Monday, May 23, 2016

Kisah Pilu di Balik Pantai Gandoriah nan Cantik



Perjalanan di Sumatera Barat, mempertemukan saya dengan sebuah pantai cantik bernama Gandoriah di  Pariaman. Hamparan pasir bertemu ombak Samudera Hindia menciptakan pemandangan indah. Tenda-tenda kecil berdiri di garis pantai, menghadap ke pulau-pulau kecil nan elok.

Di balik kecantikan Pantai Gandoriah, ternyata tersimpan kisah menyedihkan. Konon, Gandoriah adalah seorang puteri cantik yang mencintai seorang pria bernama Anggun Nan Tonga. Namun kisah kasih Gandoriah tak kesampaian. Meskipun dia sudah bersemedi dan Anggun Nan Tonga berkelana mencari tiga pamannya, namun terhalang kenyataan bahwa mereka adalah saudara sepupu.

Untuk mengabadikan kisah tersebut, maka nama putri cantik itu disematkan ke pantai yang terletak 100 meter dari kota Pariaman. Nama Anggun Nan Tonga sendiri diabadikan di sebuah hotel di dekat pantai.

  


Cara  mencapai Pantai Gandoriah dari kota Padang tidak terlalu sulit. Baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkot. Bahkan sebuah jalur kereta api dari Padang ke Pariaman berakhir di sebuah stasiun yang letaknya relatif dekat dengan gerbang obyek wisata pantai ini. Sungguh sebuah lokasi wisata yang strategis. Jadi tidak heran pantai ini selalu ramai, terutama di akhir pekan.

Dari pantai ini pula, wisatawan bisa mengakses ke gugusan enam pulau kecil di dekatnya, yakni Pulau Kasiak, Pulau Angso, Pulau Tangah, Pulau Ujung, Pulau Gosong dan Pulau Bando. Waktu tempuh ke pulau-pulau tersebut kurang dari setengah jam. Tapi jika budget maupun waktu kunjungan terbatas, cukuplah bersantai di Gandoriah. Bahkan dari tenda-tenda kecil di pantai kita bisa melihat dengan mata telanjang gugusan pulau tersebut.

Seperti yang saya lihat sendiri, aktivitas di pantai cukup padat. Mulai dari yang bersepeda bersadel tiga, mengemudi ATV, bermain layangan, berenang, berselancar atau sekadar duduk manis menikmati kuliner setempat.

Pantai Gandoriah menurut saya sangat cocok untuk liburan keluarga, karena banyak permainan yang bisa dilalukan bersama anak-anak. Pasir pantainya pun relatif bersih dari sampah. saya juga tak kesulitan memarkirkan mobil karena tempat parkir yang luas.

Menurut Bu Tini, penjual kuliner di sisi pantai, puncak kunjungan wisatawan ke pantai ini adalah saat digelarnya Festival Tabuik. Hampir semua warga Sumatera Barat tumplek ke pantai melihat pelarungan tabuik.

Saran saya, jika hendak ke sini datanglah sepagi mungkin biar bisa memuaskan hati. Jangan lupa mengabadikan sunset yang indah :)

(Foto dan tulisan: Benny Rhamdani)