Tuesday, October 18, 2016

Hebat, Angkot Ini Sediakan Perpustakaan untuk Penumpang



Jalur angkutan kota (angkot) Soreang – Leuwi Panjang, Bandung, boleh dibilang banyak macetnya ketimbang lancar. Terutama karena kepadatan kendaraan pada pagi dan sore hari. Jangan tanya betapa kesalnya penumpang angkot saat menghadapi kemacetan.

Salah seorang pengemudi angkot bernama Muhammad Pian Sopian berusaha membuat hal yang menarik di angkotnya agar penumpang tidak kesal. Di bagian kaca belakang, dia merancang sebuah rak buku, dan meletakkan sejumlah buku agar bisa dibaca oleh penumpang. Terkesan sederhana tapi banyak manfaatnya.

“Saya ingin menaikkan minat baca masyarakat walaupun dengan hal kecil. Minimal saat penumpang turun dari angkot mendapat ilmu,” ujar Sopian yang sudah menjadi supir angkot sejak 15 tahun silam sebelum menikah.

Niatnya ini mendapat dukungan dari sang isteri, Elis Ratna, yang sama-sama pegiat literasi. Sekitar setahun silam Sopian mulai memikirkan mendirikan angkot pustaka. “Saat itu saya masih bawa mobil orang lain, jadi belum berani bikin angkot pustaka. Setelah beberapa bulan lalu ada hamba Allah yang menitipkan uang muka untuk mobil dan ikhlas mobilnya saya pakai fulltime, barulah saya kerjakan angkot pustaka,” tutur Sopian



Tidak banyak persiapan yang dilakukan, karena koleksi buku sudah dimilikinya walau tak banyak. “Persiapannya hanya masang rak di bagian belakang,” ujarnya. Rak yang dibuatnya jika penuh bisa menampung 80 eksemplar buku. Tapi Sopian membatasi sekitar 25 hingga 40 buku saja setiap hari.

Niat baiknya ini memang tidak melulu mendapat dukungan. Bahkan dari teman-teman supir angkot. “Teman-teman supir pada menertawakan saya,” senyumnya. Tapi bukan Sopian jika gentar. Dia terus saja menjlankan pustaka angkotnya.

Setiap kali dari spion dalam dia melihat penumpang mengambil buku dari rak buku, ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya. Apalagi ketrika penumpangnya kemudian asyik membaca. Terkadang rasa bahagia dan keharuan menyelimutinya.

“Belakangan, penumpang juga ada yang minta judul-judul atau tema tertentu.  Biasanya penumpang ibu- ibu lebih banyak meminta buku dengan tema keluarga dan resep makanan,” jelas Pian yang hingga saat ini belum mendapatkan donasi buku untuk menambah buku-bukunya dari pihak manapun.

Apakah Sopian pernah merasa takut buku-buku itu dicuri?

“Ah, saya nggak takut buku di angkot dicuri. Setidaknya kehilangan satu buku memberikan nutrisi buat otak si pelaku. Soalnya kan jarang maling yang tahu literasi. Daripada kehilangan uang yang habis hanya untuk kepuasan perut di pencuri,” kilah Pian.


Nah, jika ke Bandung, jangan lupa cari angkot pustaka ini. Siapa tahu ingin naik angkot sambil membaca buku koleksinya. Atau malah ingin memberi donasi buku?