan Belanda, sebagai bentuk kritik masyarakat untuk mengkritik para priyayi pro-Belanda dan pemenrintahan kolonial Belanda.



foto; Benny Rhamdani
referensi: https://dadanrusmana.wordpress.com/