Thursday, April 28, 2016

9 Tahap Membuat Merchandise Berbasis Karakter





Bekerja di bagian kreatif membuat saya kerap berurusan untuk menciptakan hal-hal baru yang tidak hanya bagus tapi juga laku dipasaran. Karena sudah berulang kali, akhirnya saya belajar sedikit demi sedikit tentang tahap yang baik agar tidak mengulangi kesalahan atau membuang terlalu banyak energi dan waktu.

Banyak orang kreatif di sekitar saya yang belum paham benar dengan tahapan yang harus ditempuh. Sehingga kerap membuat mereka frustasi. Pasalnya, meskipun karyanya dinilai unik, tapi tetap saja tidak bisa dijual.

Nah, barangkali formula ini bisa dipakai, terutama untuk barang sejenis souvenir atau merchandise kreatif, yakni membuat produk berbasis karakter. Mengapa begitu? Karena karakter bisa menghemat biaya promosi lho. Terutama jika produk yang kita buat dan akan jual beragam.


Tentukan Target Pasar

Yup, kalo ingin membuat produk yang akan dijual, harus ditentukan dulu pasarnya. Sebab produk untuk anak dan orangtua misalnya, itu jelas berbeda dari banyak sisi. Tidak perlu kebingungan dalam menentukan pasar. Lihatlah ceruk pasar yang masih tersedia.Buat survey dan riset kesil-kecilan.

Biasanya pasar yang umum, misalnya anak-anak, akan banyak pemainnya. Tapi kalau dibuat lebih spesifik, misalnya anak-anak berkebutuhan khusus atau komunitas anak-anak tertentu, pemainnya masih terbatas karena pasarnya juga terbatas. Tapi tahukah, ketika produk yang masuk di pasar terbatas itu sedikit, maka harga pun bisa lebih tinggi.  Sebab, ceruk pasar tertentu yang terbatas biasanya sangat loyal.

Beberapa target pasar yang bisa disasar, misalnya: remaja jomblo, biker hijaber, mamah muda, single parent yang smart, dan lain sebaginya.


Buat Karakter

Setelah menentukan target pasar, buatlah karakter (satu atau lebih) yang bisa mewakili target pasar itu. Mengapa? Karena dengan adanya karakter, nanti kita nggak perlu repot-repot mempromosikan merchandise atau souvenir yang dibuat. Saat karakter yang kita buat populer, maka barang yang dibuat apapun akan laris.

Saat menciptakan karakter cobalah menyusun daftar fisik dan kepribadiannya terlebih dahulu. Apakah fisiknya cantik, lucu, imut, gagah? Apakah kepribadiannya bersahaja, smart, galak, ceia?
Setelah itu baru desain karakternya. Nggak perlu takut mencoba, sebab perubahan fisik karakter sah-sah saja dalam prosesnya nanti.

Misalnya saya ingin menyasar target pasar: Cowok Jomblo Kreatif
Fisik: trendi
Kepribadian: ramah dan tegas
Jadinya seperti ini yang saya buat


Tentu saja kita bisa buat kreasi yang lebih beragam dengan beberapa pilihan. Nggak harus berbentuk manusia kok. Bisa binatang, pohon, buah, barang atau abstrak. Sebisa mungkin unik, aplikatif untuk berbagai media dan mudah diingat. Jadi jangan terlalu rumit juga.



Beri Nama

Berikutnya ya beri nama si karakter ini. Nama bisa singkatan misalnya Sippy (Single Happy), atau bisa juga merujuk ke nama orang terkenal dengan target pasar, atau apa saja yang bermakna. Usahakan namanya tidak mirip-mirip dengan yang sudah beken.

Nah, kalau saya akan kasih nama karakter di atas adalah Mamank. Mamang atau Mamang dalam bahasa sunda merujuk ke arti Paman atau Om. Biasanya cowok-cowok yang sering disebut jomblo usianya sudah bisa disebut paman atau om. Selain itu sangat mudah disebut.

Nama ini akan brand dari produk yang akan kita nanti. Setelah diberi nama, jangan lupa membuat desain typografi penulisan nama mamang ini. Buatlah beberapa alternatif lebih dulu. Tapi hal yang simple biasanya lebih diutamakan.

Misalnya saja karena pengen yang simple seperti ini saja.

Wording

Mulailah berkreasi dengan kata-kata. Baik urusan tagline, quote dan sebaginya. Jika belum punya keahlian copy writing sebaiknya serahkan pada ahlinya. Jika mau belajar, bisa kok dengan mengamati produk-produk lainnya.

Tagline brand Mamank misalnya: Jomblo Itu Kreatif
Lalu menyusun banyak wording untuk produk sebagi turunannya:
-. James Dean Juga Jomblo Tapi Beken
-. Jomblo Kratif Nggak Mempan Dibully
-. dll



Aplikasikan ke Produk

Setelah siap, segera aplikasian ke merchandise maupun souvenir yang akan kamu buat.
Sebaiknya sih dimulai dengan barang yang mudah laku, seperti t-shirt, tumblr, mug dan sejenisnya.
Ini contoh aplikasi di mug.


 Jangan Bosan Promosi


Kalo sudah punya produk dan akan dijual, tentunya harus dipromosikan. Segera buatkan website, juga akun media sosial yang beken seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sejenisnya. Berusahalah fokus untuk menguatkan brand terlebih dahulu. Dalam hal ini 'Mamank' harus dikenalkan lebih dahulu. Percaya deh, kalau brand karakter sudah dikenal, mau bikin parfum orang akan membelinya.

Cara mengenalkan karakter bisa dengan membuat komik strip, animasi, bahkan meme lho dengan media sosial media. Murah meriah kok. Jadi budget promosi bisa ditekan.



Pelajari betul cara promosi kekinian. Apalagi jika segmen yang dibidik remaja yang hidupnya dinamis.


Tentukan Harga Cantik


Biasanya harga ditentukan dengan biaya produksi, distribusi, promosi dan lainnya. Tapi ada baiknya benchmark dulu dengan produk sejenis yang ada. Jangan terlalu jauh bedanya. Baik di bawah maupun di atas.

Jangan lupa mainkan harga cantik saat jualan. Misalnya Rp69.900. Saat ini masih berguna lho. Seperti diulas sebelumnya, kadang harga tidak sensitif ketika pasar yang disasar adalah komunitas yang loyal. Asalkan merchandise atau souvenir yang ditawarkan berkualitas dan mencerminkan komunitas.


Jualan


Nah karena barang itu harus dijual, ya mulailah pilih pasar untuk jualan. Bisa secara on-line ataupun  tatap muka. Kalo ada kesempatan pazaar, pasar murah, dan sejenisnya jangan ragu-ragu untuk mengambilnya.

Jangan ragu untuk menawarkan ke teman dekat atau kerabat. Biasanya mereka akan menjadi ujung tombak yang baik dalam promosi.


Evaluasi


Ini harus kamu lakukan secara berkala. Entah seminggu sekali, atau sebulan sekali. Biasanya orang ketika sudah laku dan sibuk, tidak meluangkan waktu untuk evaluasi. Ingat ya, semua harus dievaluasi agar kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Jangan sampai kesalahan diketahui setelah kita bangkrut.

Evaluasi juga bisa minta masukan dari teman, kerabat atau pelanggan. Kadang banyak hal yang kita tidak tahu diperoleh dari mereka.