Tuesday, March 1, 2016

Empat Alasan Memilih Tinggal di Hotel Aryaduta Makassar




Memilih hotel yang representatif terkadang memerlukan waktu untuk membanding-bandingkan. Tidak hanya faktor harga yang jadi pertimbangan, tapi juga kemudahan mencapai lokasi, kenyamanan, hingga daya akses ke berbagai tempat, termasuk lokasi wisata.

Saat saya ke Makassar, Sulawesi Selatan, pilihan saya menginap jatuh kepada Hotel Aryaduta di Jalan Somba. Ada empat alasan saya memilih hotel tersebut.

Jaringan Hotel Premium




Aryaduta Hotel merupakan jaringan hotel premium dan terdepan di Indonesia sejak tahun 1974. Dengan pengalaman tersebut saya percaya diri memilih hotel ini. Apalagi saya merasa puas ketika menginap di Aryduta Jakarta. Umumnya jaringan hotel memiliki standar sama dalam kenyamanan, fasilitas dan pelayanan. Meski tentu saja ada sedikit perbedaan karena di Jakarta bintang lima, sedangkan di Makassar bintang empat.


Strategis



Lokasi hotel terbilang strategis dengan akses yang sangat mudah dicapai dari manapun. Saat mendarat di Bandara Hassanudin menuju ke hotel ditempuh kurang dari 30 menit karena adanya jalan tol.  Agenda saya sendiri di Makassar adalah mengglar konser bersama The Panas dalam di Celebes Convention Centre (CCC) yang jaraknya hanya lima menit dari hotel. Jadi benar-benar strategis.

Terasa strategis juga dalam urusan wisata kuliner, lantaran semua jenis kedai dan resto yang menyajikan makanan khas setempat hanya beradius beberapa puluh dan ratus meter saja dari hotel. Saya yang kerap merasa kelaparan di tengah malam tidak perlu pusing mencari tempat makan.

Belum lagi akses ke Pantai Losari yang sedang neghits itu. Cukup berjalan kaki ke luar hotel sudah mencapai tujuan. Jika hendak ke Benteng For Rotterdam pun cuman naik angkot atau becak.

Fasilitas



Seperti disinggung di atas, fasilitas di hotel ini lengkap bagi pengunjung yang ingin merasakan kenyamanan. Tak jauh dari lobi hotel terdapat kolam renang yang menghadap langsung ke pantai. Jadi walaupun berenang di kolam air tawar, bisa merasakan sensasi angin laut Makssar.

Interior di kamar pun menurut saya cukup lengkap dengan fasilitas wifi yang kencang (penting buat saya). Sayangnya kamar yang menghadap ke pantai saat saya datang sedang penuh. Padahal saya berharap juga bisa bangun tidur langsung menyapa pantai. Untungnya di lorong dekat lift tersdia jendela untuk melihat ke pantai. Jadi saya tetap melihat antai dari ketinggian.

Restoran dan bar pun menurut saya cukup nyaman untuk disinggahi dan menciicpi makanannya. Saya sempat ngopi di Le Bar Atilier, sambil menikmati sofanya, dan ngobrol bareng crew band. Kopinya mantap karena tersedia berbagai pilihan.


Kearifan Lokal


Menurut saya, amat penting sebuah hotel di daerah menyajikan kearifan lokal agar pengunjung menemukan sesuatu yang berbeda saat bertandang ke daerah yang berbeda. Kearifan lokal bisa di arstitektur, ornamen, makanan, dan lainnya. Di hotel ini kearifan lokal ditampilkan di lobi hotel. Terdapat panggung mini diisi tiga seniman lokal memainkan jenis musik daerah. Salah satu alat musik yang menarik saya lihat adalah Talindo atau Popondi, terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan senar. 
 Empat