Thursday, August 11, 2016

Traveling Sambil Berbagi Buku Itu Seru

Berbagi buku cerita anak saat traveling ke Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.

Beberapa tahun ini karena aktivitas sebagai blogger, saya kerap mendapat kesempatan untuk keliling Indonesia. Tapi saya merasa ada yang kurang jika hanya piknik, motret dan nulis di blog. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa buku cerita anak untuk disumbangkan kepada anak-anak di daerah yang menjadi obyek traveling.

Kebetulan saya bekerja di sebuah penerbitan buku. Saya bisa membeli buku di tempat saya bekerja dengan harga miring. Tidak hanya itu, saya juga sering kalap memborong buku di acara obral buku. Akhirnya buku yang sudah dibaca menumpuk di rumah. Padahal tidak semua buku layak menurut standar saya layak dikoleksi.

Biasanya saya menyumbangkan buku-buku yang tidak ingin saya koleksi sebagai give away di blog saya, kadang juga membagikannya di acara kumpul bersama teman-teman lama. Tahu saya di kerja di penerbitan, mereka selalu berharap saya membagikan buku. Tapi dipikir-pikir buat apa saya membagikan buku kepada mereka yang mampu membelinya. Bukankah akan lebih berguna jika saya membagikan kepada yang susah menjangkau utuk mendapatkan buku bacaan ataupun yang tidak mampu membeli buku?

Tahap yang saya lakukan untuk berbagi buku cerita kepada anak-anak saat traveling dimulai dari mengetahui  demografi obyek traveling. Terutama adat dan agama sekitarnya. Maklum, buku cerita yang saya miliki tidak hanya buku cerita umum, tapi juga buku cerita anak islam. Misalnya saat saya akan ke daearah yang mayoritas non-muslim seperti ke Sulawesi Utara ataupun ke pedalaman suku Dayak di Kalimantan Barat, saya tidak membawa buku-buku islami, melainkan yang umum. Sebaliknya jika mayoritas muslim seperti ke Sumatera Barat atau Lombok, saya akan membawa buku cerita anak bermuatan islami.

Berikutnya, saya melakukan packing buku-buku yang saya akan bawa. Buku-buku cerita anak cenderung berat, apalagi jika hardcover. Jadi saya membatasi sesuai kuota bagasi yang ditetapkan. Setelah dipacking ya ditimbang dengan bawaan yang masuk bagasi lainnya. Beberapa buku jika memungkinkan masuk ke tas yang saya bawa ke kabin.

Jika di obyek traveling yang saya tuju terdapat sekolah dasar maupun madrasah maka saya berusaha mencari informasi sekolah tersebut lebih dulu. Saat ini ada Facebook dan media sosial lainnya yang bisa membantu mencari contact person. Jika di obyek traveling tidak ada sekolah, maka saya putuskan untuk membagi buku cerita secara random. Misalnya saja bila bertemu kerumunan anak di mushola atau pun di pinggir jalan.

Anak-anak perbatasan Entikong, Kalimantan Barat bahagia
mendapat hadiah buku cerita anak

Intinya, saya selalu berusaha memberikan buku cerita itu langsung kepada anak-anak. Sebab, saya merasa senang saat melihat mata anak-anak itu berbinar ceria menerima buku cerita. Tentu saja saya berharap mereka membacanya, lalu mau berbagi meminjamkan buku cerita itu kepada teman-temannya.

Mengapa saya memberikan buku cerita kepada anak-anak saat traveling? Saya sendiri sangat suka membaca buku cerita sejak kecil. Aada beberapa manfaat yang saya rasakan, dan juga disepakati oleh teman-teman yang sama-sama suka membaca buku cerita sejak kecil.

Pertama, imajinasi saya terasah sejak kecil sampai sekarang. Hal ini saya rasakan manfaatnya ketika harus menulis cerita, menggambar, atau membuat ide-ide segar, merancang, atau membuat perencanaan yang out of the box.

Kedua, kemampuan berbahasa saya di atas rata-rata, baik tertulis maupun tulisan. Pada pelajaran menulis saya tidak pernah menemukan masalah. Begitu pula saat berbicara di depan umum. Ini disebabkan perbendaharaan kata di kepala saya sangat banyak sehingga tidak ada kesulitan untuk berbahasa.

Ketiga, buku-buku cerita banyak memberikan cara menyeselesaikan masalah dalam kehidupan ini. Sehingga jika dalam kehidupan nyata saya menemukan masalah, tidak pernah panik maupun depresi karena beberapa hal sudah saya temukan solusinya dari buku bacaan. Cara berpikir logis pun masuk ke kepala saya saat mengambil keputusan karena kerap membaca buku cerita.

Keempat, meskipun saya bukan penggemar buku cerita yang terlalu menggurui, tapi saya selalu menangkap pesan moral yang baik dari penulisnya. Nilai-nilai moral itu meresap ke dalam hati sehingga membantu saya menjadi manusia yang bermoral dan itu terus tertanam hingga dewasa.

Kelima, buku cerita anak juga merupakan sarana hiburan yang baik. Bisa dinikmati di manapun dan kapanpun. Jika sedang lelah karena terus belajar dan mengerjakan tugas sekolah, saya akan lebih tenang jika sudah mengalihkan perhatian kepada buku cerita anak-anak.

Nah, saya ingin hal-hal positif yang saya dapatkan dari kebiasaan membaca buku cerita di masa kana-kanak ini tertular kepada anak-anak lain di Indonesia ini. Saat ini, jika saya merindukan sebuah perlanan keliling tanah air , bukan karena kekangenan piknik, tapi ingin bertemu anak-anak dan membagikan buku cerita di rumah saya, lalu melihat mata mereka berbinar bahagia.