Monday, November 28, 2016

Mengintip Festival Arfak Lewat Lensa Raiyani

Tarian Tumbu Tana, tarian tradisional khas masyarakat 

Pegunungan Arfak menjadi sajian menarik unik dan energik.

Menyaksikan sebuah acara festival budaya merupakan impian para pecinta seni budaya seperti saya. Apalagi budaya  di segala penjuru Indonesia, terutama yang jauh dari Pulau Jawa, seperti Festival Arfak di Anggi, ibukota Pegunungan Arfak, provinsi Papua Barat. Sungguh, mendengar namanya saja selalu terbersit impian untuk ke sana.

Sayangnya, waktu belum berpihak kepada saya untuk mengunjungi Festival Arfak yang senantiasa digelar pada pertengahan November setiap tahunnya. Untungnya saya bisa melihat kegiatan tersebut melalui bidikan lensa teman-teman travel photographer yang menakjubkan. Salah satu photographer favorit saya yang sudah dua kali ke Festival Arfak adalah Raiyani Muharramah.


Para wanita dan pria, meriah ramaikan Festival Arfak 2016 

di Kabupaten Pegunungan Arfak. 


Secara keseluruhan kawasan Pegunungan Arfak membentang seluas 68.325,00 hektar, terbagi menjadi tiga tipe ekosistem hutan yang beragam:  hutan hujan dataran rendah (lowland forest), hutan hujan kaki gunung (foothill forest) dan hutan hujan lereng pegunungan (lower montane forest). Perbedaan zona ekosistem itu membuat kawasan Pegunungan Arfak kaya akan keanekaragaman hayati bernilai tinggi.

Delapan  distrik masuk wiayah Pegunungan Arfak, yakni Menyambouw, Membey, Hingk, Tanah Rubuh, Warmare, Ransiki dan Oransbari yang masuk dalam wilayah kabupaten pemekaran Manokwari Selatan.

Raiyani Muharramah dengan warga setempat.

Pegunungan Arfak  mayoritas dihuni  suku besar Arfak yang terdiri dari 4 sub suku: Hatam, Meyah, Moire dan Soub. Keempat sub suku ini tersebar di 10 distrik  seperti: Anggi, Anggi Gida, Didohu, Minyamouw, Sururey, Taige, Testege, Catuouw, Hingk dan Membew

Pasar darurat. Kabupaten Pegunungan Arfak yang baru berumur 4 tahun ini masih terus membangun. 

Hasil pertanian berupa sayur mayur di jual di pusat Kota Anggi


Keunikan foto-foto Raiyani ini, membuat yang melihatnya ikut merasakan suasana di Pegunungan Arfak dan ingin mewujudkan segera ke sana. Juga pemilihan sudut pengambilan gambar yang amat menarik. Apalagi ketika menujukkan unsur budaya lokal. Sangat terasa kekuatan magis yang menyelubungi atmosfir di Fastival Arfak.


Tradisi bakar babi dengan kulit kayu, menjadi tradisi unik di daerah Pegunungan Arfak. 

Dengan latar belakang rumah kaki seribu yang telah di nobatkan sebagai benda cagar budaya oleh Unesco

Setiap caption yang disertakan papada foto pun memberi informasi yang beguna. Jadi tidak membuat penikmat fotonya terus manggut-manggut. Jika ingin menikmati juga banyak foto-foto perjalanan Raiyani menjelajah Indonesia bisa mampir di akun instagramnya di @raiyanim


Noken asli papua ini telah disyahkan menjadi salah satu benda cagar budaya oleh Unesco. Dalam festival arfak yang berlangsung 12-16 November di tampilkan pula proses pembuatannya 



Foto-foto: Raiyani Muharramah