Tuesday, January 19, 2016

Mengejar Kupu-kupu di Air Terjun Bantimurung






Waktu saya hanya sedikit untuk berangkat ke Bandara Hassanudin, Makassar, Hari itu. Tetapi seorang teman meyakinkan bahwa saya bisa berkunjung ke tempat wisata alam Taman Nasional Bantimurung, Kabupaten Maros. Apalagi jarak ke bandara dari Bantimurung tak seberapa jauh.

Akhirnya saya berangkat ke Bantimurung dari Makassar pagi itu dengan menggunakan petek-petek atau angkot. Dari daerah Daya (Jalan Printis Kemerdekaan) saya naik angkot menuju ke Pasar Maros sekitar 20 menit. Dari Pasar Maros perjalanan dilanjutkan dengan angkot menuju Bantimurung.

Agak sulit juga membedakan angkot ke jurusan Bantimurung karena tulisan tujuan kurang terbaca dari jauh. Tapi di depan Pasar maros saya minta bantuan supir angkot yang sedang ngetem. Jadi nggak terlalu sulit.

"Biasanya ada yang ngetem di sini," kata supir petek-petek itu.



Perjalanan menuju ke Pasar Maros yang lurus-lurus saja dan terbilang lancar karena hari masih pagi. Saya sendiri sengaja berangkat pagi karena biasanya angkot tidak gampang ngetem. Pagi itu saatnya pelajar brangkat sekolah, otomatis angkot penuh. Di kiri kanan banyak sekali kedai-kedai penjual roti Maros yang khas.


Perjalanan ke Bantimurung berbeda lagi karena sudah masuk ke alam pedesaan. Jalanan dengan aspal yang licin dan kendaraan yang terbilang jarang, membuat supir menjalankan mobilnya dengan kencang. Saya pun menikmati pemandangan sisi jalan yang indah dan asri. Rumah-rumah panggung yang unik, diselingi hamparan pepohonan di kejauhan.

Ternyata jarak dari Pasar Maros ke bantimurung relatif dekat. Saya pikir tadinya akan melewati jalan berliku dan naik-turun. Dan enaknya lagi, trayek angkot ini mengantar saya sampai depan pintu loket Wisata Bantimurung. Soalnya, selain saya juga naik beberapa pedagang dari lokasi wisata.

Lembah Kupu-Kupu 







Setelah bayar karcis, saya masuk dan sempat ditawari jasa pemandu. Saya sedang terburu-buru jadi kurang berminat. Jadi saya masuk saja memgikuti papan penunjuk. Tempat yang saya sasar pertama kali adalah museum kupu-kupu. Tapi karena terlalu pagi, museum itu masih digembok.  Nggak lucu kan kalau saya bongkar paksa.

Di sebelahnya terdapat sangkar untuk pengangkaran kupu-kupu yang agak horor dilihat sepagi itu. Maka saya pun beringsut menuju ke lokasi lain.





Kembali ke jalan utama taman yang bernama lengkap  Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saya kagum dengan bukit-bukit karst yang mengelilinya. Apalagi banyak celah-celah yang menyerupai gua alami. Bawaannya pengen berteduh, bakar ayam dan menikmatinya ala-ala orang purba.

Beberapa kupu-kupu berterbangan selapanjang saya berjalan. Tidak heran jika Bantimurung mendapat julukan Kerajaan Kupu-kupu. Kabarnya, terdapat 250 spesies kupu-kupu di etmpat ini. Dan 20 di antaranya dilindungi. saya tidak tahu mana saja yang dilindungi. Tapi memang kupu-kupu memang selayaknya semua jangan sampai musnah karena membantu tanaman dalam penyerbukan.

Di ujung teman, mata saya tertumbuk pada air terjun yang mengalirkan air dengan deras. Rupanya inilah air terjun Bantimurung yang terkenal itu. Saya segera merasakan airnya yang sejuk dan berlama-lama di sekitarnya untuk mengambil beberapa foto. Sampai sempat-sempatnya mengejar kupu-kupu cantik yang berterbangan dekat air tejun Bantimurung.

Tak berapa lama datang beberapa pria dan bermain di pinggir air terjun itu. Kalau tidak terburu-buru mungkin saya juga akan ikut mandi.

Selain air terjun juga terdapat beberapa lokasi yang bisa dikunjungi, seperti Goa Mimpi yang bisa memintas jalur Taman Nasional Bantimurung. Jumlah goa di sekitar Bantimurung sangat banyak. dan konon goa itu dulu sering dipakai untuk bersemedi.

Cendera Mata





Di taman ini, fasilitas menurut saya terbilang lengkap. Mulai dari mushola, kedai makanan, sampai toilet mudah diakses. Bahkan trdapat bungalow yang bisa disewa Rp850.000 per malam. Juga terdapat gazebo dan saung kecil untuk disewa sewaktu-waktu ingin bikin acara kantor atau keluarga.


Begitu pula dengan souvenir. Semua lengkap. saat hendak keluar malah di kantor informasi saya sempat ditawari membeli satu kotak kupu-kupu aneka warna yang dikeringkan sebanyak 15 ekor. Tapi saya kasihan melihatnya, jadi tidak jadi beli,

Di luar pun demikian. Kotak-kotak berisi kupu-kupu dijual di beberapa kios. Selain tentunya kaos, topi dan pernak-pernik berbau kupu-kupu. Saya terpaksa melewatinya khawatir waktu tak cukup untuk mencapai bandara.

Pastinya, saya tidak menyesal melipr ke Taman Wisata Bantimurung. Apalagi perjalanan bolak-balik Bantimurung melewati pemandangan yang menyenangkan. Suatu hari saya ingin datang lagi ke sini bila ada trip ke Makassar. Bahkan membawa keluarga saya.