Sunday, August 7, 2016

10 Alasan Nikah Muda



Berita pernikahan putra Ustad Arifin Ilham bernama Muhammad Alvin Faiz dan Larissa Chou menuai banyak komentar. Bahkan di akun instagramnya, komentar postingan video pernikahan mereka sampai angka puluhan ribu. Kebanyakan memang membahas tentang usia Alvin yang baru 17 tahun saat menikah.

Tentu saja orangtua Alvin tidak gegabah memberi izin kepada anaknya untuk menikahi seorang wanita mualaf yang berusia 20 tahun. Ada pertimbangan khusus, terutama seperti yang diungkap di Instagram, yakni selama dunia dan akhirat.

Berikut adalah 10 alasan yang sering diungkapkan oleh mereka yang berniat menikah di usia muda.

1. Tidak ada yang pernah tahu waktu yang benar-benar tepat untuk menikah. Pernikahan adalah sebuah keputusan besar. Beberapa orang menganggap usia matang menikah di atas umur 25 tahun. Tapi siapa yang memastikan kita bisa menikah pada usia tersebut? Menunda mungkin bisa menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada. Orang yang memilih menikah muda adalah yang berani mengambil risiko, saat merasa sudah mendapat orang yang tepat dinikahi.

2. Orang yang menikah muda tidak akan merasa stres karena dituntut harus segera memiliki momongan. Berbeda sekali dengan menikah di usia matang. Setahun saja tanpa anak, maka kana-kiri sudah bertanya kapan akan punya anak. Sungguh menjengkelkan. Menikah muda bisa memiliki banyak alasan saat tidak tergesa-gesa memiliki anak.

3. Menikah muda memiliki saat-sat indah menikmati masa muda bersama pasangan. Tentu saja pengalaman bersama pasangan yang halal bebeda dengan saat bepergian dengan teman. Dan biasanya juga akan memudahkan untuk mengatur perjalanan. Apalagi urusan menginap di hotel, tidak perlu memikirkan kesepian, kan?

4. Menikah di usia muda juga akan membuat saat-saat mengasuh anak menjadi lebih menyenangkan. Bayangkan ketika menikah di usia 30-an tahun lalu memiliki anak. Tentu orangtuanya sudah mulai sakit-sakitan, anak perlu seseorang yang kuat untuk menjadi panutannya.

5. Memiliki anak sejak masih muda juga akan memudahkan untuk menafkahinya. Bayangkan jika kita sudah usia di atas 50 tahun tapi masih harus ngos-ngosan membiayai anak-anak kita. Ada baiknya pada umur 50 tahun, anak ikut membantu keuangan keluarga sehingga orangtua bisa sedikit mengendurkan otot dan otaknya.

6. Pada usia muda, meskipun kadang ego masih labil, tapi masih mau belajar sesuatu untuk membina hubungan dengan pasangan. Maih mau mendengar nasihat orangtua pula. Bandingkan dengan mereka yang sudah matang dan biasanya sama-sama merasa dirinya paling benar dan berkuasa.

7. Menikah usia muda juga berarti merintis karir dan usaha bersama pasangan. Karena biasanya keduanya belum mapan. Dngan begitu, menerima manis dan pahitnya bersama. Maka keduanya akan tumbuh dewasa bersama pula. Peluang menabung untuk anak-anak kelak juga makin panjang.

8. Secara emosional, menikah usia muda juga dalam kondisi yang amsih dekat dengan keluarga inti. Pasangan masih akan tetap menjaga keharmonisan dengan orangtua dan mertua mereka selayaknya anak. Sesuatu yang suit dilakukan saat menikah di usia 30 tahun misalnya, yang sudah ingin hidup masing-masing.

9. Orangtua yang masih muda adalah orangtua yang keren. Dengan jarak usia yang tidak terlalu jauh dengan anak, akan mudah menjalin komunikasi yang baik.

10. Tidak ada yang bsia menajmin keberhasilan sebuah pernikahan. Pada pernikahan usia dini bisa saja berhasil, tapi juga bisa gagal. saat gagal, mereka yang meikah usia muda bisa punya waktu untuk menikah kembali. Bandingkan jika menikah usia matang lalu bercerai.

Itu saja gambaran yang biasa saya dengar dari beberapa teman yang sependapat tentang pernikahan usia muda. Mungkin benar, mungkin juga salah. Tergantung pada mereka yang menjalaninya.