Sunday, June 5, 2016

Pertaruhkan Nyawa Demi Rp50.000 di Pasia Nan Tigo, Padang


Berebut mengambil keranjang ikan. (Foto: Benny)


Alvin, 23 tahun, berdiri  bersama sekitar belasan orang sebaya dengannya di pinggir pantai Pasia Nan Tigo. Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat, Hari masih pagi, dan deburan ombak dari arah  Samudera Hindia begitu tinggi.  Pandangan Alvin dan kuli angkut lainnya sama ke arah satu perahu besar yang menurunkan tangkapan ikannya ke perahu kecil sekitar 1 kilometer dater dari tepi pantai.

Perahu kecil itu kemudian berjuang menepi ke pantai. Tapi tidak mudah karena ombak terus mengombang-ambing, begitu jaraknya hanya 100 meter dari pantai, lusinan kuli-kuli angkut itu berlarian menjemput kapal lecil. Orang-orang di atas kapal mencoba menahan kapal dibantu kuli-kuli di bawahnya. Setelah perahu kian menepi, kuli pun berebut mengangkat keranjang sebagai wadah  ikan tangkapan.

Membawa ke darat. (Foto: Benny)


Santai setelah bekerja sambil menunggu kapal berikutnya. (Foto Benny)


Ada yang berhasil mengangkut, tapi banyak yang dengan tangan hampa lantaran kalah dalam perebutan dan jumlah keranjang tidak sebanyak biasanya. Alvin termasuk yang beruntung kali ini.

"Saya sudah lima tahun lebih jadi kuli angkut ini," ungkap Alvin yang langsung nyebur begitu lulus SMA. Pengalamannya ini, membuat Alvin dianggap ahli dibandingkan teman-temannya yang masih 2-3 tahun mengangkut ikan.

Menaruh keranjang di pelelangan. (Foto: Benny)


Penghasilan Alvin bervariasi antara Rp200.000-300.000 per hari. Semua tergantung perahu kecil yang merapat dan isi tong yang harus diangkutnya ke pantai. Jika tong plastik itu berisi ikan-ikan besar dia bisa mendapat upah sekitar Rp50.000 per angkut. Jika isinya ikan teri bisa di bawah itu.

"Pekerjaan di sini individual. Tidak ada berkelompok. Jadi siapa yang kuat dan cepat dia akan mendapat upah banyak," jelas Alvin.

Melihat resiko yang saya lihat cukup besar, Alvin tak menampik jika jam terbang memang dibutuhkan. "Teman saya ada yang kepalanya kena bentur kapal dan harus dibawa ke rumah skit. Ada juga yang kakinya sobek sampai berdarah banyak," jelas Alvin.

Tentu tak ada asuransi yang menjamin nyawanya dalam pekerjaan ini. Sehingga Alvin harus mengandalkan keahliannya berdasarkan pengalaman. Toh meskipun mengandung resiko, Alvin mengaku suka dengan pekerjaannya. Tak terpikr untuk beralih profesi. "Selama masih gesit dan tenaga kuat saya masih ingin dengan pekerjaan ini. Penghasilannya buat saya sih luamay bisa buat kebutuhan diri sendiri," kata Alvin yang masih lajang ini.

Potensi Wisata


Suasana pasar ikan di Pasia Kandang. (Foto: Benny)



Kehidupan Alvin dan teman-temannya hanya bagian kecil dari wisata nelayan yang bisa saya nikmati di Pasia Nan Tiga. Saya juga bisa melihat aktivitas nelayan yang menjual ikannya kepada pembeli dalam partai besar. Biasanya, pembeli akan mengolahnya jadi hidangan siap makan. Ada juga yang dijual kepada pedagang ikan keliling.

Sebagian lagi dijual di pasar yang disebut Pasia Kandang yang terhubung langsung dengan lokasi kampung nelayan. Bagi warga Padang yang ingin mendapatan ikan segar tentu sangat mudah menemukan aneka jenis ikan. Selama tahu harga standar dan kualitas ikan, tentu tak sulit melakukan transaksi.

Bahkan telur penyu pun dijual di sini. (Foto: Benny)

Umumnya warga yang datang adalah ibu-ibu rumah tangga dalam rangka memenuhi kebutuhan dapaurnya. Ada pria yang belanja telur penyu untuk kebutuhan kesehatan vitalitas, maupun membeli hewan laut yang jarang ditangkap seperti gurita.

Begitu terasa kekayaan alam  Indonesia saat berada di kawasan perkampungan nelayan Dan jenis perkampungan nelayan seperti ini juga sangat potensial bagi wisata daerah tentunya. Karena banyak orang yang belum pernah melihatnya secara langsung, contohnya ya saya ini.

(Foto dan Tulisan: Benny Rhamdani)