Wednesday, May 18, 2016

Sebelum Punah, Mari Kita Cicipi Kue Mangkuk Sayak






Pagi itu saya terdampar di Pasar pagi di Pasiakandang, Pasia Nantigo, Kototangah, Padang, Sumatera Barat. Niat saya melihat kehidupan nelayan, tapi rupanya harus melewati pasar tradisional ini. Dan rupanya saya beruntung karena menemukan sebuah kedai penjual kuliner tradisional yang belum saya kenal sebelumnya, yakni kue mangkuk sayak (kue mangkuk tempurung).

Di benak saya, Padang hanya jago dengan kuliner berat. Makanan ringan yang saya kenal hanya terbatas keripik balado atau sarikaya. Melihat kue mangkuk yang unik itu saya langsung menemui  pemilik lapak, Bu Mailiniar, yang sedang sibuk melayani pembeli.

“Bu, ini harganya berapa?” tunjuk saya melihat penganan kecoklatan dilingkari putih yang tersaji di atas tempurung kelapa.

“Seribu,” katanya agak malu-malu.



Saya agak kaget karena hari gini masih ada jajanan seharga seribu rupiah. Saya pun memesannya. Bu Mai dibantu seorang perempuan memenuhi pesanan saya dan pembeli lainnya. Tempurung berisi  tepung beras dicampur gula saka di atas meja kemudian disiram santan. Dibiarkan di atas kukusan beberapa menit, kemudian disajikan di depan saya. Bagi yang membeli untuk dibawa pulang, kue mangkuk dilepaskan dari tempurung dialasi kertas dan daun.

Saya mencicipi bagian pinggirnya yang putih, rasanya gurih seperti umumnya santan. Kemudian kebagian tengah yang cokelat, rasanya manis. Perpaduan dua rasa itu terasa nikmat ketika masuk bersamaan ke mulut.


Aroma makin di tempat juga makin eksoktis karena wangi kukusan kue mangkuk terus menguar. Saya merasa tak cukup menghabiskan satu dan langsung memesan lima.


Menurut Bu Mai, dia menyediakan 250 porsi kue  setiap hari dan selalu habis terjual. Mengapa bisa begitu laris? Pertama, kue mangkuk ini memang sudah sulit ditemukan. Kalah saing dengan penganan modern.  Padahal penggemarnya masih banyak. Tentu saja selain juga harganya yang relatif murah.

Harga yang murah dan dijual terbatas rupanya juga menjadi daya tarik untuk membeli. Mungkin jika Bu Mai berjualan ribuan mangkuk pun akan sanggup, tapi lama-lama orang akan bosan.


Bu Mai mengaku baru sekitar lima tahun membuka usahanya. Resep kue mangkuk itu dibuatnya sendiri berdasarkan pengalamannya memakan kue itu di tempat lain. “Bahannya itu saja, tidak sulit dicari. Tepung diaduk dengan gula saka, kemudian dikukus dalam sayak. Proses pengukusan pun tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar lima hingga sepuluh menit." Setelah adonan tepung yang dikukus matang, ditambahkan dengan santan kelapa. Setelah mengeras, hidangan kue mangkuk sayak pun siap dinikmati. 

Buat saya pribadi, kue mangkuk sayak ini layak dinikmati siapapun yang bertandang ke Padang.

Maya Lestari GF seorang penulis dan pengamat kuliner Minang mengatakan,"Sebenarnya kue mangkuk sayak itu masih banyak ditemui di daerah kabupaten. Kalau di kota masih bisa ditemukan sih di toko-toko kue, tapi rasanya nggak seori di daerah. Kue mangkuk sayak paling enak itu ada di sekitaran wilayah Bukittinggi, Agam dan 50 Kota. Mungkin karena mereka memakai gula nira yang masih asli, yang nggak dicampur dengan gula pasir."