Wednesday, September 16, 2015

Menikmati Sensasi Bukan Teh Biasa ala Porto di Dilmah RHTC Cafes and Restaurants 2015



Jalan Setiabudi Bandung tak pernah sepi menjelang siang. Saya jarang melewati jalan ini jika tidak karena harus menyambangi Porto Restaurant. Ya, di sinilah acara Dilmah Real High Tea Challenge Caf├ęs and Restaurants untuk kota Bandung  dimulai.

Memasuki Porto, saya langsung bertanya-tanya alasan disimpannya sebuah  miniatur kapal layar di meja lobi. Bahkan ketika masuk, saya melihat beberapa miniatur perahu dan juga peta penjelajahan. Saya pikir berhubungan dengan dekorasi untuk  acara Real High Tea Challenge (RHTC).

Porto Restaurant, Jalan Setiabudi 53,  tempat pertama penyelenggaraan
Real High Tea Challenge Cafes and Restaurant 2015 di Bandung. 

“Porto itu artinya pelabuhan. Jadi bisa disimbolkan dengan perahu yang berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan berikutnya,” jelas Manajer Porto Restaurant, Stephanie Yansen Theniko. Filosopi itulah yang juga dijadikan untuk Porto berganti tema secara berkala mengganti menunya sesuai dengan perjalanan kapal tersebut.

“Jika sedang berlabuh di Rusia, kami sediakan menu khas Rusia. Saat ini kami sedang berlayar menuju ke Amerika,” tambah Stephanie.

Hmm, kira-kira seperti apa ya menu yang disiapkan dengan tema seperti itu di ajang Dilmah Real High Tea Challenge ini?

Tiga Tahap

Sayap kanan restoran rupanya sudah disiapkan sebagai ruangan presentasi menu andalan Porto. Karena terdiri dari tiga menu berbeda, ruangan pun disekat menjadi tiga bagian.  Masing-masing ruangan tampak didesain apik, detail dan sedikit berbeda. Saya melihatnya seperti  tiga jenis kamar keluarga yang berbeda.

Dua juri utama RHTC pun duduk mengambil kursi di uang pertama. Mereka adalah Eliawati Erly selaku Brand Ambassador Dilmah Indonesia sekaligus mewakili PT. David Roy Indonesia (Sole Agen Dilmah di Indonesia) dan Oxone Battle Chef 1st Winner, Chef Nanda.


Presentasi Porto diwakilkan kepada Chef Eric Lowell yang tampak masih muda. Pada awal presentasi, Chef Eric menjelaskan garis besar konsep sajiannya yang terkait dengan kelahiran, menikah dan masa ulangtahun pernikahan.

Proses penjurian di Porto Restaurant.


Sajian pertama yang membuat mata saya saya terbelalak  adalah Cocotte de Saumon. Tadinya saya pikir merupakan sajian telur ayam. Ternyata cangkang telur ayam  dipakai hanya untuk wadah yang diisi oleh salmon tartar, roti kering, kecambah lobak kering, dan lelehan telur setengah matang dengan caviar di puncaknya. Pasangan untuk menikmatinya adalah Dilmah Lapsang Souchong Tea.

Telur sengaja dipilih karena terkait dengan tahap kehidupan manusia yakni melahirkan. Bahkan penyajiannya pun sengaja dibuat seperti telur yang menetas di atas jerami. Hahaha, sebanarnya sayang kalau dimakan. Jadi pajangan saja keren kok. But no! Ini kan acara makan-makan bukan pajang-pajangan.

Cocotte de Saumon, simbol dari kelahiran.


Dari bentuknya yang imut dan lucu saya membayangkan rasanya gurih-gurih asyik di lidah. Apalagi ada taburan caviar di atasnya. Dan ternyata … perkiraan saya benar. Sensasi yang ditimbulkan seperti sedang melahap makanan pembuka ala bangsawan Prancis. Hanya mungkin karena saya kurang suka dengan telur setengah matang, jadinya saya tidak menghabiskannya.

Presentasi kedua yang dilakukan di ruangan tengah lebih unik karena merupakan tahap pernikahan. Porto Restaurant rupanya sangat serius di tantangan ini karena terlihat dalam persiapan konsepnya. Bahkan sepasang model pengantin dilibatkan dalam prenestasi pada sesi kedua ini.

Nama sajiannya adalah Almond Lava Cake dan cocktail Pepper Mint Hopper.  Ukuran bentuk Almond Lava Cake sebesar telur ayam, sehingga dalam penyajiannya diletakkan di puncak kue pengantin. Jenis cake ini memang masih tren di Bandung, entah dengan nama Lava maupun Vulcano. Saya sendiri adalah salah satu penggemarnya.

Penjurian Almond Lava Cake
dan cocktail Pepper Mint Hopper.


Saat mencicpi cake. saya merasa cake dengan bahan cokelat belgia ini  seperti yang lebih keras ketimbang lava yang biasanya saya makan. Tidak ada kesan lelehan cokelat di dalamnya. By the way, karena saya suka cokelat, ya habis juga. Walaupun dari dark chocolate, rasanya manis bingit. Saat memasukkan cokelatnya ke mulut, saya sempat mencari-cari rasa teh. Katanya, cake ini diinfussed juga dengan Italian Almond Tea.

Hmm, mungkin karena cokelatnya sangat strong agak lama saya bisa merasakan rasa tehnya. Voila! Pengen lagi!

Tentang cocktail yang disajikan bareng, sepertinya saya hanya bisa pinjam mulut teman-teman deh. Rada khawatir dengan campurannya.  Tapi saya sih yakin rasanya pasti bisa bikin lidah goyang dan tenggorokan mengalami sensasi melayang. Oh iya, cocktailnya ini terdiri dari krim teh peppermint dingin dengan liquir, dan cokelat putih.

Konsep hidangan kedua adalah tahap pernikahan. Rasa manis yang kuat dari menu yang disajikan merupakan harapan agar pernikahan kemudian diberkahi cinta dan kehidupan yang manis selamanya. Aamin. Saya juga mau didoaian begitu walaupun nggak minum cocktailnya.


Menikmati sensasi Cod Imperica.


Sajian terakhir yang disajikan adalah Cod Imperica yang merupakan signature dari Chef Eric. Sekilas saya ingat ketika ke Venesia, Italia, saya sempat makan brucheta dengan toping ikan laut Adrian. Nah, kalau ini di atas roti kering diberia ikan cod dan caviar. Rasanya? Sensai asin siap mampir di lidah. Tapi itulah fungsinya teh yang menyertai makanan ini. Agar lidah bisa segera ditawarkan dengan rasa-rasa yang amat kuat.

By the way, saya suka Cod Imperica ini. Dan kalau melihat Chef Eric mendemokan cara memasaknya, sepertinya saya juga bisa kok. Paling nggak mendekatilah. 


Begini cara menyiapkan Cod Imperica.
Pertama Kali

Di sela-sela acara saya sempat bertanya kepada Eliawati Erly ihwal acara Dilmah RHTC 2015 ini. "Ini merupakan kali pertama digelar di Indonesia untuk kategori cafe dan restaurat. Sebelumnya pernah dilakukan untuk kategori hotel," jelas Brand Ambassador Dilmah Indonesia ini.

Juri Eliawati Erly selaku Brand Ambassador Dilmah Indonesia


Karena biasanya kelas cafe dan restaurant berbeda dengan hotel jelas ada penilaiannya. "Di hotel mereka menyiapkan dalam jumlah banyak, sementara di cafe biasanya lebih sedikit. Jadi persiapan dan pengolahannya bisa lebih serius," jelas Chef Nanda

Judge Chef Nanda


Lantas apa hal penting dalam penilaian kali ini?

"Kalau saya sih cara yang paling gampang, terutama yang memakai campuran teh, adalah dengan merasakan langsung tehnya. Kalau kita tidak terlalu lama susah-susah mencari rasa tehnya, itu berhasil," jelas Chef Nanda.

Kedua juri ini selain menilai di Porto Restaurant juga menilai di beberapa tempat di Bandung, seperti Javana Bristo. The Peak, Cocorico Cafe, dan juga OZT Cafe Steak House. Pemanang ajang ini akan mendapat uang cash dan sertifikat. Duh, jadi penasaran ...

(Foto-foto: Benny Rhamdani)