Monday, October 10, 2016

Hindari Diabetes dengan Gaya Hidup Lebih Baik


Saya sempat menginap di rumah sakit saat awal didagnosa Diabetes
Saya masih ingat gejala-gejala diabetes itu makin terasa menjelang Ramadan tahun ini. Saya merasa haus dan lapar terus menerus sehingga saya bolak-balik makan dan minum sepanjang siang. Malam harinya saya merasa tidak kuat menahan keinginan untuk buang air kecil berkali-kali.

Saya sudah merasa ada yang tidak beres dengan tubuh saya. Sehingga saat bulan puasa tiba, saya mengerem makanan dan minuman manis masuk ke dalam tubuh. Tapi gejala lainnya kemudian menyusul. Gusi bengkak yang berpindah-pindah tak kunjung berhenti dan penglihatan yang makin menurun.

Akhirnya, sekalian kontrol tekanan darah tinggi, saya memeriksa kadar gula saya. dan hasilnya cukup mencengangkan karena  sudah melewati angka 370. Padahal itu dalam kondisi puasa. Jujur saja saya langsung merasa drop begitu dokter memberitahu saya kena diabetes. Pasca lebaran saya  masuk rumah sakit dengan ketakutan di hari-hari ke depan nanti.

Di rumah sakit saya harus disuntik insulin karena gula darah yang sulit turun. Sementara itu penglihatan mata saya kian memburuk. Hal-hal seperti ini yang membuat saya takut membayangkan hari-hari ke depan.

Bagaimana nanti saya bisa bekerja? Sementara saya adalah seorang editor dan penulis yang perlu sekali kondisi prima dalam penglihatan. Pastinya, saya juga akan sulit bepergian lagi sebagai travel blogger, karena harus memikirkan jadwal suntik, bawa obat-obatan, diet makanan. Ah, rasanya dengan kondisi seperti ini, saya harus mengubur juga karir sebagai food blogger yang sedang dirintis.

Dari semua ketakutan itu, paling saya cemaskan adalah bagaimana masa depan keluarga saya jika saya tidak bisa produktif dan malah terpuruk sakit karena diabetes. Hanyalah saya tulang punggung keluarga hingga saat ini.

Dukungan dan Pengetahuan

Senang bisa hadir di acara yang penuh manfaat ini.

Setelah empat di hari dirawat, saya diizinkan pulang karena karena kadar gula darah saya mulai turun. Tapi dokter membekali saya dengan suntikan insulin. Selama pengobatan, isteri saya adalah perawat terbaik. Dukungannya untuk kesembuhan saya luar biasa. 

Dukungan doa juga mengalir dari teman-teman blogger dan kawan media sosial. Tentunya ini menyemangati saya. Juga beberapa saran yang masuk, baik itu tips sampai pengobatan tradisional demi kestabilan gula darah saya.

Setelah seminggu menyuntik insulin dan kemudian hasilnya gula darah saya mencapai angka stabil di bawah 150, dokter menyarankan saya berhenti suntik insulin. Tinggal diet dan olahraga yang harus terus saya jaga. Bersamaan dengan gula darah yang stabil, lambat laun penglihatan saya semakin membaik. Gejala-gejala  diabetes lainnya pun hilang.

Meksipun kondisi kesehatan mulai membaik, tapi saya tidak mau lengah begitu saja. Saya berusaha mencari tahu sebanyak mungkin tentang diabetes ini  mulai dengan cara bertanya kepada dokter, ngobrol dengan penyintas diabetes lainnya, browsing di Internet, sampai hadir ke acara seminar dan talkshow ihwal diabetes. 

Nah, itu sebabnya ketika saya mendapat undangan dari Sun Life Financial Indonesia untuk hadir di acara Jumpa Blogger Sun Life, dengan tema Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes, saya tak lama untuk menyanggupi bersedia datang. Walaupun saya tinggal di Bandung, sementara acara berlangsung di Jakarta, tepatnya di Cafe XXI Plaza Indonesia. Untungnya lagi, acara di gelar Sabtu, 1 Oktober 2016, bukan di hari kerja.

Sun Bright untuk Kesehatan


Shierly Ge selaku Head of Marketing Sun Life Finacial Indonesia
 menjelaskan riwayat Sun Life dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)
 di Indonesia. 

Tahun lalu saya pernah mengikuti acara jumpa Blogger Sun Life di tempat yang sama dengan tema perencanaan keuangan keluarga, lebih khusus lagi untuk blogger. Temanya terkait langsung dengan saya sebagai blogger dan Sun Life sebagai lembaga yang mumpuni dalam soal finasial. Tapi entah mengapa tahun ini perusahaan penyedia layanan  jasa keuangan Internasional yang berbasis di Kanada ini temanya seperti melenceng jauh, ya?

Head of Marketing Sun Life Finacial Indonesia Shierly Ge di pembukaan acara menjelaskan kiprah tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang beroperasi di Indonesia sejak 1995 ini. Program CSR Sun Life diberi nama Sun Bright yang meliputi tiga bidang, yakni pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan. 

Acara kali ini terkait dengan Bright Sun untuk kesehatan mengingat catatan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014, terdapat 1 dari 10 penduduk usia 18 tahun ke atas menderita diabetes tipe A. Ini berarti sekitar 10% penduduk dunia tidak saja harus bergantung pada obat setiap hari, tetapi juga telah mengalami satu berisiko terhadap komplikasi yang disebabkan diabetes, seperti gangguan penglihatan, katarak, gagal ginjal, impotensi, penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, dan lain-lain.

"Sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memahami bahaya diabetes, Sun Life berusaha menyosialisasikan gaya hidup sehat, sekaligus dalam rangka Hari kesehatan Dunia 2016. Dalam hal ini juga bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI. Sebelumnya kami juga sudah mengadakan Jakarta Diabetes Walk," jelas Shierly secara singkat.

Cara 'CERDIK' Cegah Diabetes

dr Lily S. Sulistyowati, MM selaku Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.

Diabetes melitus (DM) bagi orang kebanyakan sering disebut kencing manis, suatu kondisi di mana kadar gula (glukosa) dalam darah tinggi. Demikian penjelasan awal dari pembicara pertama dr Lily S. Sulistyowati, MM selaku Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.  

Secara medis, diabetes dibagi menjadi dua tipe, yakni  Tipe 1, biasanya diderita sejak anak-anak dan tidak dapat dicegah, penyintas diabetes sangat bergantung hidupnya pada terapi insulin. Tipe 2, disandang sekitar 90% penderita diabetes sedunia, disebabkan pankreas menghasilkan insulin yang kurang memadai atau tubuh tidak mampu menyerap insulin dengan baik.

Menurut Dokter Lily, diabetes bukan hanya masalah kesehatan. "Secara ekonomi sangat berdampak bagi penderita dan keluarganya, bagi sistem jaminan kesehatan dan perekenomian negara akibat biaya kesehatan langsung, serta hilangnya produktivitas," jelasnya. Oleh karena itu, diabetes menjadi isu yang sangat relevan bagi masyarakat dunia, serta para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, lembaga kemasyarakatan, sektor swasta serta lembaga-lembaga antar pemerintah.

Berdasarkan data riset Kemenkes, ada empat faktor risiko perilaku penyebab terjadinya diabetes, yakni  kurang aktivitas fisik alias malas gerak (mager),  merokok, kurang konsumsi buah dan sayur, serta minum minuman beralkohol. Yang mengkhawatirkan, dari seluruh penduduk yang sakit, 2/3nya tidak menyadari bahwa mereka menandang penyakit tidak menular.

Dokter Lily memberi cara 'CERDIK' mencegah dan melawan diabetes. CERDIK di sini merupakan akronim dari hal-hal berikut ini.



Cek kesehatan secara rutin. Diagnosis dini dapat dilakukan melalui tes darah yang biayanya realtif murah.

Enyahkan asap rokok dan jangan merokok. Hal ini guna mencegah terjadinya komplikasi pada penyintas diabetes. Rokok mengandung nikotin yang bisa memperburuh pembuluh darah.

Rajin aktivitas fisik. Lakukan olahraga atau kegiatan fisik hingga mengeluarkan keringat dan denyut nadi meningkat.

Diet Seimbang. Perbanyak makan sayur. Gunakan takaran 5 + 4 + 1 untuk lemak, gula, dan garam, yakni 5 sendok makan lemak, 4 sendok makan gula dan 1 sendok teh garam.

Istirahat Cukup. Tidur selama 7-8 jam sehari. Raih tidur berkualitas.

Kelola Stres. Tidak semua stress buruk asal dikelola dengan baik.

Dokter Lily juga menekankan agar orangtua bisa memutus mata rantai diabetes keturunan dengan mengurangi kebiasaan seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan manis.


Perubahan Gaya Hidup dan Diabetes


Pakar diabetes Prof. Sidartawan Soegondo, MD, PdD, F.A.C.E

Pembicara kedua pakar diabetes Prof. Sidartawan Soegondo, MD, PdD, F.A.C.E memaparkan pengalamannya menghadapi kondisi diabetes di Indonesia. Naiknya jumlah penyintas diabetes umumnya karena berat yang berlebihan. Bahkan menurutnya, ibu-ibu yang melahirkan bayi di atas empat kilogram harus mewaspadai diabetes.

"Jadi jangan senang dulu kalau melahirkan bayi yang berat. Harus segera diperiksa gula darahnya," ujar profesor yang menyampaikan materi dengan ringan ini.

Angka diabetes Indonesia pada 2015 menempati peringkat ke tujuh di dunia. "Untuk prevalensi di Indonesia, provinsi tertinggi ada di Kalimantan Barat dan Maluku Utara.Jadi, bukan di Pulau jawa yang katanya suka makanan manis-manis. Sedangkan pre diabetes di Papua Barat terus meningkat karena perubahan gaya hidup," jelas Prof. Sidartawan.

Profesor mencontohkan orang yang dulu biasanya jalan kaki sekarang untuk jarak dekat saja memilih naik kendaraan bermotor. "Teknologi semakin canggih, orang malas bergerak. Dulu orang mau menyalakan teve atau pindah chanel harus beregrak, sekarang ada remote. Begitu juga telepon sekarang sudah ada di saku. Dulu kalau menerima telepon di rumah, orang harus belari dulu," paparnya.

Sebab itulah Sidartawan menyarankan agar mereka yang memiliki berat badan gemuk rajin memeriksakan diri untuk cek darah. Profesor menyebutkan angka maksimal gula darah yang berpuasa adalah 126, sedangkan yang sewaktu adalah 200.

"Kalau sudah sakit ya tidak bisa disembuhkan karena progresif. Yang bisa dilakukan adalah mencegah agar tidak terjadi komplikasi," terangnya.

Diabetes bisa menyebabkan komplikasi akut maupun menahun (kronis). Kompplikasi akut diabetes adalah hiperglikemi (gula darah naik dengan cepat) maupun hipogilkemi (gula darah turun dengan cepat). Kondisi ini menyebabkan kematian lebih didni bagi penyandang diabetes. Sedangkan komplikasi kronis dari diabetes menuirut Profesor Sidartawan dibagi menjadi dua, yakni Makroangiopati dan Mikroangiopati.

Makroangiopati (kerusakan pembuluh darah besar)
  • Gangguan pada pembuluh darah jantung
  • Gangguan pada pembuluh darah tepi yang dapat mengakibatkan luka pada telapak kaki yang sulit sembuh
  • Gangguan pada pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan stroke

Mikroangiopati (kerusakan pembuluh darah kecil)
  • Retinopati diabetik yang dapat mengakibatkan kebutaan
  • Nefropati diabetik (penyakit ginjal diabetes) yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi ginjal
  • Neuropati ( Kelainan saraf)


Salah satu gejala diabetes yang mudah dikenal adalah rasa kebas di bagian kaki. "Sehingga biasanya yang diabetes tidak bisa membedakan mana sepatu yang pas atau sempit," urainya. Tapi biar yakin tentu saja langsung memeriksa gula darah. Karena pencegahan sejak dini sangat penting.


Lebih Baik

Selesai acara saya merasakan banyak sekali pengetahuan yang berhasil saya serap. Saya tak terlalu memusingkan hadiah yang bertaburan tapi tak satu pun jatuh ke pangkuan saya. Saya fokus kepada materi yang akan banyak membantu saya sebagai penyintas diabetes.

Beberapa materi tentang pengelolaaan kesehatan sama persis dengan yang dikatakan dokter saya. Melakukan aktivitas fisik misalnya, sudah saya lakukan joging setiap hari. Tapi saya kerap cemas jika hujan turun karena kesempatan untuk jogging di outdoor berkurang. Ternyata darai paparan Dokter Lily beraktitas fisik tak melulu jogging, asal bergerak hingga berkeringat pun bisa dijadikan pengganti, misalnya dengan bersih-bersih rumah atau mencuci kendaraan.

Diet makanan yang cenderung saya takuti agak berlebihan, dari acara ini saya mulai mengerti bahwa bukan berarti saya harus menjauhi semua jenis makanan. Sepanjang porsinya tidak berlebihan dan tahu kandungan di dalamnya, maka saya masih bisa menyantap makanan tersebut. Tentu saja ini berarti saya tidak usah berhenti jadi food blogger, tapi berganti ke arah lebih baik menjadi healthy food blogger, misalnya.

Pastinya, saya akan tetap menjaga gaya hidup saya yang sudah baik, dan mengubah gaya hidup yang kurang baik menjadi lebih baik. Berhenti merokok, begadang yang tidak perlu, atau pun jajan kuliner semaunya. Jujur saja, semua ini saya lakukan tidak hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk anak dan isteri yang tentunya masih sangat bergantung hidupnya kepada saya. Ya, keluargalah yang menjadikan saya kuat menghadapi diabetes.

Mengubah gaya hidup lebih sehat demi keluarga.