Wednesday, September 2, 2015

Dokter Ganteng Ini Lebih Suka Blusukan di Pedalaman Kalimantan





Sejak menyandang gelar dokter s pada tahun 2014, Yudi Pranata berkomitmen untuk menekuni profesi barunya. Padahal cowok berdarah Bangka kelahiran 20 Februari 1991 punya banyak prestasi di bidang lainnya. Yudi pernah mengikuti olimpiade ekonomi (2008), olimpiade astronomi (2009), dan Duta Wisata Bangka pada tahun 2014.

“Terakhir saya mengikuti  Ship for  Southeast Asean Youth Program (SSAYP) tahun 2014, dan itu sempat membuat saya menunda ikut program internship kedokteran selama empat bulan. Setelah SSAYP saya berkomitmen untuk menekuni profesi dulu sampai tahun depan,” tutur penggemar otomotif dan olahraga ini saat ditanya.


Yudi mengaku memilih jadi dokter karena dirinya merasa tak cocok duduk di belakang meja terus. “Saya suka berhadapan dengan berbagai macam orang biar nggak bosan. Saya juga penggemar adrenalin, dan itu bisa saya dapatkan di ruang instalasi Gawat Darurat (IGD),” ungkap vokalis band kampus yang menggemari Noah Band ini.

Tak sedikit pengalamannya ikut lomba dan duta wisata yang berguna ketika kemudian dirinya menjadi dokter. “Dengan pengalaman itu saya jadi semakin banyak ketemu dan kenal orang.  Jadi semakin tahu cara menghadapi setiap orang juga beda. Nah, pengalaman itu bisa saya pakai untuk menghadapi pasien karena tipe pasien juga berbeda-beda,” kata pria yang selanjutnya ingin mengambil spesialisasi jantung ini. 

Saking menikmati profesinya sebagai dokter, Yudi memilih blusukan ke daerah pedalaman di Kalimantan Timur sebagai program internshipnya. “Banyak kegiatan puskesmas keliling dan posyandu ke pelosok-pelosok di Kalimantan Timur. Kadang juga kampanye ke sekolah untuk edukasi reproduksi atau antirokok/napza. Sesekali ada baksos juga di sini,” jelas pemilik akun Instagram @dr_pranata ini.

Lucunya, karena masih muda dan tampan, dokter ini kerap diminta jadi menantu oleh ibu-ibu yang jadi pasiennya. “Akhirnya, daripada  pusing dan nggak enak nolak, saya mengaku sudah menikah dan punya  anak satu, hahaha,” tawanya.

Tak hanya pengalaman lucu, Yudi juga kadang mendapatkan moemen-momen yang membuat hatinya terenyuh. “Terutama saat kita tahu prognosis pasien itu buruk,  tidak ada harapan, tapi  tidak  bisa menyampaikan itu ke keluarga, karena kita bukan Tuhan,” ungkapnya. “Yah, paling saya  bilang minta keluarganya agar berdoa aja, dan sebagai  dokter saya tidak bisa bantu apa-apa lagi.”

Ihwal dokter-dokter muda yang tak seperti dirinya mau blusukan hingga ke pedalaman Indonesia, Yudi berkomentar,” Mereka yang pilih-pilih sebenarnya nggak siap keluar dari zona nyaman. Sebenarnya rugi banget, di daerah pengalaman akan lebih banyak, dapat lingkungan/keluarga baru, dan dokter di daerah relatif lebih dihargai. Tap itu hak.mereka sih. Setiap orang punya pertimbangan masing-masing.”


Dan sebagai tenaga kesehatan yang berada di daerah, Yudi berharap,” Masyarakat daerah  butuh dijangkau,  jangan dimarginalkan.Saya akui memang pembangunan kita ngggak merata dan nggak adil antara yg di kota besar dengan  yang di pelosok. Untungnya, tenaga kesehatan di sini  luar biasa dedikasinya.”