Tuesday, April 26, 2016

Mikrohidro, Menyulap Air Jadi Tenaga Listrik




Setiap kali disebut pembangkit listrik tenaga air, kebanyakan orang membayangkan sebuah instalansi yang rumit dan besar di sebuah bendungan besar pula. Nyatanya, pembangkit tenaga listrik tenaga air tak selalu demikian. Bahkan peralatan yang bisa dijinjing dengan tangan itu pun bisa dimiliki.


Saya baru mengetahuinya ketika berkunjung ke pabrik mikrohidro di kawasan Cihanjuang, Cimahi, Jawa Barat. Kunjungan ke Cintek Mikrohidro ini juga membuka mata saya bahwa dengan sumber air yang melimpah di Indonesia ini, sebenarnya kita mampu menerangi desa-desa terpencil dengan instalasi yang tak terlalu rumit.

Mikrohidro atau Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sendiri merupakan pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air.

Kian tinggi jatuhan air maka semakin besar energi potensial air menjadi energi listrik. Di samping faktor geografis (tata letak sungai), tinggi jatuhan air dapat pula diperoleh dengan membendung aliran air sehingga permukaan air menjadi tinggi. Air dialirkan melalui sebuah pipa kedalam rumah pembangkit yang pada umumnya dibangun di bagian tepi sungai untuk menggerakkan turbin  mikrohidro. Energi mekanik yang berasal dari putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah generator.



Keuntungan PLTMH adalah  lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik jenis lainnya. Mikrohidrolik yang paling kecil harganya di bawah  Rp.5 juta, dan biaya yang dikeluarkan untuk klep Rp.40.000 untuk enam bulan. Klep pun bisa didapat dengan mudah ditoko sparepart sepeda motor. Silakan bandingkan dengan genset yang perlu bahan bakar dan perawatan lain. Apalagi mikrohidrolik bisa digunakan 24 jam, sedangkan genset harus berhenti setiap delapan jam. 



Selain itu, mikrohidrolik memiliki konstruksi yang sederhana, sehingga dapat dioperasikan di daerah terpencil. 

Mikrohidrolik ini juga tidak menimbulkan pencemaran, bahkan bisa disinergikan dengan program lainnya seperti irigasi dan perikanan seperti di Bali, dan dapat mendorong masyarakat agar menjaga kelestarian hutan sehingga ketersediaan air terjamin.