Tuesday, November 24, 2015

Tiga Polisi Ini Juga Mengabdi Jadi Guru

Hari Guru Nasional selayaknya juga ditujukan kepada profesi non-guru tapi mereka mengabdikan diri juga mengajar masyarakat. Salah satunya adalah para polisi yang dengan sukarela berbagi ilmu demi mencerdaskan anak bangsa.

Banyak polisi, terutama di pedalaman yang merangkap menjadi guru. Sedikit yang mengekspose kerja ekstra mereka. Sedikit pula yang mengapresiasi mereka. Tapi niat ulus mereka, membuat para polisi ini tak runtuh niatnya untuk menjadi seorang guru.


Brigadir Sahammudin, Mengajar Agama Islam 



Di pedalaman Papua, tepatnya di wilayah Distrik Demta Kabupaten Jayapura,seorang Polisi berpangkat Brigadir Polisi dari satuan Polsek Demta, turun tangan membantu mengajar siswa di SD Negeri Inpres 1 Demta.

Sahamuddin terpanggil mengajar, karena prihatin tidak adanya tenaga didik bidang agama Islam dan matematika di sekolah tersebut, hingga siswa tidak mendapatkan pelajaran yang maksimal seperti siswa SD di daerah lain.



Aiptu Jaelani, Menyisihkan Gajinya



Polisi yang berdinas pada Polsek Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini  harus jadi teladan polisi lainnya. Namanya Ajun Inspektur Satu Jaelani, .Selain berdinas sebagai polisi, dia juga mengabdi sebagai guru sekolah dasar.

Jangan berpikir dia mencari penghasilan tambahan, melainkan mengabdikan diri di kampung tempat tinggalnya. Bahkan terkadang Jaelani menysihkan gajinya untuk membantu murid-murid yang tidak mampu.

Jaelani mengajar di SD Budi Asih, Kampung Cigaruh, Desa Wangun Jaya, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur. Sekolah itu didirikannya bersama warga sekitar, lima tahun lalu. Sejak itu pula, polisi ini selpas dinas mengajar untuk semua mata pelajaran karena keterbatasan guru.


Bripka Suheri, Mengajar Membaca dan Menulis Suku sakai



Bripka Suheri Sitorus sejak Februari 2012 ditunjuk sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Pauh Kecamatan Kunto Darusssalam. Sejak tahun 2013 Suheri mengajar warga Sakai Desa Pauh tulis baca, sebuah kegiatan diluar tugas pokoknya sebagai polisi maupun Bhabinkamtibmas.

Ketika pertama berdinas, Suheri sangat terkejut sekaligus prihatin karena perangkat Desa Pauh tidak bisa baca tulis. Dia tidak bisa bayangkan, surat-surat administrasi desa tentu mereka tandatangani tanpa mengerti isinya.

Risau menghadapi masalah ini, Suheri mengajak Afrizal (35), Batin Adat Suku Sakai Desa Pauh untuk belajar baca tulis. Karena Afrizal dihormati warga, dengan mudah ia mengajak warga yang lain ikut belajar. Awalnya yang mau belajar hanya 2 orang,  yakni Yetno Virgo (34) dan Ratih (19). Ditambah Afrizal, maka tiga orang itulah murid pertama Suheri. Mereka belajar di Pospam KM 25 Desa Pauh, dua kali seminggu selepas Isya.

Saat ini muridnya mencapai 45 orang suku Sakai.


Tentu saja bukan hanya tiga polisi ini yang mengabdi menjadi guru. Masih banyak cerita polisi menjadi guru lainnya. Seperti para polisi di pedalaman Papua maupun pesisir Kalimantan. semoga tiga polisi ini dapat menjadi teladan kita semua.


(Foto dan sumber: tribratanews.com, dll)