Tuesday, April 19, 2016

Ada Apa di Perbatasan Entikong?



Pemberitaan seputar wajah suram perbatasan wilayah Republik Indonesia dengan Malaysia kerap membuat saya penasaran. Karenanya, saya merasa tepuaskan begitu akhirnya bisa menapaki tapal batas Entikong, Kalimantan Barat, dengan Tebedu wilayah Malaysia.

Hal pertama yang saya ingin ketahui langsung adalah pendapat dari seorang anak bernama Rani yang tinggal di Entikong. Murid kelas lima sekolah dasar ini hampir setiap melewati perbatasan untuk jajan di Tebedu.

"Menurut saya enakan di Tebedu. Di sana es krimnya lebih enak. Jajanan lainnya juga enak-enak," katanya polos.

Saya tersenyum mendengar jawabannya. Tapi hanya memandang sekilas saja, wilayah Entikong memang belum sebanding dengan Tebedu. Tidak udah sampai ke es krimnya, lihatlah kualitas jalannya saja.







Untunglah tak lama lagi Entikong akan berganti wajah. Seperti yang disarankan Presiden Jokowi. Entiong kelak akan jauh lebih menarik ketimbang wilayah tetangga. Saya sendiri menanksikan pembangunan yang tiada henti di wilayah Entikong. Mulai dari  pengegrusan bukit untuk pelebaran jalan, hingga pengaspalan jalan dengan kualitas terbaik.

Berpose dulu dengan para penjaga di Pos Tebedu, Malysia. (Foto: Benny)

Bahkan, kabarnya terminal dan pasar di dekat gerbang perbatasan akan digusur dan dibangun sebuah wisma besar untuk peristirahatan pejabat pemerintah yang berkunjung ke Entikong.

"Pembangunan di sini memang lambat karena jarang dikunjungi pejabat dari Jakarta," tutur Alex, seorang aparat polisi yang bertugas di Entikong.

Di Kalimantan Barat sendiri terdapat tiga pos perbatasan, yakni Entikong, Badau dan Aruk.  Namun demikian, perbatasan Entikong merupakan yang paling ramai. Pelebaran akses jalan di perbatasan dilakukan dari Balai Karangan hingga Entikong dengan total 21 km dan rencananya selesai di 2016 ini. Tahun ini diperkirakan wilayah Entikong  akan lebih baik dari Malaysia dan bisa jadi kebanggaan bangsa Indonesia. 


Di Entikong saya sepat blusukan ke pasar rakyat, dan menemukan sejumlah barang dagangan bermerk Malaysia. Entah bangga atau sebaliknya. Tapi pedagang mengatakan jika barang-barang kebutuhan seperti gula dan elpiji pasokannya lancar dari Pulau jawa, tentu barang dari Malaysia tidak akan dijualnya. Kenyataannya, distibusi barang ke Entikong memang lebih mudah dari Malysia.

Di kios-kios juga transaksi bisa dilakukan dengan dua mata uang, yakni Rupiah dan Ringgit.