Thursday, October 15, 2015

Mencicipi Makanan Lokal di Dua Tempat Kuliner Jogja




Akhir pekan lalu saya tiba di Jogja, dan langsung dijemput Ketua Jurusan Diploma Jurusan Ilmu Perpustakaan Bu Marwiyah bersama keluarganya. Untunglah saya nggak langsung dibawa ke penginapan mengingat di kereta tadi saya nggak berselera makan siang.

Saya diajak menuju ke Resto Merapi yang lokasinya tepat di depan bangunan SMAN 3 Jogja. Suasananya relatif sepi. Hanya ada sepasang tamu di dalamnya. Mungkin karena masih terbilang baru. 


Sebelum duduk saya memilih menu, dan pilihan saya langsung jatuh ke pecel Jogja. Saya harus menahan diri untuk mencicipi daging-dagingan merah selama di luar kota. Kalau darah tinggi saya naik terus kan berabe. Sebagai teman makan  saya memesan teh manis dingin.

Tidak lama kemudian pesanan saya datang. Tumpukan sayur mayur itu langsung membuat selera makan saya muncul. Sekilas saya melihat porsi nasi yang relatif banyak. Tapi ya dicoba saja pelan-pelan untuk dihabiskan.

Saya suka bumbu pecel Jogja yang tidak terlalu encer tapi tidak juga kental. Pas. Rasanya juga pas di lidah, walaupun sebenarnya saya lebih cocok bumbu pecel Madiun. Peyek kacang yang menemani juga terasa gurih dan renyah.

Tak berapa lama pecel pun habis. Nasinya juga. hehehe. Cuman rasanya saya pilih minumannya. Rasanya lebih cocok makan pecel jika tehnya tidak manis dan tidak pakai es alias teh tawar hangat. Oke deh, kakak. Nanti kalau ke sini lagi, saya akan coba menu lainnya ya.

Jadah Bakar Leker





Malam kedua di Jogja saya diajak oleh Mak Labibah, dosen merangkap blogger beken, ke kawasan XT Square. saat turun dari mobil saya agak curiga. Kok sepi ya? Ternyata memang tempat tersebut lebih pas dikunjungi di atas pukul sembilan malam. Saat live music mulai berkumandang.

Akhirnya kami memilih salah satu kedai dan pilihan menunya yang saya langsung inginkan adalah mie godok Jogja dan jadah bakar. Kalau mi godok Jogja sih memang udah jadi favorit saya dari dulu. Tapi jadah bakar tuh baru.



Jadah bakar ini mengaingatkan saya dengan ketan bakar khas Lembang. Tapi yang ini nggak ditemani sambel oncom. Malah ada varian yang dipakaikan keju atau cokelat. Saya lebih suka yang original saja. Teman minumnya tentu saja saya pilih secangkir kopi gayo. Hahaha pokoknya Aceh ketemu Jogja.

Mie godok Jogja saya ludeskan dengan waktu singkat. Entah mengapa, saya suka banget ya kuah mie jogja ini. Apalagi ada cabe rawit utuh sebagai ranjau penyedap. Jadi nggak perlu dikasih sambel instan.



Untuk jadah bakarnya saya juga suka. Hanya kalau dibandingkan dengan ketan bakar lembang sih masih lebih suka ketan bakar lembang. Soalnya aroma sangit bakarnya lebih menggoda. Kalau ini bakarannya masih halus.

Nah, karena waktu sudah larut malam, kami pun bergegas pulang. Kebetulankami melewati kedai kopi yang bikin saya ingin mampir. Hmm, mungkin kunjungan berikutnya ya.