Monday, May 16, 2016

Lima Pertanyaan yang Sering Dilontarkan Penulis Pemula; Catatan Festival Sastra Anak dan Remaja Sumatera Barat 2016



Sebagai seorang editor in chief saya kerap memberikan materi penulisan kepada masyarakat, baik penulis baru maupun yang sudah mapan. Seperti yang  saya lakukan di acara Festival Sastra Anak dan Remaja Sumatera Barat, Padang, Sabtu, 14 mei 2016. Dan khusus penulis pemula, biasanya ada lima pertanyaan yang sering dilontarkan.

Mengambil tempat di Perpustakaan Provisi Sumatera Barat, saya begitu senang melihat antusias peserta yang hadir hingga tigaratusan itu. Mereka terdiri dari siswa SD hingga SMA, mahasiswa, guru, dan ibu rumahtangga. Setelah saya menyampaikan materi, mereka pun antusias bertanya.
Nah, beberapa pertanyaan sebenarnya sering dilontarkan saat bertemu penulis pemula di acara sejenis di lain kota.




Tergantung Mood

Banyak penulis pemula yang mengeluh soal mood menulis mereka yang surut. Menurut saya mood berkait erat dengan motivasi. Jika motivasi menulis lemah, maka dia akan membiarkan mood menghantuinya. Motivasi yang tinggi dapat menghalau mood.

Memiliki motivasi dalam melakukan apapun perlu. Juga jika ingin menulis. Apakah motivasi menulis? Ingin dikenal? Ingin mendapat honor? Ingin berkespresi? Apapun itu harus terus dijaga. Motivasi juga akan meningkatkan kedisplinan. Semisal, orang yang disiplin menulis sejam saja sehari, maka dia akan merasa ada yang hilang ketika tidak menulis sejam sehari. Dia tidak butuh mood.

Tulisan Tidak Jelas

Penulis pemula juga kerap bermasalah dengan tulisan yang tidak jelas arahnya, hingga akhirnya tak pernah tuntas menulis. Saya selalu memberikan saran kepada penulis pemula agar membuat kerangka plot atau rencana plot cerita yang akan ditulisnya. 


Menulis rencana cerita seperti seorang traveler membuat itinerary. Dengan adanya rencana plot, penulis akan mudah menulis bahkan hingga penutupnya. Jika sudah mahir menulis dan memainkan plot kelak, mungkin dia bisa mengabikan kerangka atau rencana atau plot.

Untuk penulis pemula, membuat rencana plot cerita akan lebih menghemat waktu dan tenaga.

Judul

Ada dua hal yang sering ditanyakan terkait judul. Satu, cerita sudah selesai, tapi judulnya belum tahu. Atau sudah bikin judul tapi nggak mulai menulis ceritanya.

Jika yang sudah selesai ceritanya tapi kesulitan bikin judul, cukup dengan memeras dari plot ceitanya. Bisa juga dari temanya jika memang menarik. Kadang dengan menyebutkan nama tokoh dan apa yang dilakukan di ceritanya juga bisa menarik. Nanti, bila sudah mahir bisa dengan mudah mencari judul yang benar-benar nendang banget.

Amati judul-judul buku di toko buku, lihat katalog penerbitan, atau bisa juga melihat judul-judul lagu. Di sana kita bisa mengambil banyak juduluntuk cerita kita. Tentunya dengan sedikit menambah atau mengubah kata.

Memilih Ide

Sebagai penulis pemula, kadang mereka kebanjiran ide. Hal itu membuat penulis pemula kebingungan memilih ide yang akan ditulisnya. Saya biasanya memberi solusi dengan cara memilih ide yang memenuhi tiga kriteria:

1. Ide yang paling kita kuasai untuk ditulis. Plotnya kita benar-benar siap.

2. Ide yang jarang atau belum ditulis orang lain. Agar kita tahu mana yang jarang ditulis penulis lain ya kita harus rajin membaca.

3. Ide yang menarik perhatian pembaca. Sebab tidak semua ide walaupun bisa ditulis akan menarik pembaca. Biasanya pembaca tertarik jika idenya orisinil, tidak mudah ditebak ceritanya, dan dapat mendapatkan sesuatu dari ide tersebut.

Jika ada beberapa ide yang terpilih, susunlah mana yang akan ditulis lebih dulu agar fokus. Atau jika memungkinkan beberapa ide digabung menjadi satu cerita.

Membagi Waktu Menulis dan Belajar

Penulis pemula juga kebingungan membagi waktu menulis dan belajar. Saya selalu sarankan agar waktu belajar jangan dikurangi. Yang bisa dikurangi adalah waktu bermain, nonton teve dan sejenisnya, dan dijadikan waktu menulis. Mungkin ada yang tidak rela mengurangi waktu bermain, tetapi namanya memiliki keinginan tentu harus ada pengrobanan.

Jangan pernah berpikir mengurangi waktu belajar. Sebab tugas utama siswa memang belajar.



Acara ini melibatkan beberapa komunitas di Suamtera Barat, yakni Komunitas Kreatif Indonesia, Forum Lingkar pena Sumbar, FAM dan Rumah Kayu.

Foto-foto: Maya Lestari GF