Sunday, January 17, 2016

Pria Tampan Ini Pernah Menjadi Lurah Teladan Tingkat Nasional






Pria ini bernama Aris Ratu Djaga, lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tahun 2009. Tidak hanya ganteng, Aris juga pernah menyandang prestasi Lurah Teladan Nasional pada 2015. Lantas mengapa dia tiba-tiba mundur dari jabatannya?

 “Hari-hari pertama menjadi lurah saya jalani dengan mulai menyusun program yang akan saya lakukan ke depan, serta merumuskan beberapa strategi untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi saya. Awalnya, muncul pertanyaan dalam diri saya apakah saya mampu menjalankan tugas sebagai lurah yang harus menjadi panutan, contoh dan teladan  bagi staf di kantor terutama bagi masyarakat yang saya pimpin mengingat umur saya yang boleh dibilang masih muda,” ujar lurah termuda di Kabupaten Sumba Barat, NTT, saat itu berusia 26 tahun.

“Tidak mudah memang menjadi orang yang dituakan dalam sebuah komunitas masyarakat dengan usia yang masih cukup muda.B erbekal ilmu yang saya peroleh serta pengalaman saya sebelumnya tugas ini saya jadikan juga sebagai sarana belajar. Tidak jarang saya mendatangi sejumlah tokoh masyarakat di kelurahan itu untuk sekedar bercerita, slahturahmi sampai menggali pengalaman berharga dari mereka yang kemudian saya jadikan bahan dan masukan untuk saya dalam melaksanakan tugas,” kata pria kelahiran Waikabubak,  April 1987 ini.


“Tidak sedikit tantangan yang saya temui mulai dari karakter masyarakat, kondisi pemukiman yang padat, serta sejumlah masalah perkotaan mulai dari sampah, banjir, dan sebaginya. Namun semua itu tidak menyurutkan semangat saya malah itu saya jadikan sebagai motivasi untuk terus berkarya. Satu hal yang juga menjadi tantangan bagi saya adalah saat itu saya belum memiliki isteri untuk dijadikan ketua PKK sehingga menyulitkan untuk menggerakkan ibu-ibu di Kelurahan dalam wadah organisasi PKK. Dengan pendekatan khusus, saya berhasil memilih ketua PKK yang berasal dari warga setempat tetapi tetap bukan status sebagai isteri tentunya. Dengan semangat bersama ibu-ibu organisasi PKK di Kelurahan akhirnya mampu berjalan dengan baik sehingga menghantar PKK Kelurahan meraih sejumlah prestasi baik di tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi bahkan Nasional,” papar Aris yang sebelum menjabat sebagai lurah pernah menjadi sekretaris Kelurahan Pada Eweta, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur selama dua tahun sejak 2011

“Di samping tantangan, banyak juga hal-hal menyenangkan yang saya alami.  Dari mendapat tempat kehormatan pada setiap acara menjadi kebanggaan tersediri bagi saya ketika disetarakan dengan para sesepuh di kelurahan yang umurnya sudah paruh baya.  Satu hal yang sangat berkesan bagi saya ketika menjabat sebagai lurah adalah sebagian besar kegiatan dan program yang saya laksanakan di kelurahan mendapat dukungan besar dari kaum perempuan mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bahkan tidak jarang di beberapa kesempatan kegiatan tampak sejumlah lansia ikut berpartisipasi seolah-olah tidak mau ketinggalan. Saya sempat berpikir mungkin ini merupakan salah satu keuntungan yang saya dapat menjadi lurah dengan status single karena tidak canggung saat harus berbaur dengan segala kalangan yang ada di Kelurahan,” kata Pria yang dilantik oleh Bupati Sumba Barat Bpk. Jubilate P. Pandango, S.Pd,M.Si sebagai Lurah di Kelurahan Maliti Kecamatan Kota Waikabubak Kabupaten Sumba Barat pada bulan Juni 2013.



Tahun 2014, Aris terpilih sebagai Kelurahan terbaik Kabupaten Sumba Barat sekaligus menjadi Lurah Teladan Kabupaten  Sumba Barat dan Teladan Provinsi NTT Tahun 2014. “Tahun  2015 kembali prestasi demi prestasi kami raih dan kelurahan saya tidak hanya menjadi kelurahan terbaik di Kabupaten Sumba Barat namun juga menjadi Kelurahan Terbaik di Provinsi NTT serta mendapat predikat Teladan di Tingkat Nasional Tahun 2015  dan mendapat penghargaan untuk mengikuti perayaan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI Ke 70 di Jakarta yang lalu,” kenang Aris.

“Prestasi sebagai lurah teladan tentunya tidak datang dengan sendirinya, kerja keras, komitmen serta dukungan baik dari staf maupun masyarakat tentunya menjadi hal penting dalam mewujudkan itu semua. Pretasi tersebut saya raih berkat kerja sama dari semua pihak di Kelurahan dalam mewujudkan program-program yang saya buat. Beberapa program unggulan yang saya laksanakan saat itu antara lain, melihat perkembangan yang ada di pulau Jawa selama menjalani pendidikan di IPDN mendrong saya untuk berkreasi dalam melaksanakan tugas guna memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Dengan berbekal semangat saya berusaha melakukan pendekatan kepada beberapa anak muda yang punya kemampuan di bidang IT, kami mulai berusaha mewujudkan Kelurahan saya sebagai e-kelurahan yang mampu menggunakan teknologi dan informasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dimana kelurahan saya menggunakan aplikasi Pelayanan Administrasi sehingga memudahkan masyarakat dalam memperoleh administrasi serta tidak memerlukan waktu yang lama untuk sebuah pelayanan surat menyurat,” papar Aris.

“Selain itu dalam pendistribusian informasi kepada masyarakat kami juga membuat sebuah web sebagai media informasi kepada masyarakat juga kepada publik tentang perkembangan di Kelurahan yang dapat diakses secara terbuka melalui situs kelurahanmaliti(dot)com.  Di samping itu saya juga membangun kerja sama dengan sebuah provider telepon seluler untuk sebuah program distribusi informasi lewat sms sehingga mampu mendistribusi informasi-informasi penting kepada masyarakat secara cepat dalam bentuk sms. Yang awalnya dijalankan hanya bermodal semangat tanpa dana sedikit pun akhirnya program ini kemudian menjadi program percontohan yang direplikasi menjadi program kabupaten dan telah diterapkan di seluruh Kelurahan di Kabupaten Sumba Barat,” lanjutnya bersemangat.



Tidak puas dengan prestasinya, Aris kemudian atas restu dan dukungan orang tua melanjutkan pendidikan.  “Saya dapat restu dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat melalui Bpk. Bupati Jubilate Pandango. Atas restu Pemerintah Daerah saya diberikan Tugas Belajar dan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 2. Oleh karena itulah sesuai ketentuan yang berlaku maka saya harus melepaskan jabatan struktural sebagai Lurah saat itu untuk dapat melanjutkan penugasan yang baru yakni sebagai Mahasiswa Tugas Belajar Pemerintah Daerah pada Program Magister Administrasi Pemerintahan Daerah di IPDN Jatinangor,”lanjut Aris lagi.
  
Sungguh bukan hal mudah bagi Aris untuk melepas jabatannya. “Awalnya karena kedekatan dengan masyarakat yang sudah cukup dalam,  melalui sejumlah tokoh masyarakat menghadap saya untuk menyatakan keberatan atas pengunduran diri saya sebagai Lurah. Namun dengan sejumlah pertimbangan yang diberikan sesepuh-sesepuh masyarakat kepada mereka bahwa pengunduran diri saya sebagai lurah juga demi masa depan saya nantinya, akhirnya mereka bisa menerima dan juga merestui pengunduran diri saya untuk melanjutkan pendidikan,” kata pria santun pemilik akun instagram @radjariez ini.


Berbicara tentang statusnya yang masih single, sudah siapkah membawa calon Ibu Lurah nanti? ”Saat ini  status saya masih SINGLE alias JOMBLO hehehehe,” tutupnya.