Sunday, November 1, 2015

Misteri Penjara Banceuy Bandung



Pernah mendengar Penjara Banceuy?  Pada masa penjajahan Belanda, orang menuliskannya Bantjeuj. Dalam bahasa Sunda, banceuy berarti kandang kuda atau istal. Benarkah ada misteri di penjara tersebut?

Jalan utama di dekat Banceuy yang sekarang dikenal dengan Jalan Asia Afrika merupakan jalur perintis di Bandung yang merupakan jalan bagi armada pos. Di belokan, terdapat sebuah kantor pos besar yang pada saat itu armada posnya menggunakan kuda sebagai alat transportasi.Tak heran jika di dekatnya didirikan kandang kuda yang kemudian muncul sebutan Bantjeujweg.

Tidak hanya kandang kuda, sejak tahun 1877 Banceuy lama-lama dikenal sebagai tempat berdirinya penjara untuk tahanan kriminal kelas teri dan tahanan politik. Dan di penjara itulah pada Desember 1929, seorang pemuda bernama Soekarno yang merupakan ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) dijebloskan ke dalamnya.



Menurut catatan sejarah, Soekarno tidak sendirian ditahan, melainkan bersama R. Gatot Mangkoepradja (Sekretaris II PNI Pusat PNI), Maskoen Soemadiredja (Sekretaris II Cabang Bandung), dan Soepriadinata (Anggota PNI Cabang Bandung). Kalaupun saat ini hanya satu sel bekas hunian Soekarno yang dipertahankan karena dari keempat orang itu, Soekarno yang kemudian jadi Presiden RI.

Di sel no.5 berukuran 2,5 x 1,5 meter itulah Soekarno kemudian menyusun pleidoi yang belakangan dikenal sebagai Indonesia Menggugat (Indonesie Klaagt Aan). Kantor pengadilan yang terletak di pojok Jalan Perintis Kemerdekaan, kini disebut sebagai Gedung Indonesia Menggugat, setelah sebelumnya sempat menjadi kantor Badan Metrologi.





Tak ada yang kekal, nasib penjara Banceuy demikian. Karena mulai tak keruan, Penajara Banceuy kemudian dipindahkan ke Jalan Soekarno Hatta pada tahun 1983. Lantaran semua tahu penjara itu pindahan dari Banceuy, orang masih saja menyebutnya Lapas Banceuy.

Pada tahun 1985, penghuni Lapas Banceuy yang kebanyakan tahanan Narkoba dipindahkan ke Lapas Kebon Waru di Jalan Jakarta, Bandung. Perlahan, sebutan Penjara Banceuy pun hilang. Apalagi penjara di Banceuy kemudian dirobohkan menjadi pusat perkantoran dan perbelanjaan bernama Banceuy Permai. Kawasan Banceuy sendiri kemudian lebh dikenal sebagai pusat elektronik, semacam Glodok-nya orang Bandung.

Saya sempat menyaksikan betapa Banceuy Permai pada akhirnya seperti ‘kena kutukan’ sebagai pusat perbelanjaan yang tidak pernah bisa bertahan lama. Masih ingat ketika Banceuy Permai akhirnya bangkrut, meskipun sudah ada sebuah department store ternama. Setelah itu, dijadikan pusat penjualan baju bekas yang dikenal dengan istialah ‘Cimol’. Tapi itu pun tak bertahan lama. Terakhir, saya sempat juga melihat bangunan itu berubah menjadi pusat penjualan oleh-oleh haji ala Tanah Abang. Lagi-lagi tak bertahan lam, kemudian bangkrut.




Menurut  Haryoto Kunto, penulis buku Wajah Bandung Tempo Doeloe, area bekas penjara Banceuy tersebut masuk wilayah mistis yang disebut Sumur Bandung.  Termasuk juga kawasan bekas gedung Miramar dan Palaguna yang kini dihancurkan. Konon, kawasan Sumur Bandung tidak cocok untuk perniagaan karena akan mendatangkan kebangkrutan. Lebih pas untuk perkantoran ataupun sosial.

Entah benar atau tidak, kadang saya merasa diuntungkan dengan adanya mitos tersebut. Karena jadinya saya masih bisa melihat jejak sejarah Soekarno di sana, yakni satu sel bekas Soekarno dan salah satu bagian menara pengawas. Bagian menara terlihat dari pinggir Jalan Banceuy. Sedikit masuk ke dalam, kita akan menemukan area kecil berbentuk monument setengah terbuka sel tahanan nomor 5. Agak unik juga sebab berada di deretan tempat parkir dan himpitan dua bangunan tinggi.

Di area monumen, pengunjung bisa membaca jejak sejarah Soekarno dalam merintis pergerakan kemerdekaan RI, juga tentunya sel asli berisi barang mock-up yang dulu pernah ada saat Soekarno di dalamnya.


Di masa walikota Ridwan Kamil, monument ini tampak lebih menarik untuk dikunjungi ketimbang tahun-tahun sebelumnya yang kerap jadi tempat menjemur pakaian. Apalagi monument ini juga merupakan bagian dari kawasan 60 tahun Konferensi Asia Afrika yang baru lalu.