Sunday, October 25, 2015

Iptu Rafyk, Polisi Tampan yang Jago Bahasa Mandarin




Sekilas penampilannya sangat mirip penyanyi jebolan Indonesia Idol, Judika. Muhammad Rafyk tak menampik jika ada yang menyatakan hal itu. Dan untungnya, polisi berpangkat Iptu ini juga jago tarik suara, terutama dalam bahasa Mandarin.

“Karena  jumlah populasi penduduk Tionghoa  menyebar di belahan dunia manapun, dan merupakan bahasa Internasional jadi saya tertarik mempelajarinya sejak bergabung dengan Polri,” ucap pria yang masuk jadi polisi sejak tahun 2003 ini.

Awalnya, Rafyk menyukai bahasa Mandari melalui lagu-lagu Mandarin koleksinya. “Isi hape saya kebanyakan lagu Mandarin. Saya dengarkan lagu-lagu itu sesering ngkin sehingga lebih mudah ketika akhirnya belajar bahasa Mandarin,” tambah pria kelahiran Pontianak, 23 Oktober 1985 ini.

Kepiawaiannya bahasa Mandarin juga ditempa di Sekolah Bahasa Polri di Cipinang, Jakarta Timur. “Komandan saya memberi fasilitas saya belajar menulis hanzi, percakapan, membaca dan mendengarkan di Sekolah bahasa Polri selama tiga bulan,” papar angota Polda Kalimantan Barat ini yang pernah masuk 10 besar lomba nyanyi lagu Mandarin di sebuah stasiun tv swasta nasional ini.

Tak hanya sekolah, Rafyk pun mengikuti studi banding ke China untuk memperdalam kemampuan bahasa Mandarin serta pengetahuan buadaya Tionghoa. Lantas apa untungnya punya keahlian bahasa Mandarin bagi tugas kepolisiannya?

“Manfaatnya sangat banyak. Saya dinas di wilayah hukum Polda Kalbar yang mayoritas penduduk di kota adalah keturunan  Tionghoa. Mereka menggunakan bahasa Khek dan Tiu Ciu. Tetapi tidak sedikit yang menggunakan bahasa Mandarin, terutama keturunan Tionghoa  berusia di atas 40 tahun,” jelas pemilik akun Instagram @real_rfk ini.



“Manfaat lainnya untuk menunjang pelaksanaan tugas saya sebagai anggota Polri yang dinas di direktorat objek vital atau  yang lebih dikenal dengan polisi pariwisata. Selain itu, ketika anggota reskrim menangani perkara yg berkaitan dengan orang asing khususnya yang berbahasa mandarin sangat diperlukan dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Kebetulan sebelum dinas di Direktorat Pam Onvit, saya   pernah menjabat sebagai Kanot Reskrim kurang lebih 18 bulan,” kata juara 2 Lomba Menulis Hanzi antar TNI-Polri dan  pelajar  pada tahun 2015 ini.

Selain gemar menggeluti  budaya Tiongkok,  Rafyk juga hobi belajar budaya India, inline skate  dan  traveling ke pusat-pusat pariwisata di Indonesia dan negara tetangga negara tetangga. “Traveling Indonesia sudah  22 provinsi. Kalau  traveling kadang sendiri, kadang bersama  teman kantor,” jelas Rafyk. Dan enaknya jadi polisi, saat traveling sendiri pun biasanya ditemani oleh teman polisi satu angkatan di kota tujuan di Indonesia.


Rafyk mengakui bahawa Tembok Raksasa  dan Tiananmen  di Tiongkok adalah teampat wisata favoritnya. Tapi bukan berarti di Indonesia tak ada obyek wisata ayng bagus.  “Candi Muara Jambi termasuk salah satu  tempat wisata sekaligus bersejarah yang bagus tapi belum dipopulerkan. Padahal candi  itu merupakan candi tertua dan pusat sekolahnya para biksu dari seluruh penjuru dunia pada zaman dahulu,” jelasnya.


Rafyk menyesalkan kejadian kabut asap di Indonesia dan mengganggu industri pariwisata Indonesia.  “Dengan tebalnya kabut asap di wilayah Indonesia  khususnya Kalimantan Barat, secara otomatis berdampak kepada jumlah wisatawan mengingat belum stabilnya jalur transportasi udara dan air,” tandas Rafyk.