Tuesday, May 31, 2016

Lima Alasan Bertandang ke Jembatan Siti Nurbaya di Padang









Saat bertandang ke Padang, Sumatera Barat, seorang teman menyarankan saya untuk mampir ke Jembatan Siti Nurbaya di malam hari jika cerah. Saya belum tahu alasan teman saya menyuruh saya mampir ke sana. Tapi begitu browsing, ternyata lokasinya sangat dekat dengan hotel menginap, saya pun memutuskan ke sana.


Akhirnya, saya menemukan kesimpulan lima alasan jembatan sepanjang 165 meter ini pantas dikunjungi.


Latar Novel

Jembatan ini membentang di atas Sungai/Muara Batang Arau yang menghubungkan kota Padang dan wilayah Seberang Padang. Jika dilanjutkan belok ke kanan bisa menuju Gunung Padang yang merupakan latar cerita kisah Siti Nurbaya karangan Marah Rusli.

Teman saya tahu bahwa saya merupakan penggemar sastra, sehingga bisa merasakan setting berlangsungnya cerita Siti Nurbaya. Bahkan terdapat makan Siti Nurbaya di dekat area tersebut. Bukankah Siti Nurbaya karya fiksi?


Jadi begini, kebetulan tempat saya bekerja menerbitkan buku kedua karya Marah Rusli, bertajuk Memang Jodoh. Dalam wasiat kepada ank-anaknya, Marah Rusli hanya mengizinkan karyanya itu diterbitkan jika semua tokoh di dalam karyanya meninggal. Banyak yang berpendapat Siti Nurbaya pun ditulis berdasarkan kisah nyata.  Mungkin iya atau tidak.


Kuliner


Saya datang dua kali ke jembatan ini, malam hari dan pagi. Pada malam hari jembantan ini sesak oleh motor dan mobil yang parkir, tidak hanya dari Padang, tapi juga provinsi lain. Sambil melihat lampu-lampu perahu, pengunjung bisa makan kuliner setempat, mulai dari jagung bakar sampai pisang bakar.

Saya memilih pisang bakar. Pisang yang digunakan pisang kepok, dan dibakar memakai arang tempurung. Aromanya membuat saya lapar mendadak. Setelah dibakar, pisang dipipihkan dan ditaburi meisis dan keju. Rasanya cocok dengan suasana malam di jembatan.

Latar Foto


Beberapa orang saya lihat juga berfoto bersama ataupun memoto keadaan sekitar.  Waktu terbaik sebenarnya saat sore yang cerah dan matahari akan tenggelam. Sayangnya saya tidak mendapat momen ini karena kota Padang sepanjang sore terus diguyur hujan.

Perpaduan bukit, jembatan, kehidupan muara memang sangat menarik untuk ditangkap kamera. 


Kota Tua

Pesona kawasan sekitar Jembatan Siti Nurbaya adalahbangunan-bangunan tua zaman Belanda. Mulai dari Jalan Pondok, Niaga, Kelenteng hingga jalan Batang Arau di dekat jembatan merupakan kawasan kota tua Padang. Di kawasan ini saya melihat kelenteng dan masjid yang umurnya sudah sangat tua.

Kaum pendatang seperti Tionghoa, Nias, Mentawai dan Batak banyak bermukim di sini.


Oleh-oleh


Di turunan Jembatan Siti Nurbaya kita akan melihat sebuah pusat oleh-oleh terkenal, yakni keripik balado Christine Hakim. Tentu saja kios oleh-oleh lainnya bertebaran. Bagi yang ingin oleh-oleh lain juga tersedia di sini.

^_^