Monday, January 18, 2016

Menikmati Karya Seni di Pantai Losari Makassar


Buat apa ke Pantai Losari di Makassar? Pantainya tidak ada pasir dan karang seperti pantai-pantai di Bali. Begitulah kata seorang teman. Tapi saya menemukan keasyikan tersendiri saat melipir ke Pantai Losari. Mata saya dimanjakan karya seni anak bangsa di pantai ini.

Pantai Losari terdiri atas empat anjungan, yakni anjungan Pantai Losari, anjungan Metro Makassar dan Bugis-Makassar, serta anjungan Toraja-Mandar.

Beberapa karya seni yang bisa kita nikmati di Pantai Losari, mulai dari seni arsitek, seni instalasi, seni patung, sampai seni lukis. Bagi saya ini semacam memberi penyegaran jiwa di tengah panasnya kota Makassar yang membuat saya kerap berkeringat saat di luar ruangan.

Seni Arsitek Masjid Amirul Mukminin





Padahal saya masuk ke area Pantai Losari masih pukul delapan, namun matahari sudah menengat kulit. Tujuan pertama saya adalah melihat-lihat masjid terapung Amirul Mukminin yang tampak anggun berdiri di atas tiang setinggi sembilan meter.

Karena air laut sedang surut, saya tak melihat masjid itu sedang mengapung. Mungkin lepas senja barulah masjid ini bisa tampak terapung di pantai Makassar. Kendati tampak kecil, ternyata masjid ini bisa sampai menampung 400 jemaah lho.


Masjid ini memiliki gaya arsitektur yang unik. Di inggir Masjid terdapat tangga yang menjulang  dan menjalar melingkari masjid dari lantai pertama hingga tiga. Bila hendak sahalat magrib, jamaah akan melihat pesona Pantai Losari  saat melewati tangga tersebut. Lantai yang paling atas digunakan sebagai tempat khusus bagi jamaah yang ingin melaksanakan shalat sendiri (biasanya sholat sunnah) agar lebih khusuk. Lantai kedua  khusus untuk jamaah wanita. Lantai pertama digunakan shalat bagi jamaah pria. Arsitek Danny Pomanto yang mendesain masjid ini juga memberikan aksen  jendela terbuka sehingga angin pantai masuk ke rongga Masjid.


Kendati sudah diberi nama resmi masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Terapung, Masjid Biru, dan Masjid 99 Al Makazzary. Berdiam sejenak di masjid ini sambil mengamati seni arsitekturnya merupakan hiburan tersendiri buat saya.

Seni 20 Patung Dada






Di pelataran depan Masjid Terapung, saya melihat duapuluh patung dada  berwarna putih berdiri gagah. Selain nama, juga terdapat keterangan informasi tahun kelahiran. Tentu akan lengkap jika ditulis juga peranan mereka hingga patung dada mereka hadir di sana. Khususnya bagi wisatawan yang ingin belajar sejarah kota Makassar.

Saya sendiri hanya mengenal lima nama dari keseluruhan. Selebihnya saya baru tahu ketika membaca internet. Kira-kira berapa nama yang Anda kenal dari deretan nama ini? Arung Palakka, Andi Sultan Daeng Raja, Andi Lasinrang, L.S. Madukelleng, Ranggong Daeng Romo, Jenderal M. Yusuf, Andi Pangeran Pettarani, Karaeng Patingaloang, Mayor Jenderal A. Mattalata, Pongtiku, dan Andi Djemma.


Sayangnya ada patung dada yang dicoreti tangan-tangan usil. Saya mau menghapusnya tadi tidak bisa. Oh iya, selain patung dada juga ada patung lainnya.

Patung Sultan Hasanuddin, pahlawan nasional asal Gowa, bertengger di Anjungan Losari. Karena keberaniannya pahlawan ini dijuluki “De Haantjes van Het Oosten” oleh pihak Belanda, yang artinya Ayam Jantan dari Timur.

Di sebelah patung itu, ada patung Andi Abdullah Bau Massepe, seorang asisten residen (Ken Kanrikan)—bentukan Jepang ketika itu, pahlawan nasional yang menyerukan agar semua rakyat untuk bersatu mempertahankan kemerdekaan sampai tetes darah penghabisan. Ada juga sosok ulama besar penyebar Islam, yaitu Syekh Yusuf.

Di anjungan Bugis-Makassar beridiri patung berbentuk becak, kapal pinisi, permainan paraga, dan tarian pepe-pepeka ri makka.





Patung-patung di anjungan Bugis-Makassar ini dibuat oleh perajin dari Mojokerto, Jawa Timur, Yusach N.H. Sementara patung tokoh-tokoh Sulawesi Selatan, dibuat oleh perajin asal Toraja. Masyarakat Toraja terkenal dengan budaya membuat patung kayu, yang dikenal dengan nama tau-tau.

Di pelataran Toraja-Mandar  beridiri patung tedong bonga—kerbau belang, tongkonan—rumah adat Toraja, dan tari pa’gelu.  Pembuatan patung-patung di anjungan Metro Makassar dan Bugis-Makassar ini, menghabiskan biaya sekitar Rp 2 miliar, kabarnya.

Seni Lukis di  Makassart Gallery




Hal paling menarik selain foto-foto selfie di depan instalasi  aksara nama kota dan suku di Sulawesi Selatan, buat saya adalah ketika menemukan Makssart Gallery. Wuah, sebagai pecinta karya lukis, saya langsung buru-buru masuk ke dalamnya,

Saya sungguh mengagumi coretancoretan cat di atas kanvas yang terpajang di galeri. Kesedrahaan, kekayaan warna merupakan kekuatan yang ditawarkan banyak pelukis. Waluapun penataan display masih seadanya, masuk galeri ini ibarat menemukan oase di padang pasir.




Di luar tampak seorang bapak tengah membuat sektsa dengan sungguh-sungguh. Saya ingin bertanya-tanya tapi khawatir mengusik konsntrasinya. Jadi saya harus puas cukup dengan melihat bapak itu sedang berkarya.

Seandainya ruang galeri ditata lebih apik, saya yakin orang akan semakin tertarik mengunjunginya dan belama-lama di dalam.

Siang makin terik. Jiwa saya terpuaskan sudah dengan karya seni yang bertaburan di Pantai Losari. Selama ini, saya membaca Pantai Losari lebih banyak dibahas soal kuliner kaki limanya, maupun momen sunset. Ternyata banyak hal lain yang bisa kita nikmat, tergantung passion kita tentunya.