Sunday, March 6, 2016

Menikmati Bebek Goreng Cawang di Heather Resto Jakarta


Kerenyahan Bebek Goreng Cawang ini bikin nafsu makan meningkat.

Kuliner Indonesia yang terus disukai hingga saat ini salah satunya bebek goreng. Bagi pecintanya, daging bebek dianggap lebih lezat dibandingkan daging ayam. Tak heran jika olahan daging bebek terus diburu dari kelas kaki lima sampai resto hotel.

Beruntung saya bisa menikmati bebek goreng di Heather Resto yang berada di dalam Best Western The Hive Hotel, Jakarta. Karena terletak di area Cawang, Jakarta Timur, maka santapan teman nasi ini diberi nama Bebek Goreng cawang.

Saya memilih Bebek Goreng Cawang karena merupakan signature dish di Heather Resto. Makanya, ketika pelayan resto meletakkan menu ini di atas meja, saya langsung membelah bebek yang digoreng garing itu. Dan ... bagian luarnya terasa renyah, dalamnya empuk dan gurih. 

Saya kemudian mencoba mencampurnya dengan sambal hijau di sisi piring. Hmm, lebih terasa kelezatannya. Walaupun untuk ukuran lidah saya kurang pedas. Tapi saya yakin ini masalah selera tingkat kepedasan saya yang tinggi. Buat tamu lain di resto ini mungkin sudah cukup. 

Bagi yang suka dibakar, kuliner bebek bisa saja diorder menjadi bebek bekar. Tapi saya cenderung hidangan bebek digoreng karena sejarahnya saya pertama kali makan bebek di Bali adalah digoreng. Tingkat keempukan daging biasanya lebih pas untuk saya.

Pastinya, aroma anyir yang biasanya ada di dalam bebek, sama sekali tak terasa karena sudah diolah pihak resto dengan baik. Dengan kenikmatannya, harga Rp68.000 sangat pas, apalagi dengan venue yang menarik di lantai lima hotel bintang empat ini.

Selain bebek goreng, saya pun mencicipi sop buntut ala Heather Resto. Ada tiga pilihan olahan buntutnya, yakni digoreng, dibakar dan dikuah. Ide yang bagus untuk mencicipi sop buntut bakar di sini. Selain rasanya lebih nendang saat dicampur dengan sopnya, juga pas disajikan dengan sambal  matah yang tingkat kepedasannya cocok dengan lidah saya.


Sambal mantah menambah kenikmatan buntut bakar ini.



Bagi penggemar 'perbuntutan' diuntungkan sekali bisa datang ke tempat makan ini. Pihak hotel menggelar harga promo untuk empat jenis buntut, mulai dari buntut goreng rica-rica, buntut goreng cabe ijo, buntut goreng sambal matah, dan buntut goreng saos mentega.

Masih banyak lagi pilihan kuliner Indonesia di Heather Resto. Tentunya kuliner dari belahan dunia lain pun tersedia. Tapi kali ini saya sedang ingin icip-icip Indonesia punya selera.


Cokelat Lava yang Bikin Nagih


Beres makan tanpa mencicipi dessert apa kata dunia? Okay, tanpa basa-basi saya memilih cokelat lava yang memang jadi favorit saya dalam urusan cuci mulut. Di Heather Resto, kue cokelat hangat ini dinamai Chocolate Liquid Center lengkap dengan satu skup es krim vanila segar.

Sayangnya karena saya terlalu lama mengatur untuk memotretnya, cairan cokelat di dalamnya sudah mengeras. Padahal saya paling suka ketika merasakan lelehan cokelat yang hangat di lidah. Okelah, abaikan hal itu. Rasanya tetap okay kok. Apalagi dipadukan dengan es krim vanilanya. Sluuurp. seperti biasa dengan cepat saya menghabiskan kuliner seharga Rp36.000,- itu.



Saya pun mencicipi dessert lain, yakni Apple Pie ala Mode. Sebenarnya saya kurang begitu suka dengan apple pie karena cenderung terlalu manis. Tapi kali ini saya harus bilang, apple pie ternyata juga enak, mungkin karena dimakan bersamaan dengan es krim vanilla. Hehehehe. Pastinya, pie seharga Rp36.000,- bakal jadi pilihan saya jika ke sini lagi.





Untuk teman minum, saya memilih Mocktail of The Day dari Heather resto, yakni agnifico Lychee. Namanya terdengar keren. tapi sebenarnya ini adalah jenis mojito yang diberi buah lychee. Buat saya mojito saja sudah membuat tenggorokan saya segar, apalagi ditambah buah luchee yang manis. Klop.

Seperti telah saya singgung, saya merasakan semua hidangan karena venue restoran yang nyaman. Bersebelahan dengan kolam renang BWP The Hive Hotel. Jadi selain menikmati di dalam, bisa juga menyantap menu resto di sisi kolam renang sambil melihat kecipak-kecipuk orang berenang dan pemdangan sekitar Cawang.





Foto-foto:Benny Rhamdani